R Sukhyar
Cinta yang Dimulai dari Penasaran
Selasa, 3 September 2013 | 10:05 WIB
Masa-masa awal R Sukhyar menekuni bidang geologi semata-mata didorong hasil tes psikologi, sehingga melahirkan rasa penasaran sampai akhirnya jatuh cinta. Kini, doktor di bidang Geologi dari Monash University ini menjadi orang nomor satu di Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sejak 2008.
Menurut dia, saat menjadi mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1973, dia mengikuti tes psikologi untuk mengetahui jurusan yang tepat sesuai dengan bakat dirinya, dan hasilnya jurusan geologi. Meski tidak mengerti apa itu geologi, Sukhyar mempercayai hasil tersebut.
"Saya tidak begitu meminati geologi di tahun-tahun pertama. Tetapi sesudah masuk di situ, saya coba mencintai. Sampai lulus pun, saya masih juga penasaran," kata Sukhyar saat ditemui di Jakarta, baru-baru ini.
Rasa penasaran itu membuat dirinya semakin tertantang untuk mengerti dan mengusai geologi. Dia lantas menggarap tugas akhir kuliah sewaktu masih di Kementerian ESDM pada 1978. Sukhyar kemudian secara resmi bekerja di Direktorat Vulkanologi Kementerian ESDM pada 1980. Pekerjaan itu diambilnya hanya lantaran agar bisa melanjutkan sekolah yang lebih tinggi ke luar negeri untuk mempelajari geologi.
Keinginannya pun terpenuhi karena Sukhyar mendapat kesempatan belajar di Monash University hingga meraih gelar doktor. Dia menuntut ilmu di negeri Kanguru sejak 1984 hingga 1989. Di tempat ini, semua tanda tanya tentang geologi terjawab sudah.
Menurut Sukhyar, kondisi fasilitas dan keterbukaan informasi mengenai geologi di Tanah Air kala itu tidak sebaik kondisi saat ini, sehingga untuk memperdalamnya harus pergi ke luar negeri. Di Monash University, tersedia fasilitas laboratorium dan perpustakaan lengkap serta jurnal geologi. Ditambah lagi, dukungan memadai dari pengajar yang memberi keleluasaan serta budaya kompetisi untuk meraih prestasi.
"Di situ, saya mulai yakin bahwa geologi sangat penting. Ilmunya sangat kaya dan cakupannya sangat luas karena kita mendalami apa yang terjadi di bumi. Bagaimana komposisinya, bagaimana penyebaran mineral, dan energi di bumi, bagaimana terbentuknya, sejarah, dan proses pembentukannya? Di situlah kecintaan mulai muncul," jelasnya.
Persiapkan UU
Sekembalinya ke Tanah Air, karier Sukhyar mulai berkibar. Dia menjabat sebagai direktur Vulkanologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral pada 1998-1999. Kemudian, Sukhyar menjabat sebagai sekretaris Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral hingga 2005.
"Saat itu, mengalami penggabungan pertambangan dengan geologi dalam Ditjen Geologi dan Sumber Daya Mineral. Di situ, saya mulai bergelut dengan kebijakan pertambangan, berteman dengan masyarakat pertambangan. Saya juga dipercaya sebagai ketua tim penyusunan rancangan undang-undang pertambangan, di samping rancangan undang-undang panas bumi," jelasnya.
Rancangan undang-undang yang dimaksudnya itu kini telah menjadi Undang-Undang (UU) Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba). Salah satu ketentuan dalam UU ini adanya kewajiban pengolahan dan pemurnian bijih mineral di dalam negeri (smelter) terhitung Januari 2014. Ide smelter muncul pada 2003 dengan semangat suatu saat Indonesia tidak akan lagi mengekspor bahan tambang mentah.
"Kita dari dulu sampai sekarang menghidupi industri orang lain dengan mengirim bahan mentah. Orang lain hidup industrinya dan mengenyam 20 kali nilai tambah. Kita dapat apa?" tanyanya.
Kini, tantangan Sukhyar adalah mendapatkan data dan informasi tentang kandungan minyak dan gas (migas) di Indonesia timur. Survei geofisika pun digelar dan ditargetkan rampung tahun depan karena banyak potensi migas di kawasan timur Indonesia.
Penyuka tembang lawas ini pun terus mengikuti perkembangan pemanfaatan sumber daya panas bumi yang masih perlu terus didorong dan menghilangkan segala penghambatnya. "Keterbukaan informasi merupakan simbol kemajuan bangsa untuk Indonesia. Data geologi akan menumbuhkan daya tarik investasi di sektor ESDM," tutur dia.
Namun sayang, keahlian Sukhyar di bidang geologi tidak diturunkan pada putra-putrinya. "Waktu itu, anak saya laki-laki ingin masuk geologi, tapi saya tidak setujui. Akhirnya, saya menyesal. Penyesalan itu kalau dia sekarang jadi ahli geologi, mungkin akan menjadi ahli geologi yang tangguh. Saya tinggal transfer pengalaman. Tapi, itulah jalan hidup dan Tuhan yang atur. Dan, dia bisa juga tangguh di profesi dan kariernya," ujarnya.
Dia juga mengaku, tuntutan pekerjaan membuatnya sering ke lapangan untuk mendapatkan data mengenai kandungan sumber daya yang terdapat di perut bumi. Alhasil, Sukhyar tidak banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




