Pesan dari Anak Jalanan
Minggu, 28 Juli 2013 | 20:43 WIB
Oleh: Kiai Maman Imanulhaq
Azam, yang mempunyai makna "tekad yang bulat" (QS.3:159), merupakan sebuah singkatan dari Anak Z(J)alanan Majalengka. Sebuah komunitas baru yang bermarkas di Pasar Balong Kadipaten, yang menghimpun para pengamen jalanan se-Majalengka dan sekitarnya. Menurut beberapa sesepuhnya, komunitas ini direfleksikan sebagai sebuah ikhtiar untuk menggali potensi dan kekuatan para pengamen jalanan untuk kemudian bersama-sama melakukan pemberdayaan internal, agar para pengamen beserta keluarganya mampu mengangkat harga diri, melepaskan diri dari beban penderitaan, dan belenggu kesengsaraan. Tekad tersebut adalah keinginan mulia yang seharusnya merupakan tanggung jawab para birokrat dan pemimpin agama serta masyarakat..
Azam hadir sebagai sebuah "gugatan" atas rendahnya kepedulian negara (birokrat) serta pemihakan terhadap duafa (the weak, yang lemah) dan mustadh'afin (the oppressed, yang tertindas). Kalaupun ada, maka yang tercium adalah aroma "kepentingan politik" serta "kepura-puraan". Keseriusan, kejujuran dan keikhlasan sudah sangat sulit dipraktikkan para pemimpin, maka jangan heran bila di tengah masyarakat akan terjadi berbagai patalogi sosial yang mengaburkan batas antara benar dan salah, baik dan jahat, moral dan amoral, serta menjerumuskan mereka pada kondisi ketidakmenentuan moral (indeterminancy moral).
Kala itu terjadi, maka sabda Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Tirmidzi,"Sultan (negara, birokrat, pemimpin) merupakan payung Allah tempat bernaungnya orang-orang yang tertindas" akan ber-mafhum mukhalafah." Birokrasi adalah payung setan, tempat bernaungnya orang-orang zalim na'udzubillahi min dzalik. Birokrasi, yang pada awalnya dalam mengatur polarisasi sistem dan mekanisme kerja kekuasaan menjadi lebih tertib, aspiratif dan fair, pada saat ini hanya ditafsirkan sebagai "politik birokrasi" yang menjadi representasi sebuah kekuasaan yang hegemoni, merasa paling pintar, dan memarjinalkan peran masyarakat.
Maka, kebijakan publik (public policy) harus bermuatan spirit moralitas yang berpihak pada kemaslahatan masyarakat, tidak hanya menuruti ego kekuasaan, kesewenangan dan "asas mumpung" yang melahirkan penyimpangan jabatan, korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang sangat kental. Birokrasi adalah "pelayan masyarakat" (khodim al-ummah) yang seluruh kebijakannya akan menjadi bagian dakwah oleh para birokrat demi terciptanya pemerintahan yang bersih, adil, berwibawa dan bebas KKN.
Azam pun hendak memberi "tausiah" kepada para pemimpin agama--terutama yang berlabel Islam--serta para tokoh masyarakat. Karena selama ini para tokoh tersebut selalu berjuang membentuk masyarakat rabani yang berkualitas dalam segala bidang kehidupan demi terwujudnya kehidupan yang berkeadilan, makmur dan sejahtera.
Tetapi sekarang "para al-mukaromiri" tersebut menghadapi "tantangan" yang terkadang membuat kekikukan dan kesulitan sekaligus keterjebakan akan romantisme kemapanan, klaim kebenaran, ketertutupan (eksklusif) diri dari kritik atas pribadi dan tradisinya sendiri. Banyak pemimpin umat yang mengalami kegugupan mental dan intelektual menghadapi kemajuan trasformasi budaya. Semua itu yang mengakibatkan kaum Muslimin kehilangan vitalitas, daya hidup dan daya saing di tengah kehidupan yang semakin kritis, maju, dan penuh tantangan.
Sepak terjang segelintir tokoh Muslim justru tidak menyentuh subtansi persoalan yang berkembang di masyarakat. Ini terlihat dari terabaikanya problem-problem kemanusiaan serta tercerabutnya nilai spiritualitas dan nalar pembaruan dalam perubahan yang sangat cepat. Semua itu meruntuhkan citra dan kekuatan Islam dan kaum Muslimin itu sendiri. Eksploitasi umat untuk kepentingan politik serta wilayah "kekuasaan" tertentu yang dilakukan "sang tokoh" dengan logika serta selera sendiri tanpa mempertimbangkan aspek maslahah al-ummah , serta menghegemoni dan mendominasi peran, kesempatan, dan pandangan umat yang pluralistik, akan semakin memperparah keadaan umat yang telah terperosok pada jurang kemiskinan, kekerasan, perpecahan, pandangan sempit (jumud al-'airi) yang terpisah dari realita.
Begitu pula, berhentinya ikhtiar untuk mempertemukan gagasan dan ide yang mempertemukan pemikiran yang emansipatif dan eksploratif, baik berlatar keagamaan maupun kebudayaan, telah membuat ajaran Islam yang bersifat universal, inklusif, dan liberatif, kehilangan kemampuan dalam proses akulturasi dan asimilasi berbagai tradisi serta budaya lokal yang selama ini menjadi roh dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia, sehingga terbentuk peradaban Islam yang rahmah lil 'alamin.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




