BNPB: Warga di 270 Kabupaten Kota Rawan Longsor
Rabu, 27 Maret 2013 | 08:07 WIB
Jakarta - Sebanyak 124 juta jiwa warga Indonesia saat ini tinggal di daerah rawan longsor. Oleh karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga ini agar memiliki kemampuan antisipasi dan proteksi longsor.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, warga yang rentan itu tersebar di 270 kabupaten/kota dengan tingkat kerawanan longsor sedang hingga tinggi. Itu artinya ada sebanyak 124 juta jiwa yang kondisinya rata-rata mirip dengan kejadian longsor yang menimpa warga Cililin, Bandung, Jawa Barat, saat ini.
"Apakah semua juga harus direlokasi, tentu tidak. Yang diperlukan adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan antisipasi dan proteksi terhadap longsor. Mereka memiliki kemampuan mengantisipasi seperti saat terjadi hujan deras bersiap atau mencari tempat aman dari ancaman longsor," kata Sutopo, dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (26/3), terkait dengan bencana longsor di Cililin saat ini.
Menurutnya, memiliki kemampuan dengan membangun konservasi tanah dan air, seperti menanam pohon berakar panjang yang sejajar kontur, terasering, saluran searah lereng, dan sebagainya.
Ironisnya, kata Sutopo, bencana ini juga terkait dengan kemiskinan. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor sebagian besar adalah penduduk dengan ekonomi menengah ke bawah, sehingga kemampuan memproteksi diri juga rendah.
Mereka melakukan budidaya pada daerah-daerah perbukitan yang rawan longsor. Sementara produktivitas lahan juga rendah. Akibatnya makin meningkatkan kerentanan longsor, memiskinkan dan mengancam jiwa mereka ketika terjadi bencana longsor.
"Jadi di Indonesia terdapat lingkaran setan antara kemiskinan dan bencana," katanya.
Hal ini, kata dia, tentu menjadi tugas bersama, baik pemerintah, masyarakat dan dunia usaha. Peta risiko bencana longsor hendaknya dijadikan acuan dalam penataan ruang. Sosialiasi diintensifkan dan lingkungan ditingkatkan kelestariannya.
Pembangunan ekonomi masyarakat yang berbasis lingkungan dengan penanaman tanaman keras yang memiliki ekonomi tinggi perlu ditingkatkan. Agroforestri dapat menjadi model pengembangan bagi
daerah-daerah rawan longsor.
Ia menjelaskan, berdasarkan peta bahaya longsor, di Desa Mukapayung, Cililin, termasuk dalam
zona bahaya tinggi. Longsor. Beberapa kejadian longsor di daerah tersebut pernah terjadi, seperti pada tahun 2001, 2009, dan 2012.
Penyebab utama longsor adalah curah hujan dan pengaruh aktivitas manusia. Permukiman dibangun di bawah lereng perbukitan dengan kemiringan curam hingga sangat curah, yaitu berkisar antara 40-60
derajat. Sebagian besar perbukitan dibudidayakan menjadi lahan pertanian tanaman semusim.
Nyaris tidak ada hutan sama sekali. Hutan telah dikonversi menjadi lahan pertanian. Pengolahan tanaman semusim menyebabkan tanah menjadi gembur dan air mudah meresap ke tanah.
Seperti halnya kejadian longsor di tempat lain, terjadinya sumbatan saluran atau genangan air di bagian atas bukit menjadi pemicu longsor. Air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah.
Lapisan tanah menjadi jenuh dan di bagian tanah keras atau batuan menjadi bidang peluncur sehingga longsor dan menghantam rumah-rumah yang dibangun di bawah bukit. Tanaman keras yang ditanam di perbukitan umumnya adalah tanaman yang bukan berakar panjang sehingga menambah
beban dari struktur tanah.
Berdasarkan laporan masyarakat dan aparat di Kecamatan Cililin, pada 26/2/2013 dirasakan gempa yang bersumber dari gempa 5,3 SR yang berpusat di darat di baratdaya Cianjur dan dirasakan hingga di
Bandung. Kondisi ini dapat memberikan pengaruh terhadap berkurangnya kekuatan struktur tanah atau terjadi retakan tanah yang kemudian terisi air saat hujan sehingga memicu longsor.
Lantas bagaimana solusi bagi masyarakat? Idealnya memang relokasi. Tetapi ini sulit dilakukan karena berkaitan dengan matapencaharian dan sosial budaya masyarakat. Relokasi adalah pilihan terakhir dalam penanggulangan bencana karena faktanya sulit masyarakat dipindahkan.
Untuk diketahui hujan deras yang terjadi pada Senin (25/3/) sejak pukul 03.00 Wib telah menyebabkan longsor di Kampung Nagrok, Desa Mukapayung, KecCililin. Panjang longsor 900 meter dan lebar 200 meter. Sebanyak 7 rumah masih tertimbun di bawah longsor.
Korban meninggal telah mencapai 10 orang, dan 7 dinyatakan masih hilang. Sebanyak 6 orang luka, dimana 1 orang masih dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung, dan lainnya rawat jalan.
Pengungsi menempati rumah saudaranya. Posko, dapur umum dan pos kesehatan didirikan di rumah penduduk. Logistik tersedia mencukupi hingga 1 minggu mendatang. Penanganan darurat bencana longsor Cililin masih dilakukan hingga Rabu (27/3) pagi ini.
Bupati Bandung Barat telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari, yaitu dari 25 sampai 31 Maret 2013. Fokus utama adalah pencarian korban yang tertimbun longsor dan pengungsi. Masa tanggap darurat dapat diperpanjang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Untuk pencarian korban dikerahkan sekitar 150 personil tim gabungan dari TRC BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Basarnas, PMI, Tagana, SKPD, relawan dan masyarakat. Pencarian hanya dapat dilakukan secara manual. Alat berat tidak dapat dikirimkan ke lokasi karena akses medan yang sulit.Kondisi jalan sempit, dan menanjak sehingga sulit melalui jalan tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




