Murray Mulai Menapak Puncak Karir

Senin, 8 Juli 2013 | 01:00 WIB
HA
B
Penulis: Heru Andriyanto | Editor: B1
Andy Murray juara di Wimbledon 7 Juli 2013.
Andy Murray juara di Wimbledon 7 Juli 2013. (AFP/ Getty Images)

Duabelas bulan silam, Andy Murray berlinang air mata setelah dikalahkan oleh Roger Federer di final Wimbledon, yang juga memusnahkan harapan publik tuan rumah melihat seorang petenis Inggris Raya juara di tunggal putra turnamen ini.

Peristiwa itu membuat Murray kalah di semua empat partai final grand slam yang diraihnya, dan pendukungnya khawatir kepercayaan dirinya runtuh selamanya, bahwa dia tak bisa bisa berada di papan atas di era modern tenis dunia.

Namun trauma ternyata tidak berkepanjangan. Kekalahan itu bukan akhir masanya, namun menjadi sebuah awal, untuk menapak lebih tinggi.

Sejak itu Murray telah memecahkan kebuntuan di grand slam dengan menjuarai Amerika Serikat Terbuka, meraih medali emas olimpiade, melewati Rafael Nadal dan Roger Federer untuk menjadi petenis nomor dua dunia, dan mencapai final di semua turnamen grand slam yang diikutinya.

Diam-diam, petenis asal Dunblane, Skotlandia itu ternyata menyimpan tekad menebus kekalahannya di lapangan rumput Wimbledon dan memberi hadiah ke rakyat Inggris Raya yang lolos dari genggamannya tahun lalu.

Murray memilih absen di Prancis Terbuka agar bisa lebih siap di Wimbledon, dan akhirnya pengorbanan itu terbayar dengan menjadi putra Inggris Raya pertama setelah 77 tahun yang bisa juara di sana. Tapi menang tiga set langsung? Atas petenis nomor satu dunia Novak Djokovic? Bahkan dia sendiri pun susah percaya.

Ini tweet Murray begitu dia punya kesempatan pegang gadget: "Can't believe what's just happened!!!!!!!"

Dia sempat kehilangan championship point tiga kali, namun tidak kehilangan rasa percaya diri dan ketenangannya, hingga berhasil menuntaskan kesempatannya yang keempat.

"Itu salah satu momen yang paling sulit, pertandingan hari ini betul-betul sukar dipercaya," kata Murray. "Aku tidak tahu bagaimana bisa lolos dari tiga poin itu. Aku sangat senang bisa melakukannya."

Djokovic harus menghadapi penonton yang tidak berpihak padanya dalam pertandingan sekitar tiga jam itu, namun setelah semuanya selesai dia tetap ramah dan sportif pada lawan dan penonton.

"Selamat untuk Andy, kamu betul-betul pantas mendapatkannya, kamu bermain dengan luar biasa. Aku paham arti (kemenangan) ini bagi kalian semua di seluruh negeri ini, jadi selamat," ucap petenis Serbia itu.

"Kesuksesan dia ini menjadi lebih penting karena aku tahu tekanan dan harapan yang membebaninya. Ini prestasi yang hebat. Aku telah bermain habis-habisan dan merupakan kehormatan bisa berada di pertandingan ini, di final ini."

Sama-sama berusia 26 tahun, dua petenis itu telah mulai bermain sejak usia 11 tahun dan dikenal berkawan akrab. Namun seiring meroketnya karir masing-masing dan meningkatnya pertemuan mereka di berbagai laga menentukan, hubungan mereka mulai agak mendingin.

"Bisa kukatakan, hubungan kami adalah kawan profesional," kata Murray sebelum ini.

Dengan makin menuanya Federer dan Nadal yang rawan dibekap cedera, tampaknya mereka berdua akan makin sering bertemu di partai puncak.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon