Nudirman: Perampokan Uang Negara Dibuat Terlokalisir
Minggu, 23 Oktober 2011 | 20:13 WIB
"Lokalisasi kasus-kasus korupsi ini menjadi tren."
Anggota Komisi Hukum DPR dari Fraksi Partai Golkar, Nudirman Munir mengatakan, perampokan uang negara hanya dilokalisir pada satu orang pelaku, dan tidak ada penyelesaian secara tuntas.
"Belakangan ini, banyak uang negara yang dirampok. Namun hanya terlokalisir di satu orang saja," kata Nudirman, dalam diskusi bertajuk "Uang Negara Dirampok, Kenapa Tidak Diusut Secara Tuntas?", di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Nudirman memberikan contoh kasus mafia pajak, yang hanya terhenti di Gayus Halomoan Tambunan saja. Begitu juga katanya, dengan kasus dugaan suap pembangunan Wisma Atlet yang hanya dilokalisir sampai Nazaruddin.
"Lokalisasi kasus-kasus korupsi ini menjadi tren. Ada model baru, bagaimana melokalisir suatu kasus," kata Nudirman.
Menurut Nudirman lagi, pelokalisiran kasus tersebut harus dihentikan. Makanya, ia berharap ada tindak lanjut dari kasus-kasus perampokan uang negara tersebut. "Kami mau terus diusut. Jangan sampai (kasus cek perjalanan) hanya sampai Panda Nababan dan kawan-kawan, lalu yang memberi nggak ada kabar beritanya," kata Nudirman.
Nudirman juga mengatakan bahwa apabila suatu kasus tidak terlokalisir, maka bisa dilihat bahwa uang negara telah dirampok ratusan triliun. "Dari sektor pajak, menurut saya Rp 1.000 triliun uang negara sudah dihabisi," kata Nudirman pula.
Seperti diketahui, dalam pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid 2 hasil reshuffle, Presiden SBY menyatakan bahwa selama ini uang negara telah dirampok. SBY dalam kesempatan itu pun meminta agar kasus-kasus perampokan uang negara segera ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum.
Anggota Komisi Hukum DPR dari Fraksi Partai Golkar, Nudirman Munir mengatakan, perampokan uang negara hanya dilokalisir pada satu orang pelaku, dan tidak ada penyelesaian secara tuntas.
"Belakangan ini, banyak uang negara yang dirampok. Namun hanya terlokalisir di satu orang saja," kata Nudirman, dalam diskusi bertajuk "Uang Negara Dirampok, Kenapa Tidak Diusut Secara Tuntas?", di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Nudirman memberikan contoh kasus mafia pajak, yang hanya terhenti di Gayus Halomoan Tambunan saja. Begitu juga katanya, dengan kasus dugaan suap pembangunan Wisma Atlet yang hanya dilokalisir sampai Nazaruddin.
"Lokalisasi kasus-kasus korupsi ini menjadi tren. Ada model baru, bagaimana melokalisir suatu kasus," kata Nudirman.
Menurut Nudirman lagi, pelokalisiran kasus tersebut harus dihentikan. Makanya, ia berharap ada tindak lanjut dari kasus-kasus perampokan uang negara tersebut. "Kami mau terus diusut. Jangan sampai (kasus cek perjalanan) hanya sampai Panda Nababan dan kawan-kawan, lalu yang memberi nggak ada kabar beritanya," kata Nudirman.
Nudirman juga mengatakan bahwa apabila suatu kasus tidak terlokalisir, maka bisa dilihat bahwa uang negara telah dirampok ratusan triliun. "Dari sektor pajak, menurut saya Rp 1.000 triliun uang negara sudah dihabisi," kata Nudirman pula.
Seperti diketahui, dalam pelantikan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid 2 hasil reshuffle, Presiden SBY menyatakan bahwa selama ini uang negara telah dirampok. SBY dalam kesempatan itu pun meminta agar kasus-kasus perampokan uang negara segera ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




