Demi Sarjana, 300 Anak Halmahera Utara Menabung Rp 1.000 Perhari
Selasa, 23 Juli 2013 | 18:54 WIB
Jakarta - Kurangnya kesadaran warga terhadap pendidikan, membuat banyak anak-anak usia sekolah di Kabupaten Halmahera Utara putus sekolah. Kebanyakan anak-anak hanya menyelesaikan jenjang pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD) saja. Sedikit sekali anak-anak yang bisa melanjutkan pendidikan ke tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), apalagi ke perguruan tinggi.
Namun, dengan adanya 19 kelompok tani perempuan binaan Wahana Visi Indonesia, yang merupakan mitra World Vision, sebanyak 300 anak sudah memiliki simpanan pendidikan (simpadik) di Credit Union Saro Nifero.
Artinya, 300 anak ini memiliki peluang melanjutkan jenjang pendidikan hingga perguruan tinggi, meraih gelar sarjana, dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik untuk membantu kehidupan orangtua mereka.
Manajer WVI Kantor Operasional Halmahera Utara Erni Damanik memaparkan dua masalah utama yang dialami Kabupaten Halmahera Utara, adalah tingginya tingkat putus sekolah anak usia sekolah 5-19 tahun.
Anak usia sekolah lelaki yang putus sekolah mencapai 47% dan perempuan mencapai 45%. Kondisi ini mempengaruhi tingkat kemiskinan di Kabupaten Halmahera Utara yang mencapai 7,82%.
Berdasarkan data BPS Maluku Utara, angka partisipasi anak sekolah itu tinggi yaitu mencapai 93,8%. Artinya dari anak usia sekolah, hampir 100% mereka mengikuti pendidikan di tingkat SD.
"Tetapi begitu masuk ke tingkat SMP, angkanya langsung menurun drastis sekitar 67,7%. Semakin menurun ke tingkat SMA hanya 44% yang melanjutkannya. Apalagi tingkat perguruan tinggi, lebih kecil lagi," kata Erni kepada wartawan di Kantor Operasional Tobelo WVI, Jalan Parahyangan, Tobelo, Halmahera Utara, Maluku Utara, Selasa (23/7).
Melihat kondisi ini, WVI membentuk 21 kelompok swadaya masyarakat (KSM), diantaranya ada 19 kelompok tani perempuan. Dari kelompok ini, pihaknya melakukan promosi budaya menabung. Yakni dengan mengajak seluruh anggota kelompok tani maupun KSM untuk menyisihkan Rp 1.000 per hari.
Tidak hanya ayah dan ibu, tetapi anak-anak juga diharuskan untuk menabung setiap hari di celengan boneka yang telah disediakan di rumah. Kemudian setiap akhir bulan, tabungan tersebut dikumpulkan untuk ditabungkan di Credit Union (CU) Sara Nifero.
"Hingga saat ini, sudah ada 300 anak yang memiliki simpadik d CU Sara Nifero. Simpadik itu bisa diambil ketika anak-anak masuk sekolah atau memulai tahun ajaran baru. Dengan adanya simpadik ini, maka 300 anak terbuka akses menempuh pendidikan setinggi-tingginya semakin luas. Mereka bisa meraih gelar sarjana dengan tabungan dan dukungan orangtuanya," tutur Erni.
Salah satu ibu dari Kelompok Tani Harapan Bunda Ibu, Aisyah Krois (38), mengatakan kepada beritasatu.com, dia telah memiliki simpadik untuk anaknya yang baru masuk tingkat SMP. Usahanya mengelola lahan bersama kelompok taninya, telah memberikan penghasilan tambahan bagi dia dan suami untuk menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi.
"Hasil dari panen kacang atau jagung yang kami tanam di lahan kelompok tani, 20% diserahkan untuk kas kelompok, sedangkan sisanya untuk simpadik, biaya kesehatan dan kebutuhan rumah tangga. Dengan simpadik, saya bisa menyekolahkan anak saya hingga menjadi sarjana. Selama ini, itu tidak pernah bisa jadi impian saya, tetapi dengan tabungan itu, saya bisa meraih impian itu," ujarnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini Jumat 15 Mei 2026




