Nasionalisme Luntur, Tokoh Muda Salahkan Neoliberalisme
Rabu, 30 Oktober 2013 | 11:47 WIB
Jakarta - Tokoh muda PDIP Ahmad Baskara mengemukakan fakta bahwa menurunnya integritas dan kredibilitas kaum muda Indonesia saat ini, salah satunya disebabkan karena tidak adanya pembangunan mental dan karakter nasional bangsa Indonesia oleh negara.
Pembangunan mental dan karakter bangsa di era reformasi sudah diserahkan ke mekanisme pasar seiring dengan kemenangan paham neoliberalisme di Indonesia.
"Neoliberalisme dan kapitalisme membawa cacat bawaan yaitu melahirkan watak pragmatisme. Sikap pragmatisme tersebut akhirnya memunculkan sikap menghalalkan segala cara yang mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan bangsa dan negara," kata Baskara di Jakarta, Rabu (30/10).
Wakil Sekjen PDIP ini menyebut hancurnya spirit nasionalisme dan patriotisme kaum muda Indonesia karena memang didesain oleh agenda kaum neoliberalisme yang sudah eksis di Indonesia saat ini.
Jika ingin membangun kembali spirit nasionalisme tersebut maka dominasi paham neoliberalisme harus dilawan.
Peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lusius Karus mengemukakan dunia politik saat ini tidak menjadi pilihan utama kaum muda karena zaman sekarang memang tidak lagi percaya pada kekuatan politik murni sebagai penentu. Nasionalisme atau kebangsaan itu tidak lagi menjadi jargon yang terpateri dalam benak anak muda masa kini.
"Kebangsaan merupakan sebuah imaginasi yang dahulu sukses menjadi pemicu generasi muda meraih kemerdekaan. Sekarang kata 'bangsa' tak lagi terdengar dari mulut para pemimpin semenjak terakhir Soeharto digulingkan," kata Lusius di Jakarta, Rabu (30/10).
Ia menjelaskan sebagai gantinya, kaum muda sekarang ini cenderung memberhalakan perintah baru zaman globalisasi yaitu kapitalisme. Uang dan materi menjadi segalanya.
Ketika uang menjadi panglima dan nasionalisme tak lagi mengalir dalam nadi kaum muda maka tak ada lagi perekat yang menghidupi imajinasi berbangsa pada diri kaum muda.
Semua bergerak bagai robot dengan target menumpuk harta apapun caranya. Politik dilihat sebagai salah satu cara bagi kaum muda untuk mendapatkan harta itu. Maka kaum muda yang terlibat korupsi tak nampak berwajah sesal ketika divonis korup oleh publik dan penegak hukum.
Meski demikian, dia menegaskan tidak banyak kaum muda yang tertarik dengan politik seperti itu. Walau sama-sama dikuasai globalisasi-kapitalistik, pemuda kebanyakan tetap memegang prinsip bisnis pasar yang fair atau halal dalam mencari uang. Materi walau mutlak bagi kaum muda, tapi tak lalu menjadi alasan untuk bebas mencuri. Ini tentu berbeda dengan cara koruptor muda dalam menumpuk harta yang dilakukan dengan melanggar prinsip kejujuran.
"Contoh buruk politisi muda yang ingin kaya dengan memanfaatkan politik melahirkan antipati dari kaum muda. Memang antipati itu lagi-lagi bukan karena jiwa kebangsaan yang menyala pada diri anak muda, tetapi melulu karena prinsip kapitalisme global yang menghargai keadilan," ujarnya.
"Jadi jika hanya sedikit kaum muda yang tertarik masuk dunia politik, itu hanya karena pancaran politik itu tidak lagi bernilai lebih untuk bonum comunae. Ketika politik hanya menjadi lahan pekerjaan demi mendapatkan duit dan terkadang menghalalkan segala cara, kaum muda memilih untuk menjadi pebisnis biasa tanpa harus ribut-ribut di ruang publik," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




