2050, Jumlah Lansia Mencapai 80 Juta Jiwa

Rabu, 31 Juli 2013 | 13:54 WIB
AP
FB
Penulis: Aisya Putrianti | Editor: FMB
Ilustrasi lansia.
Ilustrasi lansia. (R-15/Suara Pembaruan)

Jakarta - The United Nations Population Fund (UNFPA) atau Dana Kependudukan PBB, memperkirakan pada 2050 jumlah lansia mencapai 80.000.000 jiwa atau 25 persen dari total jumlah penduduk Indonesia.

Hingga saat ini jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia diperkirakan sekitar 18.000.000 jiwa, menurut sensus yang dilakukan pada 2010 lalu. Berarti dari total jumlah penduduk Indonesia, 8 persennya adalah lansia. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut 3,5 kali jumlah penduduk di Singapura. 

Terdapat tiga kategori lansia, yang pertama lansia peduli atau lansia yang masih aktif. Lansia yang masih aktif dalam arti kata kualitas hidupnya terjamin karena beberapa faktor yang meliputi kondisi ekonomi, jaminan asuransi, masih memiliki minat dan pengalaman, dan masih mengabdi pada masyarakat luas.

Kategori kedua adalah lansia yang masih bisa mengurus dirinya sendiri, tetapi jangan sampai para lansia ini merasa kesepian.

Kategori yang ketiga adalah lansia yang memerlukan orang lain untuk mendukungnya. Orang lain itu bisa dalam bentuk komunitas, program bantuan dari pemerintah, atau dari keluarga sendiri.

Kategori ketiga inilah yang membutuhkan perhatian lebih dari orang-orang sekelilingnya seperti dukungan psikologi, fisik, dan sosial. Beberapa penyebab kualitas hidup lansia pada kategori ketiga ini antara lain kurangnya asupan gizi saat masih kecil, kurangnya produktivitas pada usia remaja, dan penyakit degeneratif saat tua.

Dalam wilayah kerjanya, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bersama the United Nations Population Fund (UNFPA) atau Dana Kependudukan PBB mencoba memberi informasi tentang penyebab dan konsekuensi dari penuaan penduduk di Indonesia berdasarkan data hasil sensus tahun 2010 lalu.

Tujuan seminar ini pada intinya ingin menyebarluaskan informasi pada masyarakat tentang bagaimana melayani atau memberdayakan penduduk lansia dan bagaimana anak muda menyiapkan diri mereka ketika memasuki lansia.

Kepala BKKBN, Prof. Fasli Jalal, MD., Ph.D mengatakan, "Jika setidaknya jumlah kategori lansia yang pertama mencapai sepertiga dari 80.000.000 pada 2050 mendatang, maka dampaknya akan besar sekali. Maka ini menjadi tanggung jawab BKKBN untuk membantu memberdayakan para lansia secara psikologi dan pengasuhan fisik, serta memberi dukungan pada lansia untuk bisa mengasuh orang lain".

Menurut LD FEUI Prof. Dr. Sri Moertiningsih Adioetomo, rentang hidup lansia perempuan cenderung lebih panjang dibandingkan rentan hidup lansia laki-laki. Meski begitu, lansia perempuan yang lebih banyak menderita sakit-sakitan sementara lansia laki-laki memiliki status kesehatan yang lebih baik.

"Di sini kita bicara yang usianya di atas 80 tahun. Banyak lansia perempuan yang menderita sakit-sakitan karena tidak adanya akses kesehatan pada waktu muda. Healthy aging itu kan proses kumulatif, jadi ketika masa mudanya ia investasikan dengan baik, tentu menghasilkan dampak yang baik saat tua. Sebaliknya, apabila dari muda ia tidak menerima informasi tentang kesehatan dan tidak menjaga produktivitasnya, maka bisa timbul dampak negatif pada masa tua," ujarnya.

Lebih lanjut Adioetomo menjelaskan, kesenjangan gender yang banyak terjadi di desa-desa menjadi salah satu faktor penuaan penduduk yang tidak berkualita.

"Biasanya di desa-desa itu masih ada diskriminasi terhadap perempuan. Contoh, ada makanan dikasihnya ke anak laki-laki dulu. Ada lagi pemikiran anak perempuan nantinya juga akan ke dapur, jadi yang disekolahkan lagi-lagi anak laki-laki. Begitu juga dengan pekerjaan, perempuan lebih banyak menerima pekerjaan kotor dan berbahaya, bahkan bersedia tidak mendapat upah. Hal-hal seperti tadi itu yang menyebabkan buruknya kualitas hidup lansia perempuan dibandingkan lansia laki-laki," kata dia.

Saat ini BKKBN melakukan pendekatan pada masyarakat yang sesuai dengan kelompok usianya atau dinamakan Life Cycle. Mereka memberikan mulai dari informasi program KB, memberi keterampilan pengasuhan bagi keluarga yang memiliki balita, dan memberi informasi kepada remaja yang notabene telah memasuki usia siap menikah.

Untuk remaja, terdapat pusat-pusat informasi dan konseling di berbagai institusi pendidikan yang akan memberi mereka pendidikan kelompok sosial, kesehatan reproduksi, media sosial, dan lain-lain. Sedangkan untuk orang tua nya, mereka akan dibekali pembinaan keluarga remaja untuk menghasilkan generasi yang lebih baik pada masa mendatang.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon