Israel Bebaskan Tahanan Asal Palestina

Senin, 12 Agustus 2013 | 13:38 WIB
D
B
Penulis: D-11 | Editor: B1
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel
Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel (AFP)

Yerusalem - Israel akan membebaskan 26 veteran tahanan asal Palestina menjelang perundingan damai yang akan diselenggarakan minggu ini. Keputusan itu diumumkan dalam sebuah pernyataan resmi dari kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Minggu (11/8).

Pengumuman pembebasan para tahanan datang setelah para pejabat Palestina menuduh Israel mencoba menyabotase perundingan damai dengan menyetujui hampir 1.200 pemukiman rumah baru. Menteri Perumahan Israel Uri Ariel mengatakan pemerintah meminta tawaran dari kontraktor konstruksi untuk membangun lebih dari 1.000 unit pemukiman baru. Sekitar 500.000 orang Yahudi telah tinggal di lebih dari 100 pemukiman yang dibangun di Tepi Barat dan Yerusalem, daerah pendudukan Israel sejak perang Timur Tengah 1967.

"Israel akan terus membangun dan menjual rumah-rumah di seluruh negeri. Ini adalah hal yang benar dilakukan bagi ekonomi dan Zionist," kata Ariel.

Seorang anggota komite eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Hasan Ashrawi mengatakan, Israel mengirim pesan kepada seluruh dunia: terlepas dari segala upaya negosiasi, Israel terus mencuri lebih banyak tanah, membangun pemukiman lebih banyak dan menghancurkan solusi dua negara. Dia memperingatkan, jika dibiarkan, tentu akan menimbulkan konflik yang lebih besar dan menghancurkan semua kemungkinan damai.

Israel telah mengumumkan para tahanan akan dibebaskan dalam waktu dua hari. Itu merupakan tahap pertama dari perjanjian jangka panjang pembebasan 104 tahanan Palestina dan Arab Israel yang akan dilakukan dalam empat tahap.

"Sebagian besar dari para tahanan ditangkap karena pembunuhan, termasuk lima orang kaki tangan atas pembunuhan dan satu orang bersalah atas penculikan dan pembunuhan," demikian pernyataan itu.

Pembebasan para tahanan menimbulkan aksi protes dari para keluarga korban pembunuhan. Sebuah kelompok kecil dari keluarga korban melakukan aksi demonstrasi di luar Mahkamah Agung Israel di Yerusalem untuk memprotes keputusan.

Yaakov Tobel, ayah dari Lior yang dibunuh pada 1990, mengatakan kepada surat kabar Yedioth Ahronoth bahwa selama 23 tahun dia belum bisa tidur tenang karena memikirkan apa yang terjadi pada anaknya. "Para penyelidik mengatakan kepada kami dia berhasil berjalan selama 80 meter sebelum darahnya berhenti mengalir. Biarkan para menteri memikirkan hal ini sebelum menandatangani (pembebasan)," katanya.

Para keluarga korban dapat mengajukan banding ke Mahkamah Agung, tapi jarang ada campur tangan dalam kasus seperti itu.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon