"Aku Princess", Ajang Pencarian Bakat Anak Tanpa Materi Dewasa

Selasa, 8 Oktober 2013 | 09:48 WIB
KT
B
Penulis: Kharina Triananda | Editor: B1
Irfan Hakim, Nirina Zubir, dan Indra Bekti, dalam acara konferensi pers program
Irfan Hakim, Nirina Zubir, dan Indra Bekti, dalam acara konferensi pers program "Aku Princess" beberapa waktu lalu di Jakarta. (Kharina Triananda/Beritasatu.com)

Jakarta - Program televisi pencarian bakat yang menarget anak-anak bukan hal baru di Indonesia. Ajang pencarian bakat dalam bentuk performance art, mengaji, hingga sulap kerap terlihat di layar kaca. Namun, kebanyakan anak-anak yang berpartisipasi di acara-acara semacam itu menggunakan materi dewasa, demikian dikatakan Irfan Hakim dan Nirina Zubir saat konferensi pers ajang pencarian bakat anak "Aku Princess".

"Saat audisi untuk 'Aku Princess' sekitar sebulan yang lalu, banyak anak-anak yang menyanyikan lagu, berpakaian, dan bertingkah laku seperti orang dewasa. Bila kita melihat itu, langsung kita coret namanya", ujar Irfan Hakim pada acara jumpa pers di kantor RCTI, Jakarta, Senin (7/10).

Menurut Irfan, tindakan itu harus dilakukan, bukan untuk menyakiti anak yang menjadi kontestan, tetapi diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi para orangtua untuk mendidik dan mengasah bakat anak dengan memperkenalkan materi yang sesuai usia anak.

"Sebagai juri, kita sangat berharap acara ini bisa membuat mereka, selain jadi lebih baik dalam budi pekerti dan kemandirian, juga bisa menjadi diri sendiri. Itu yang penting", lanjut Irfan.

Kemudian, disebutkan Lala Hamid, pencetus program "Aku Princess" dan juga mantan direktur program RCTI, program ini merupakan pencarian bakat yang didasari keprihatinannya terhadap beberapa peserta "Miss World".

"Tiga tahun lalu kita menyiapkan ajang 'Miss World', saya dan teman-teman melihat bahwa untuk bisa menjadi ratu sejagat peserta harus memiliki banyak kelebihan selain wajah yang cantik. Namun, yang terjadi banyak dari mereka yang memiliki wajah cantik tanpa diikuti budi pekerti yang baik. Ada juga yang cantik dan berbudi pekerti, tetapi tidak mandiri", terang Lala.

Atas dasar itulah Lala berpikir, penting untuk menanamkan budi pekerti dan mengajarkan kemandirian kepada anak sejak dini.

"Dengan begitu budi pekerti dan kemandirian menjadi salah satu poin penting dalam ajang ini. Bahkan di masa karantina ini kami juga memberikan pelatihan bakat, bimbingan dan pengembangan intelektual dari para pelatih profesional hingga psikolog", tambah Untung Pranoto, Manager Operasional Produksi RCTI.

Lebih lanjut lagi, penentuan calon princess (sebutan untuk peserta Aku Princess yang lolos audisi) diserahkan langsung kepada para juri tanpa campur tangan pihak RCTI.

"Usia para calon princess (3 sampai 5 tahun) adalah usia yang menantang bagi para orangtua. Namun, bila bakatnya diasah dan diarahkan dengan baik, tentu akan mendapat hasil yang baik juga", imbuh Nirina.

Nirina, yang menjabat sebagai juru bicara program ini mengaku kesulitan saat harus menentukan siapa yang siap mengikuti program "Aku Princess" ini, terutama saat harus menggali kemampuan peserta audisi yang kurang percaya diri.

"Menggali kemampuan mereka dalam waktu yang singkat cukup sulit kita lakukan. Karena masing-masing anak memiliki tingkat kepercayaan diri yang berbeda. Jadi kita harus benar-benar teliti kira-kira apa yang paling menonjol dari mereka. Bahkan masing-masing anak di audisi dengan waktu yang berbeda-beda sesuai dengan cepat atau tidaknya dia menunjukan kemampuannya", jelas Nirina.

Penampilan 40 calon princess yang lolos audisi bisa disaksikan setiap hari Sabtu, mulai tanggal 12 Oktober pukul 12.30 WIB di RCTI.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon