Memoria Dwi Prasita

Lebih Suka Makanan Tradisional

Jumat, 5 Juli 2013 | 10:05 WIB
AM
AB
Penulis: Abdul Muslim | Editor: AB
Memoria Dwi Prasita, Senior Brand Manager Rexona.
Memoria Dwi Prasita, Senior Brand Manager Rexona. (Istimewa)

Jika diberikan pilihan menu makanan barat atau tradisional Indonesia, misalnya pizza atau gado-gado, mana yang akan Anda pilih? Mungkin Anda cenderung memilih pizza, yang merupakan makanan asal Italia untuk dimakan. Namun, jika itu ditanyakan kepada Senior Brand Manager Rexona PT Unilever Indonesia, Memoria Dwi Prasita, dia lebih memilih gado-gado.

Memoria, atau lebih akrab dipanggil Memor memang mengaku lebih menyukai makanan tradisional asli Indonesia daripada masakan luar negeri. Dia menyukai makanan dari berbagai daerah di Tanah Air, antara lain petis dari Surabaya, lumpia dari Semarang, gudeg Yogyakarta, pempek Palembang, dan sop kaki kambing.

"Saya lebih menyukai makanan tradisional karena cita rasanya yang khas dan berbeda. Mungkin karena bumbunya yang kaya rempah, sehingga lebih nikmat dimakan dan berbeda dengan makanan luar yang umumnya instan," ujar Memor di Jakarta, Selasa (2/7).

Menurut perempuan kelahiran Surabaya dan besar di Jakarta ini, hobi terhadap makanan tradisional semakin disadarinya setelah bekerja dan memiliki relatif banyak uang, sehingga sebenarnya bisa membeli makanan apa pun yang diinginkan. Namun, makanan tradisional asli Nusantara dinilainya lebih nikmat di lidahnya, sehingga tetap menjadi pilihan utama.

Tapi, Memor juga tetap mengakui, terkadang masih memakan masakan asal luar negeri walaupun bukan merupakan pilihan utama. Hobi makan tradisional tidak menjadi masalah di keluarganya. Apalagi, suaminya yang berasal dari keturunan Sumatera menyukai makanan apa saja.

"Kalau suami saya, makanan apa pun akan dilahapnya, asalkan halal," tuturnya sambil tertawa kecil.

Saat ini, Memor tinggal di kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, bersama suami dan anak perempuannya yang berumur 4,5 tahun. Dia punya waktu rata-rata dua hari, Sabtu dan Minggu, untuk dihabiskan bersama keluarganya.

Namun, dia tidak terlalu menentukan waktu akhir pekan bersama akan dihabiskan di rumah atau di luar rumah. "Biasanya, Sabtu pagi, saya mengantar anak perempuan untuk les balet. Setelah itu, saya bersama suami dan anak bisa berkunjung ke rumah orangtua atau mertua, atau bisa juga jalan-jalan ke mal," ucapnya.

Dia mengaku sangat dekat dengan ayah-ibunya maupun mertua, dan teman-temannya, baik di lingkungan rumah maupun di kantor. Mereka dinilainya telah berperan besar dalam membentuk hidup maupun membantu perkembangan kariernya. "Saya selalu berusaha positif dalam menjalani segala sesuatu," imbuh Memor.

Karier dan Kantor
Sementara itu, dia mencapai posisinya saat ini sebagai senior brand manager Rexona-PT Unilever Indonesia berawal dari jenjang yang paling bawah, yakni staf. Awalnya, dia masuk kerja di Unilever karena coba-coba dan mengikuti teman alumnus Universitas Indonesia (UI). Namun, akhirnya hingga delapan tahun bekerja, dia masih bertahan di perusahaan yang sama.

Lulusan Teknik Industri UI Agustus 2003 ini mulai masuk kerja di Unilever pada Februari 2004 sebagai staf management trainee. Selama satu tahun, dia di posisi tersebut ditugaskan perusahaan untuk memasarkan produk Royco ke para pedagang di pasar-pasar tradisional. Setelah itu, dia diangkat sebagai asisten manajer selama 1,5 tahun untuk bumbu masak Royco .

Selanjutnya, kariernya meningkat jadi asistent brand development regional Unilever untuk wilayah Indonesia, Thailand, Filipina, dan Vietnam dan ditugaskan selama setahun. Setelah itu, Memor diangkat menjadi brand building manager Kecap Bango, dan pada produk yang sama dipromosikan sebagai senior brand manager. Selama setahun, dia sempat menangani produk Ponds Cleanser dan menjadi senior brand manager Rexona mulai Oktober 2011.

"Saya kerasan di Unilever karena selalu berpindah-pindah divisi, sehingga banyak belajar hal-hal baru, baik produk, pasar, dan konsumennya. Dulu, rata-rata dalam 1-2 tahun sekali, saya pindah bagian, jadinya dinamis dan tidak jenuh," katanya.

Sementara itu, perusahaan tempatnya bekerja juga sangat seimbang dalam menuntut kewajiban maupun hak kepada karyawannya. Karena itu, sebagai wanita, Memor pun sangat menikmati bekerja di Unilever dari dulu masih sendiri sampai saat ini sudah bersuami dan punya anak satu. Bahkan, dia sedang berbahagia karena mengandung anak kedua sekitar dua bulan.

"Satu di antaranya, Unilever memperbolehkan karyawannya bekerja di luar kantor sesuai dengan lama jam kerja dan output pekerjaan yang sama ketika aktif di kantor. Itu biasa disebut dengan agile working," tuturnya.

Hak bagi pekerja perempuan yang sedang menyusui untuk mengoptimalkan pemberian program air susu ibu kepada bayinya juga dihargai. Perseroan pun memberikan ruangan khusus di kantor bagi ibu menyusui untuk memerah air susunya, lalu disimpan di kulkas yang tersedia. Pekerja menyusui bisa mengambil dan membawa pulang untuk bayinya di rumah.

Pada momen libur panjang, seperti Lebaran, Unilever juga menyediakan penitipan anak di kantor (day care) dengan asumsi para pembantu rumah tangga sedang pulang kampung. Kantor pun menyulap satu ruangan khusus yang dilengkapi fasilitas lengkap untuk anak-anak kecil. "Perempuan yang bekerja bisa menitipkan anaknya di day care," kata Memor.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon