LSI : Jokowi "Vote Getter" Paling Potensial

Jumat, 20 September 2013 | 18:13 WIB
RW
FB
Penulis: Robertus Wardi | Editor: FMB
Ketua umum partai PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri (kiri) bersama gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, berada dalam satu mobil  meninggalkan tempat acara, usai penutupan Rakernas III PDI Perjuangan di Ecopark, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (8/9).
Ketua umum partai PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri (kiri) bersama gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, berada dalam satu mobil meninggalkan tempat acara, usai penutupan Rakernas III PDI Perjuangan di Ecopark, Ancol, Jakarta Utara, Minggu (8/9). (Suara Pembaruan/SP/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Adjie Alfaraby mengemukakan harus diakui bahwa berdasarkan tren survei, Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi) adalah vote getter paling potensial di pemilu 2014 mendatang. Vote getter itu baik sebagai calon presiden (capres) maupun calon wakil presiden (cawapres).

"Jadi bukan hanya sebagai capres saja. Trennya seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di tahun 2004 dan 2009. Jika Jokowi benar dicapreskan PDIP maka ada kecenderungan PDIP mendapat berkah elektabilitas Jokowi," kata Adjie di Jakarta, Jumat (20/9).

Namun ia menegaskan keputusan yang masih gamang dari PDIP soal pencapresan Jokowi juga menjadi keraguan publik. Jika penetapan capres PDIP pasca pemilu legislatif,maka PDIP tidak akan maksimal memperoleh 'Jokowi effect'.

Mengenai Partai Golkar (PG), dia menjelaskan gejolak yang terjadi di internal PG saat ini adalah dinamika internal yang biasa terjadi di Golkar. Sejak Pemilu 2004 maupun 2009, Golkar selalu tidak solid dalam pencapresan. Alasannya, di Golkar, menang-kalah di pemilu juga terkait posisi ketua umum yang selalu ada persaingan di internal. Selain itu, Golkar selalu ingin jadi partai yang ikut berkuasa.

"Jadi selalu ada faksi yang akan bermanuver untuk mendukung calon kuat jika calon itu berasal dari luar Golkar. Namun menurut saya sulit kita membayangkan adanya koalisi secara institusi tiga partai besar yaitu Golkar, Demokrat, dan PDIP karena masing-masing sudah punya capres," ujarnya.

"Yang akan terjadi adalah koalisi sebagian elite di partai itu dengan partai yang lain. Misalkan Ketua Umum PG Aburizal Bakrie (ARB) yang mendukung SBY 2009 dan tak mendukung Jusuf Kalla (JK). Atau faksi JK yang memilih berkoalisi dengan demokrat dan SBY di tahun 2004 dan tak mendukung Wiranto," tuturnya. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon