Anak Muda Enggan Berpolitik Akibat Perilaku Korup Elite

Selasa, 29 Oktober 2013 | 20:58 WIB
YS
B
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: B1
Terdakwa korupsi pengadaan Simulator SIM Korlantas Polri Irjen Pol Djoko Susilo mengikuti sidang dengan agenda pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (3/9). SP/Joanito De Saojoao
Terdakwa korupsi pengadaan Simulator SIM Korlantas Polri Irjen Pol Djoko Susilo mengikuti sidang dengan agenda pembacaan vonis di Pengadilan Tipikor Jakarta, Selasa (3/9). SP/Joanito De Saojoao (Suara Pembaruan/SP/Joanito De Saojoao)

Jakarta - Pengamat pemilu dan politik Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini, berpendapat, banyak faktor yang membuat anak muda tidak tertarik soal politik dan pemilu.

Pertama, perilaku elite dan partai politik (parpol) yang identik dengan perilaku korup, skandal, dan kontroversi membuat anak muda menganggpap politik bukanlah sesuatu yang baik. Politik itu tercela, kotor dan harus dijauhi.

"Bagaimanapun bicara politik akan sulit kita lepaskan dari figur-figur elite dan politisi yang banyak mendapatkan sorotan dari media massa," kata Titi, Selasa (29/10).

Menurutnya, sepanjang parpol tidak punya tokoh alternatif yang membantah berbagai stereotipe yang ada soal politik yang korup dan kontroversial, maka sepanjang itulah mereka akan sulit menjangkau anak muda.

Anak muda mestinya dapat jadi harapan baru dan mambawa politik tanah air semakin baik. Namun, sistem korup dan dinamika partai terlalu kuat berpengaruh terhadap seluruh anak muda.

Dijelaskan, ketika ideologi dan integritas dihadapkan pada uang dan kekuasaan, akhirnya tarikan uang dan kekuasaan menjadi lebih kuat. Sebab tidak ada proteksi lain yang bisa membantu pertahanan anak muda yang bisa diharapkan untuk melindungi diri dari perilaku korup, serta money and power oriented.

"Lingkungan yang hampir keseluruhan permisif terhadap perilaku korup, maupun penyimpangan-penyimpangan membuat integritas dan ideologi menjadi luntur. Akhirnya yang jadi perekat utama adalah uang dan kekuasaan," ucap Titi.

Ditegaskan, kunci dari semua itu berada di kaderisasi dan demokratisasi internal partai politik. Kalau dua hal tersebut mampu diterapkan secara konsisten maka harapan akan lahirnya tokoh-tokoh muda alternatif akan lebih mungkin terjadi.

"Kalau kita punya banyak tokoh alternatif yang bisa menjadi referensi untuk sikap, perilaku, dan integritas maka politik bisa jadi bukan lagi sesuatu yg menakutkan dan perlu dijauhi bagi anak muda kita," ucapnya

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon