Tambang Terbuka Freeport Diizinkan Berproduksi Kembali

Minggu, 23 Juni 2013 | 13:29 WIB
RP
B
Penulis: Rangga Prakoso | Editor: B1
Ratusan pekerja PT Freeport Indonesia berkumpul di Mile 72 menanti ditemukannya rekan mereka yang terperangkap longsor di Terowongan Big Gossan, Tembagapura, Timika, Papua.
Ratusan pekerja PT Freeport Indonesia berkumpul di Mile 72 menanti ditemukannya rekan mereka yang terperangkap longsor di Terowongan Big Gossan, Tembagapura, Timika, Papua. (Antara/Spedy Paereng)

Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah memberi izin kepada PT Freeport Indonesia untuk memulai kembali kegiatan operasional di tambang terbuka (open pit) dan melakukan pengolahan.

Wakil Menteri ESDM Susilo Siswoutomo mengatakan, izin itu diterbitkan setelah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap laporan hasil investigasi tim independen mengenai penyebab runtuhnya atap kelas fasilitas pelatihan tambang bawah tanah Freeport di area Big Gossan, Timika Papua bulan Mei lalu.

"Izin diterbitkan sejak Jumat kemarin. Tapi bukan untuk underground (tambang bawah tanah)," kata Susilo di Jakarta, Minggu (23/06).

Susilo menjelaskan hasil evaluasi tim independen menyatakan tambang terbuka Freeport aman untuk dilakukan kegiatan operasional. Penerbitan izin ini juga berdasarkan permintaan dari Bupati mMmika yang melayangkan surat berisi permohonan izin agar kegiatan produksi Freeport dapat kembali dilakukan. Selain itu, PT Freeport Indonesia pun sudah mengajukan izin agar open pit diperbolehkan untuk dibuka.

"Banyak pertimbangan lainnya, tapi intinya sudah bisa beroperasi lagi," jelasnya.

Sementara itu Juru bicara Freeport Daisy Primayanti menyampaikan apresiasinya atas persetujuan yang diberikan untuk kembali melakukan produksi di tambang terbuka. Dia juga menyatakan akan menggunakan hasil investigasi yang dilakukan oleh tim independen, inspektur tambang Kementerian ESDM dan tim internal Freeport untuk melakukan perbaikan sebagai penguatan komitmen perusahaan terhadap standar terbaik keselamatan kerja pertambangan.

"Insiden itu belum pernah terjadi dalam sejarah Freeport Indonesia dan kami berduka atas kepergian rekan-rekan kami. Kami berkomitmen untuk melakukan segala upaya yang dibutuhkan demi menjamin keselamatan kerja seluruh rekan pekerja," jelasnya.

Tim independen yang dipimpin oleh Guru besar Teknik Pertambangan ITB Ridho Wattimena menyerahkan laporan hasil investigasi ke Menteri ESDM pada 17 Juni kemarin. Dalam laporan itu tim sudah meneliti area tambang terbuka dan menyatakan wilayah tersebut aman. Sedangkan untuk wilayah tambang bawah tanah masih harus dilakukan beberapa kajian terlebih dahulu.

Atap fasilitas pelatihan tambang bawah tanah Freeport di area Big Gossan, Timika Papua, runtuh pada 14 Mei lalu. Saat kejadian, terdapat 38 karyawan Freeport yang mengikuti pelatihan di fasilitas tersebut. Proses evakuasi korban insiden runtuhnya terowongan tersebut baru selesai 21 Mei. Akibat insiden ini, sebanyak 28 tewas tertimbun runtuhan terowongan, 5 pekerja mengalami luka berat dan 5 pekerja luka ringan.

Kementerian ESDM sebelumya telah melayangkan keterangan tertulis yang belum mengizinkan Freeport melakukan kegiatan produksi di tambang terbuka. Namun untuk aktivitas tambang seperti kegiatan maintenance atau perawatan masih diperbolehkan di area Grassberg. Perawatan itu berupa pengupasaan tanah yang menutup bijih smelter.

Menurut data, produksi emas Freeport kuartal pertama tahun ini yaitu mencapai 212 ribu ons troi. Sementara untuk angka penjualannya hanya 191 ribu ons troi pada periode yang sama tahun ini. Penerimaan negara yang tertunda akibat dihentikannya produksi Freeport yaitu mencapai AS$ 1,82 juta per hari.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon