Pencemaran Lingkungan, Faktor Pemicu Autisme Terbesar Saat Ini
Sabtu, 28 September 2013 | 16:38 WIB
Jakarta - dr. Melly Budhiman, SPKJ, Ketua Yayasan Autisma Indonesia (YAI) dan psikiater anak mengatakan bahwa saat ini lingkungan merupakan salah satu pemicu utama autisme.
"Saat ini faktor genetik yang dipicu oleh lingkungan yang buruk merupakan salah satu faktor utama penyebab autisme. Polusi udara dan mercuri yang terdapat di ikan laut yang airnya sudah tercemar limbah adalah contoh pemicu yang paling mudah kita temui sehari-hari", ujar Melly pada acara pembukaan kampenye Autismaze dari YAI di Epicentrum Walk, Jakarta, Sabtu (28/9).
Dia juga menambahkan mainan anak-anak yang dibuat dari bahan-bahan berbahaya dan kemudian masuk ke mulut mereka juga bisa menjadi penyebab autisme.
"Bila dasarnya seorang anak memiliki fisik dan faktor genetik yang kuat, dia akan bisa mengeluarkan lagi racun-racun tersebut. Namun, bila seorang anak memiliki kelemahan tertentu dia bisa terkena gangguan, yang salah satunya autisme", jelas Melly,
Melly juga merasakan peningkatan yang sangat tinggi dari pasien dengan spektrum autisma (atau dikenal dengan istilah anak autis). Walaupun Indonesia hingga saat ini tidak memiliki data konkrit terhadap angka pasien autisme, Melly tetap bisa melihatnya dari peningkatan jumlah pasien yang dia tangani.
"Bayangkan sebelum saya mendirikan YAI, paling saya menerima 3 pasien dengan spektrum autisma setiap tahun. Namun, setelah saya aktif dengan YAI peningkatannya terus terjadi setiap tahun. Dan saat ini dalam satu hari saya menerima 3 pasien baru. Itu juga sudah sangat saya batasi. Karena anak dengan spektrum autisma memiliki penanganan yang berbeda-beda dengan jangka waktu yang juga berbeda", jelas Melly.
Melly melihat salah satu faktor yang membuat autisme terus meningkat adalah karena masih banyak masyarakat yang belum memiliki cukup pengetahuan untuk mencegah dan juga menangani anak berkebutuhan khusus ini.
"Peningkatan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Amerika Serikat saja terjadi peningkatan yang cukup drastis. Pada 1994 mereka memiliki angka 1/5000, sekarang menjadi 1/80", ungkapnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




