Banda Aceh
Tidak Sekadar Bangkit dari Tsunami
Minggu, 9 Oktober 2011 | 03:36 WIB
Ibukota daerah dengan berbagai cerita, termasuk kelabunya dampak bencana tsunami, kini justru kian menarik untuk dikunjungi.
Ini adalah kali pertamanya saya mengunjungi Banda Aceh, ibukota dari provinsi yang terletak di kawasan paling ujung Indonesia, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Spekulasi tentang Aceh dengan suasana menegangkannya pun membayangi pikiran dan angan saya selama empat jam perjalanan di dalam pesawat menuju Aceh.
Seperti yang banyak orang ketahui, Aceh memiliki ragam cerita. Di era modern ini saja, kisah tentang Aceh diwarnai mulai dari beragam konflik GAM (Gerakan Aceh Merdeka), bencana alam tsunami 2004 yang meluluhlantakkan sebagian besar Aceh, peraturan-peraturan syariah yang diterapkan di daerah itu dan segala kontroversinya, hingga dijadikannya bagian wilayah Aceh sebagai lokasi pelatihan militer oleh sekumpulan militan.
Langit masih begitu cerah ketika saya tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Saat itu masih pukul 15.00 WIB. Pemandangan pertama sebelum saya landing didominasi nuansa warna hijau, biru dan putih. Hijaunya pebukitan dan birunya laut, serta putihnya awan yang menyelimuti keduanya.
Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda terletak tidak jauh dari pantai Selat Malaka. Maka, hembusan angin laut bercampur dengan angin dari pebukitan, begitu kental terasa, seketika saya turun dari pesawat. Tapi, bukan itu saja yang menarik perhatian saya.
Sesaat, teman perjalanan saya ke Aceh, mengungkapkan sebuah fakta menarik. "Bandara Iskandar Muda telah mengalami banyak renovasi, dan sudah jauh lebih baik dan layak bagi tamu domestik maupun internasional," tuturnya.
Padahal, menurut Rina, teman seperjalanan saya tersebut, ketika bencana tsunami 2004 lalu, bandara ini selamat dari terpaan tsunami.
Bandar udara Sultan Iskandar Muda Aceh saat ini jauh lebih modern menurut Rina. Meskipun jelas tidak menyerupai Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Menurut Rina pula, bandara ini sengaja direnovasi oleh pemerintah pusat menjadi lebih modern dan bagus, adalah karena banyaknya turis asing yang berkunjung ke Aceh. "Mungkin untuk alasan citra yang baik?" simpul Rina.
Memang, bisa terlihat pada waktu itu, banyak warga asing yang baru saja mendarat ataupun hendak bersiap pergi dari Aceh.
Rina yang juga telah mengunjungi Aceh beberapa kali, mengungkapkan bahwa semenjak tsunami Aceh, banyak bangunan di Aceh yang direnovasi menjadi lebih layak dan sedikit berstandar internasional. "Tunggu sampai kamu lihat kota Banda Aceh lebih dekat," ungkap Rina yang bekerja untuk sebuah organisasi internasional itu, kepada saya.
Mungkin sebutan 'kota NGO' (non-government organization) cukup pantas disematkan, ketika akhirnya saya menjelajah singkat kota Banda Aceh dan membuktikan pernyataan itu. Sebab, begitu banyak bangunan di kota tersebut yang dibangun dengan bantuan nama-nama yayasan dalam maupun luar negeri. Bukan hanya bangunan umum, bahkan sekolah pun banyak yang didirikan atas bantuan yayasan ini dan itu.
Meski demikian, bantuan dari pemerintah negara lain juga turut menghiasi Banda Aceh. Menurut Misna, salah seorang penduduk lokal di sana, jalanan yang dibangun pun antara lain merupakan bantuan dari pemerintah Jepang, Belanda, Jerman, dan lain-lain. Salah satu kuburan massal korban tsunami menurutnya, juga dibangun oleh pemerintah Turki, dengan bentuk arsitektur bangunan yang sangat artistik dan bergaya ke-Timur Tengah-an.
Mungkin tidak perlu dipermasalahkan dan dipertanyakan, karena pada kenyataannya, tsunami pada tahun 2004 lalu memang telah menarik perhatian dunia kepada Aceh. Bencana yang melumpuhkan sebagian besar kota di Aceh itu, telah menarik bantuan asing dalam rangka memperbaiki infrastruktur daerah tersebut.
Spekulasi awal saya mengenai Banda Aceh yang sedikit menegangkan menjadi kian sirna, ketika saya kemudian menemui fakta bahwa Aceh ternyata sudah jauh lebih ramah, karena mampu menerima tamu dari belahan dunia manapun dengan baik. Tanpa bermaksud berterima kasih dengan bencana yang menimpa Aceh 2004 silam, nyatanya bencana tersebut kini, tujuh tahun kemudian, justru menyisakan banyak peninggalan yang mampu menarik wisatawan untuk datang ke Aceh.
Begitu banyaknya peninggalan bangunan maupun monumen bekas tsunami, yang mampu menceritakan dalam bisu, bagaimana ganasnya terpaan tsunami beberapa tahun lalu tersebut. Sebut saja di antaranya Museum Tsunami dan Masjid Baiturrahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh.
Atau mungkin, khalayak masih ingat dengan sebuah kapal besar yang terdampar hingga ke tengah kota? PLTD Apung 1? Sebuah kapal pembangkit listrik yang pada saat kejadian tsunami itu terdampar hingga sekitar 3 km ke tengah pemukiman warga di Punge Blang Cut, Banda Aceh.
Kapal tersebut semula digunakan sebagai pemasok listrik ke Banda Aceh, karena konflik yang berkepanjangan sejak beberapa waktu sebelumnya. Di mana pada masa itu banyak tiang-tiang pembangkit listrik yang dirusak.
Belakangan, tidak ada yang berusaha mengembalikan kapal dengan panjang sekitar 63 meter ini ke lautan, setelah tsunami berlalu. Kini, yang terjadi adalah, PLTD Apung 1 menjadi tempat menarik dan banyak dikunjungi oleh wisatawan asing maupun dalam negeri.
Lalu, tidak jauh dari kapal tersebut, juga terdapat Taman Edukasi. Sebuah taman dengan sebuah bangunan berbentuk bulan sabit, di mana di dalamnya sengaja dipajang beragam foto sesaat setelah bencana tsunami Aceh terjadi. Foto-foto yang mampu membawa emosi penyimaknya seketika ke dalam suasana tegang, mencekam, haru dan sedih, seakan berada sendiri di sana pada kejadian itu.
Beranjak dari lokasi PLTD Apung 1, sekitar tiga kilometer jaraknya, terlihatlah sebuah pantai cantik yang dibentengi dengan barisan pebukitan. Pantai tersebut bernama Pantai Ulee Lheue.
Menuju ke pantai itu, banyak terdapat tumbuhan bakau yang sedang dikembangbiakkan, maupun sengaja ditanam di sekitar pantai. "Belajar dari bencana yang lalu," ujar seorang penduduk lokal pula.
Sebelumnya, area yang kini digunakan sebagai tempat pengembangbiakan bakau tersebut adalah kawasan rumah warga yang lantaran tsunami kemudian harus rata dengan air.
Yang menarik dari pantai itu adalah bahwa secara visual ia tidak memiliki pasir pantai. Tepian laut di situ hanya dipagari oleh batu-batu besar penangkal ombak. Penduduk lokal yang tak ingin dituliskan namanya itu juga bercerita, bahwa dibutuhkan satu bukit untuk mengumpulkan seluruh batu, guna memagari pantai yang memiliki panjang tiga kilometer itu.
Sementara, bukan hanya bebatuan yang dipasang di pinggiran pantai, yang menjadi pemandangan khusus di situ. Tetapi juga ada yang namanya "escape building", yang dibangung oleh pihak Jepang, untuk dipergunakan sebagai lokasi pelarian jika bencana tsunami kembali terjadi. Posisinya sekitar 10 meter dari garis pantai.
Lalu, dari pinggiran pantai tersebut, juga dapat terlihat Pulau Sabang yang tampak begitu tenang. Bagi yang hendak ke sana, Pulau Sabang biasa ditempuh dengan kapal cepat yang berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, yang posisinya persis di depan pantai. Hanya dengan biaya Rp 60.000, Pulau Sabang dapat dicapai dalam waktu dua jam perjalanan laut saja.
Ini adalah kali pertamanya saya mengunjungi Banda Aceh, ibukota dari provinsi yang terletak di kawasan paling ujung Indonesia, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Spekulasi tentang Aceh dengan suasana menegangkannya pun membayangi pikiran dan angan saya selama empat jam perjalanan di dalam pesawat menuju Aceh.
Seperti yang banyak orang ketahui, Aceh memiliki ragam cerita. Di era modern ini saja, kisah tentang Aceh diwarnai mulai dari beragam konflik GAM (Gerakan Aceh Merdeka), bencana alam tsunami 2004 yang meluluhlantakkan sebagian besar Aceh, peraturan-peraturan syariah yang diterapkan di daerah itu dan segala kontroversinya, hingga dijadikannya bagian wilayah Aceh sebagai lokasi pelatihan militer oleh sekumpulan militan.
Langit masih begitu cerah ketika saya tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Saat itu masih pukul 15.00 WIB. Pemandangan pertama sebelum saya landing didominasi nuansa warna hijau, biru dan putih. Hijaunya pebukitan dan birunya laut, serta putihnya awan yang menyelimuti keduanya.
Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda terletak tidak jauh dari pantai Selat Malaka. Maka, hembusan angin laut bercampur dengan angin dari pebukitan, begitu kental terasa, seketika saya turun dari pesawat. Tapi, bukan itu saja yang menarik perhatian saya.
Sesaat, teman perjalanan saya ke Aceh, mengungkapkan sebuah fakta menarik. "Bandara Iskandar Muda telah mengalami banyak renovasi, dan sudah jauh lebih baik dan layak bagi tamu domestik maupun internasional," tuturnya.
Padahal, menurut Rina, teman seperjalanan saya tersebut, ketika bencana tsunami 2004 lalu, bandara ini selamat dari terpaan tsunami.
Bandar udara Sultan Iskandar Muda Aceh saat ini jauh lebih modern menurut Rina. Meskipun jelas tidak menyerupai Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Menurut Rina pula, bandara ini sengaja direnovasi oleh pemerintah pusat menjadi lebih modern dan bagus, adalah karena banyaknya turis asing yang berkunjung ke Aceh. "Mungkin untuk alasan citra yang baik?" simpul Rina.
Memang, bisa terlihat pada waktu itu, banyak warga asing yang baru saja mendarat ataupun hendak bersiap pergi dari Aceh.
Rina yang juga telah mengunjungi Aceh beberapa kali, mengungkapkan bahwa semenjak tsunami Aceh, banyak bangunan di Aceh yang direnovasi menjadi lebih layak dan sedikit berstandar internasional. "Tunggu sampai kamu lihat kota Banda Aceh lebih dekat," ungkap Rina yang bekerja untuk sebuah organisasi internasional itu, kepada saya.
Mungkin sebutan 'kota NGO' (non-government organization) cukup pantas disematkan, ketika akhirnya saya menjelajah singkat kota Banda Aceh dan membuktikan pernyataan itu. Sebab, begitu banyak bangunan di kota tersebut yang dibangun dengan bantuan nama-nama yayasan dalam maupun luar negeri. Bukan hanya bangunan umum, bahkan sekolah pun banyak yang didirikan atas bantuan yayasan ini dan itu.
Meski demikian, bantuan dari pemerintah negara lain juga turut menghiasi Banda Aceh. Menurut Misna, salah seorang penduduk lokal di sana, jalanan yang dibangun pun antara lain merupakan bantuan dari pemerintah Jepang, Belanda, Jerman, dan lain-lain. Salah satu kuburan massal korban tsunami menurutnya, juga dibangun oleh pemerintah Turki, dengan bentuk arsitektur bangunan yang sangat artistik dan bergaya ke-Timur Tengah-an.
Mungkin tidak perlu dipermasalahkan dan dipertanyakan, karena pada kenyataannya, tsunami pada tahun 2004 lalu memang telah menarik perhatian dunia kepada Aceh. Bencana yang melumpuhkan sebagian besar kota di Aceh itu, telah menarik bantuan asing dalam rangka memperbaiki infrastruktur daerah tersebut.
Spekulasi awal saya mengenai Banda Aceh yang sedikit menegangkan menjadi kian sirna, ketika saya kemudian menemui fakta bahwa Aceh ternyata sudah jauh lebih ramah, karena mampu menerima tamu dari belahan dunia manapun dengan baik. Tanpa bermaksud berterima kasih dengan bencana yang menimpa Aceh 2004 silam, nyatanya bencana tersebut kini, tujuh tahun kemudian, justru menyisakan banyak peninggalan yang mampu menarik wisatawan untuk datang ke Aceh.
Begitu banyaknya peninggalan bangunan maupun monumen bekas tsunami, yang mampu menceritakan dalam bisu, bagaimana ganasnya terpaan tsunami beberapa tahun lalu tersebut. Sebut saja di antaranya Museum Tsunami dan Masjid Baiturrahman yang terletak di pusat kota Banda Aceh.
Atau mungkin, khalayak masih ingat dengan sebuah kapal besar yang terdampar hingga ke tengah kota? PLTD Apung 1? Sebuah kapal pembangkit listrik yang pada saat kejadian tsunami itu terdampar hingga sekitar 3 km ke tengah pemukiman warga di Punge Blang Cut, Banda Aceh.
Kapal tersebut semula digunakan sebagai pemasok listrik ke Banda Aceh, karena konflik yang berkepanjangan sejak beberapa waktu sebelumnya. Di mana pada masa itu banyak tiang-tiang pembangkit listrik yang dirusak.
Belakangan, tidak ada yang berusaha mengembalikan kapal dengan panjang sekitar 63 meter ini ke lautan, setelah tsunami berlalu. Kini, yang terjadi adalah, PLTD Apung 1 menjadi tempat menarik dan banyak dikunjungi oleh wisatawan asing maupun dalam negeri.
Lalu, tidak jauh dari kapal tersebut, juga terdapat Taman Edukasi. Sebuah taman dengan sebuah bangunan berbentuk bulan sabit, di mana di dalamnya sengaja dipajang beragam foto sesaat setelah bencana tsunami Aceh terjadi. Foto-foto yang mampu membawa emosi penyimaknya seketika ke dalam suasana tegang, mencekam, haru dan sedih, seakan berada sendiri di sana pada kejadian itu.
Beranjak dari lokasi PLTD Apung 1, sekitar tiga kilometer jaraknya, terlihatlah sebuah pantai cantik yang dibentengi dengan barisan pebukitan. Pantai tersebut bernama Pantai Ulee Lheue.
Menuju ke pantai itu, banyak terdapat tumbuhan bakau yang sedang dikembangbiakkan, maupun sengaja ditanam di sekitar pantai. "Belajar dari bencana yang lalu," ujar seorang penduduk lokal pula.
Sebelumnya, area yang kini digunakan sebagai tempat pengembangbiakan bakau tersebut adalah kawasan rumah warga yang lantaran tsunami kemudian harus rata dengan air.
Yang menarik dari pantai itu adalah bahwa secara visual ia tidak memiliki pasir pantai. Tepian laut di situ hanya dipagari oleh batu-batu besar penangkal ombak. Penduduk lokal yang tak ingin dituliskan namanya itu juga bercerita, bahwa dibutuhkan satu bukit untuk mengumpulkan seluruh batu, guna memagari pantai yang memiliki panjang tiga kilometer itu.
Sementara, bukan hanya bebatuan yang dipasang di pinggiran pantai, yang menjadi pemandangan khusus di situ. Tetapi juga ada yang namanya "escape building", yang dibangung oleh pihak Jepang, untuk dipergunakan sebagai lokasi pelarian jika bencana tsunami kembali terjadi. Posisinya sekitar 10 meter dari garis pantai.
Lalu, dari pinggiran pantai tersebut, juga dapat terlihat Pulau Sabang yang tampak begitu tenang. Bagi yang hendak ke sana, Pulau Sabang biasa ditempuh dengan kapal cepat yang berangkat dari Pelabuhan Ulee Lheue, yang posisinya persis di depan pantai. Hanya dengan biaya Rp 60.000, Pulau Sabang dapat dicapai dalam waktu dua jam perjalanan laut saja.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




