Polisi Bidik Pencetak Dokumen Untuk Bobol Bank Syariah Mandiri

Jumat, 25 Oktober 2013 | 13:05 WIB
FA
B
Penulis: Farouk Arnaz | Editor: B1
Ilustrasi Pembobol Bank Syariah Mandiri Bogor Kantongi Rp 59 M
Ilustrasi Pembobol Bank Syariah Mandiri Bogor Kantongi Rp 59 M (Istimewa)

Jakarta - Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri berupaya mengejar aset milik empat orang tersangka kasus pembobolan Bank Syariah Mandiri cabang Bogor, Jawa Barat. Mereka juga memburu calon tersangka lain.

"Langkah kami selanjutnya yakni melakukan penelusuran aset untuk mengetahui hasil kejahatan mereka itu dibawa kemana saja," kata Direktur Tipideksus Bareskrim Polri Brigjen Arief Sulistyanto di Bareskrim Polri Jumat (25/10).

Sejauh ini, menurut Arief, pihaknya sudah menyita sembilan mobil mewah, serta satu motor gede. Pihaknya juga tengah menelusuri rekening-rekening yang diduga dijadikan tempat para pelaku menimbun kekayaan haramnya itu.

"Kita juga tengah membidik calon tersangka baru. Tapi jangan saya ceritakan dulu, nanti dia kabur," tambahnya.

Menurut seorang penyidik yang menangani kasus ini, calon tersangka itu adalah para pihak yang selama ini membantu mencetak dan membuat KTP dan kartu keluarga fiktif palsu. Kartu identitas itu selanjutnya digunakan sebagai modus oleh para tersangka untuk pengajuan kredit kepemilikan perumahan.

"Orang-orang yang membantu Iyan Permana membuat KTP dan kartu keluarga. Orang-orang percetakan," tambahnya namun menolak menceritakan detil buruannya itu.

Seperti diberitakan, sudah ada empat tersangka dalam kasus ini yang telah ditangkap dan ditahan. Yakni seorang developer bernama Iyan Permana dan tiga bos BSM Bogor yakni Kepala Cabang Utama BSM Bogor M Agustinus Masrie, Kepala Cabang Pembantu BSM Bogor Haerulli Hermawan, dan Accounting Officer BSM Bogor John Lopulisa.

Iyan yang mengumpulkan dan membuat dokumen kredit KTP dan KK asli tapi palsu tapi fiktif. Dokumen itu tidak ada orangnya dan diajukan ke BSM hanya fotocopynya saja.

Namun karena bekerjasama dengan orang dalam, akal bulus Iyan ini berjalan mulus. Total pembiayaan yang keluar sebesar Rp 102 milyar dengan potensi kerugian sebesar Rp 59 milyar.

Kredit pinjaman perumahan itu rata-rata cair sebesar Rp 100-200 juta yang masuk ke kantung para pelaku. Mereka melakukan aksi jahatnya ini sejak Juli 2011 hingga Mei 2012.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon