Mesin-mesin Berat Crane Bersihkan Lokasi Bencana di Bangladesh

Selasa, 30 April 2013 | 00:38 WIB
HA
FB
Penulis: Happy Amanda Amalia | Editor: FMB
Gedung garmen yang runtuh di Dhaka, Bangladesh, Rabu (24/4).
Gedung garmen yang runtuh di Dhaka, Bangladesh, Rabu (24/4). (EPA)

Savar, Bangladesh – Mesin-mesin berat crane mulai membersihkan puing-puing komplek pabrik garmen yang hancur di Bangladesh setelah "penyelamatan terakhir" dari bencana industri paling mematikan di negara itu.

Perdana Menteri Sheikh Hasina pun melakukan kunjungan pertamanya ke beton-beton yang berantakan yang dulunya gedung pabrik berlantai delapan. Para pemimpin penyelamatan yang telah berusaha keras mengatakan mereka tidak berharap bisa menemukan ada orang lain lagi yang selamat.

Jumlah korban yang tewas pun telah dikonfirmasi mencapai 381 orang menurut tentara, yang telah mengawasi upaya penyelamatan.

Tapi jumlah korban diperkirakan akan meningkat karena peralatan berat sedang digunakan. Para penyelamat sebelumnya sudah berhati-hati menggunakan segala sesuatu kecuali bor tangan, karena khawatir mesin tersebut bisa membuat banyak batu yang runtuh menimpa korban.

"Tim penyelamat telah menghentikan pencarian korban selamat secara manual," kata juru bicara militer Shahinul Islam. "Dua crane besar sudah mulai bekerja untuk membersihkan lempengan-lempengan besar. Sejauh ini sebuah lempengan seberat 12 ton telah dipindahkan. Mereka akan memindahkan lebih dari tujuh lempengan pada hari ini," tambahnya.

Tim penyelamat, yang telah berjuang melawan bau mayat yang membusuk, merasa sedih karena kematian seorang perempuan yang terjadi pada Minggu (28/4) malam. Perempuan pekerja garmen tersebut menjadi simbol kegigihan karena ia berjuang untuk hidup namun akhirnya tim penyelamat tidak mampu menyelamatkannya karena kewalahan akibat kebakaran yang terjadi di lokasi kejadian.

Petugas pemadam kebakaran terlihat menangis dalam siaran televisi secara langsung setelah seorang janda diidentifikasi sebagai Shahnaz, yang berjuang dengan berani menjadi simbol harapan di tengah bencana, kalah dalam perjuangannya.

"Kebakaran terjadi saat kami memotong balok untuk mengeluarkan seseorang yang kami percayai sebagai korban terakhir yang tersisa dari bangunan yang runtuh. Kami berhasil memadamkannya, tapi ketika kami kembali kami melihat dia telah meninggal," kata Ahmed Ali kepada AFP.

"Dia adalah seorang wanita pemberani dan berjuang hingga akhir. Kami telah bekerja selama 10-11 jam pada hari ini hanya untuk mengeluarkan dia dalam keadaan hidup. Kami mengambil tantangan itu tapi kami kalah," tambahnya.

Tiga petugas penyelamat juga terluka dalam kebakaran yang dipadamkan dalam hitungan menit, kata direktur petugas pemadamkebkaran Zihadul Islam.

Petugas pemadam kebakaran Abul Khyer, yang berbicara pada Shahnaz dalam upaya penyelamatan, mengatakan dia memiliki seorang putra berusia 18 bulan. "Dia berjuang demi anak itu ... Dia bilang kau saudaraku, jangan tinggalkan aku sendiri."

Salah satu pemimpin dari operasi penyelamatan mengatakan pada Senin, bahwa layanan darurat akan "melakukan segala sesuatunya dengan hati-hati" jikalau ada orang lain yang bisa bertahan hidup sejak bangunan itu runtuh pada pukul 09.00 waktu setempat pada Rabu.

"Kami telah memulai kerja di tahap kedua setelah berasumsi tidak ada yang selamat," ungkap Brigadir Jenderal Ajmal Kabir kepada wartawan.

Tidak diketahui berapa banyak orang yang terperangkap di dalam reruntuhan itu dan pihak berwenang juga belum merilis daftar nama-nama orang yang hilang, meskipun ratusan keluarga serta kerabat berkumpul di lokasi tersebut, banyak dari mereka yang menggenggam foto-foto orang yang mereka cintai, menantikan kabarnya.

Asap hitam masih terlihat mengepul dari reruntuhan pada Senin pagi waktu setempat di komplek itu, yang berada di luar ibukota Dhaka.

Ribuan pekerja garmen Bangladesh keluar dari pabrik-pabrik mereka pada Senin, menuntut hukuman mati bagi pemilik blok menara tersebut.

Sementara sejauh ini sudah tujuh orang yang ditangkap karena kejadian itu, termasuk pemilik keseluruhan komplek, taipan properti Sohel Rana yang ditangkap saat ia mencoba menyebrang ke India dan diterbangkan kembali ke Dhaka.

Diantara mereka juga ada yang menghadapi tuduhan menyebabkan "kematian akibat kelalaian" yakni dua teknisi yang diduga telah memberikan informasi bahwa gedunag dalam keadaan bersih pada Selasa malam setelah retakan-retakan besar ditemukan di dinding.

Perdana Menteri Sheikh Hasina, telah berjanji untuk melacak siapapun yang bertanggungjawab atas bencana itu, telah mengunjungi beberapa yang terluka di dekat Rumah Sakit Enam Medical College pada Senin sebelum menuju ke zona bencana. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon