Jika BBM Naik, Harga Properti Hanya Naik Tipis
Jumat, 21 Juni 2013 | 14:19 WIB
Jakarta - Kalangan pengembang menilai penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada Juni 2013 tidak akan berdampak signifikan terhadap kenaikan harga rumah.
Pasalnya, harga properti telah naik cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir, sehingga pengembang bisa meredam lonjakan harga.
Menurut Direktur Utama Duta Putra Land Group Herman Sudarsono, kenaikan harga rumah akibat naiknya harga BBM memang ada namun besarnya tidak signifikan.
Dia mengungkapkan, kalangan industri telah mengantisipasinya dengan menyesuikan harga produk mereka dengan lonjakan harga BBM.
"Sebelum harga BBM benar-benar naik, para pengembang sudah terlebih dahulu menaikkan harga. Dengan demikian, saat ini kenaikannya lebih moderat," ujar Herman saat ditemui di Jakarta, Rabu (19/6).
Herman menyatakan, sebagai pengembang yang banyak mengembangkan hunian kelas menengah ke bawah, Duta Putra Land Group berusaha untuk menjaga harga tetap stabil di kisaran Rp 100-300 juta per unit.
"Segmen ini memiliki ceruk besar dengan permintaan yang tinggi terutama dari kalangan end user," ujar dia.
Senada, Managing Director Ciputra Group Harun Hajadi membenarkan, kenaikan tarif listrik dan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mendongkrak harga properti secara drastis. Meskipun harga naik, asalkan permintaan dari konsumen tetap tinggi, pasar properti nasional tetap booming.
"Penyesuaian harga tentu ada karena listrik dan BBM adalah komponen utama dalam membuat bahan material bangunan. Namun, saya prediksikan tidak ada kenaikan harga signifikan pada properti," ujar Harun saat dihubungi Investor Daily.
Dia menuturkan, sejak isu harga BBM bersubsidi hendak naik pada akhir 2012, pengembang telah ramai-ramai menaikkan harga rumah dan ruang komersial.
"Harga sudah terlanjur melambung, sehingga pasar properti diperkirakan mampu menahan harga saat kenaikan BBM terealisasi," jelas Harun.
Direktur PT Pakuwon Jati Tbk Minarto menerangkan, booming pasar properti nasional mencapai puncaknya pada 2013. Sebab, pada 2014 akan sedikit melambat karena adanya pemilihan umum (Pemilu).
Suku bunga yang relatif rendah dan pasar domestik yang kuat menjadikan sektor properti nasional tetap bertahan dari krisis global.
"Inflasi bulan ini akibat kenaikan tarif listrik dan BBM bersubsidi tidak berdampak besar. Sebab, properti Pakuwon baik mal dan ruang kantor sudah memakai bahan bakar non subsidi," jelas dia.
Selain itu, kenaikan tarif listrik juga sudah diantisipasi karena PLN sudah menaikkan tarif secara bertahap setiap tiga bulan.
"Kuartal I-2013 naik 11% dan April-Juni sekitar 8%. Jadi harga properti sudah ada penyesuaian dari pengembang," kata dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




