Produksi Tas Lokal
Kendala Tas Kulit Lokal
Selasa, 4 Oktober 2011 | 10:46 WIB
Kesulitan pemasaran menghambat perkembangan.
Perajin tas berbahan baku kulit di Dusun Babadan, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta terkendala pemasaran, sehingga merasa sulit untuk berkembang.
"Kami tidak mengetahui bagaimana jalur anyaman tas kulit ini dipasarkan, sehingga kami bekerja hanya sesuai permintaan," kata pemilik industri anyaman kulit di Sitimulyo, Heri Triastuti di Bantul, Selasa (4/10).
Menurut dia, anyaman kulit yang dihasilkan selama ini dipasarkan di sentra kerajinan kulit di Manding, Sabdodadi Bantul dan sebagian kecil masayarakat sekitar melaui trading atau perantara.
"Kami kesulitan memasarkan langsung kepada pembeli, sehingga kami bekerja sesuai permintaan dari trading yang sudah mempunyai langganan," katanya.
Ia mengatakan, padahal hasil anyaman tersebut laku keras dipasaran, karena setiap bulan industrinya mampu menyetor barang kerajinan hingga sebanyak 1.500 buah, dengan harga dengan mulai Rp120.000 hingga Rp190.000 per buah.
"Kalau dihitung omzet yang dihasilkan setidaknya mencapai Rp15 juta hingga Rp17 juta per bulan," katanya.
Ia mengatakan, bahan baku kulit didatangkan dari sebuah perusahaan kulit di daerah setempat, Bantul yang dibeli dengan harga Rp5.000 per feet (22 cm x 22 cm).
"Untuk membuat sebuah anyaman tas kulit membutuhkan sekitar lima hingga sembilan feet," katanya.
Ia mengatakan, usaha yang digeluti sejak tahun 2002 lalu awalnya berdiri dengan dua orang rekan kerja, sementara ketrampilan menganyam kulit tersebut belajar secara otodidak.
"Saat ini kami telah mempekerjakan 22 orang dari warga sekitar, untuk merekrut karyawan saya terlebih dulu harus mengajari teknik agar cepat terbiasa," katanya.
Ia mengatakan, industri anyaman ini mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, rata-rata yang dihasilkan seorang karyawan sebesar Rp20.000 hingga Rp60.000 tergantung kecekatan dan keuletan.
"Kami berharap ada upaya promosi melalui event maupun pameran dari pemerintah setempat agar produk lokal ini dikenal secara luas, sehingga semakin laku keras di pasaran," katanya.
Perajin tas berbahan baku kulit di Dusun Babadan, Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta terkendala pemasaran, sehingga merasa sulit untuk berkembang.
"Kami tidak mengetahui bagaimana jalur anyaman tas kulit ini dipasarkan, sehingga kami bekerja hanya sesuai permintaan," kata pemilik industri anyaman kulit di Sitimulyo, Heri Triastuti di Bantul, Selasa (4/10).
Menurut dia, anyaman kulit yang dihasilkan selama ini dipasarkan di sentra kerajinan kulit di Manding, Sabdodadi Bantul dan sebagian kecil masayarakat sekitar melaui trading atau perantara.
"Kami kesulitan memasarkan langsung kepada pembeli, sehingga kami bekerja sesuai permintaan dari trading yang sudah mempunyai langganan," katanya.
Ia mengatakan, padahal hasil anyaman tersebut laku keras dipasaran, karena setiap bulan industrinya mampu menyetor barang kerajinan hingga sebanyak 1.500 buah, dengan harga dengan mulai Rp120.000 hingga Rp190.000 per buah.
"Kalau dihitung omzet yang dihasilkan setidaknya mencapai Rp15 juta hingga Rp17 juta per bulan," katanya.
Ia mengatakan, bahan baku kulit didatangkan dari sebuah perusahaan kulit di daerah setempat, Bantul yang dibeli dengan harga Rp5.000 per feet (22 cm x 22 cm).
"Untuk membuat sebuah anyaman tas kulit membutuhkan sekitar lima hingga sembilan feet," katanya.
Ia mengatakan, usaha yang digeluti sejak tahun 2002 lalu awalnya berdiri dengan dua orang rekan kerja, sementara ketrampilan menganyam kulit tersebut belajar secara otodidak.
"Saat ini kami telah mempekerjakan 22 orang dari warga sekitar, untuk merekrut karyawan saya terlebih dulu harus mengajari teknik agar cepat terbiasa," katanya.
Ia mengatakan, industri anyaman ini mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar, rata-rata yang dihasilkan seorang karyawan sebesar Rp20.000 hingga Rp60.000 tergantung kecekatan dan keuletan.
"Kami berharap ada upaya promosi melalui event maupun pameran dari pemerintah setempat agar produk lokal ini dikenal secara luas, sehingga semakin laku keras di pasaran," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




