Meski Rupiah Melemah, Laba PGN Tetap Naik Jadi US$ 641 Juta

Rabu, 30 Oktober 2013 | 17:48 WIB
B
WP
Penulis: BeritaSatu | Editor: WBP

Petugas memutar katup untuk memasukan gas kedalam pipa di Stasiun Penerima dan Penyalur Gas milik Perusahaan Gas Negara (PGN) di Bojonegoro, Serang, Banten.
Petugas memutar katup untuk memasukan gas kedalam pipa di Stasiun Penerima dan Penyalur Gas milik Perusahaan Gas Negara (PGN) di Bojonegoro, Serang, Banten. (Antara)

Jakarta - PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) hingga kuartal III-2013 mencatat laba bersih US$ 641,61 juta atau meningkat 3 persen dari periode yang sama tahun lalu US$ 621,28 juta.

Naiknya pendapatan menjadi pemicu kenaikan laba perusahaan pelat merah di bidang infrastruktur gas tersebut.

"Selama periode sembilan bulan 2013, PGN mencatatkan pendapatan neto sebesar US$ 2,20 miliar, meningkat 20 persen dari US$ 1,83 miliar di periode yang sama tahun 2012," kata Direktur Utama PGN, Hendi Prio Santoso dalam keterangan tertulisnya, Rabu (30/10).

Pada periode Januari- September 2013 laba bruto mencapai US$ 1,04 miliar atau turun dari US$ 1,08 miliar, sementara laba operasi sebesar US$ 697,59 juta. PGN juga mencatatkan EBITDA sebesar US$ 836,04 juta atau turun dari US$ 921 juta.

Hendi mengatakan, sementara anak perusahaaan, PT Saka Energi Indonesia (Saka) mulai mencatatkan pendapatan dari hasil akuisisi Kufpec Indonesia (Pangkah) BV, pemegang 25 persen participating interest Blok Pangkah.

"Pendapatan dari blok yang telah berproduksi tersebut mulai dicatatkan sejak Juli 2013 dan menyumbangkan pendapatan sebesar US$ 17 juta terhadap pendapatan konsolidasian PGN," kata Hendi.

Dua blok lainnya, yaitu Blok Ketapang di Jawa Timur dan Blok Bangkanai di Kalimantan Tengah yang diakuisisi oleh Saka diperkirakan akan berproduksi mulai akhir tahun 2014.

Dari sisi beban pokok pendapatan, kenaikan harga beli gas dari pemasok mulai 1 September 2012 dan 1 April 2013 mempengaruhi kenaikan beban pokok pendapatan di periode sembilan bulan 2013 sebesar 54 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Selain itu, kata Hendi, penguatan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpengaruh terhadap pendapatan selisih kurs yang berasal dari translasi aset dan kewajiban dalam mata uang Yen ke dolar AS dan transaksi dari kegiatan usaha PGN dalam mata uang asing.

"Pelemahan mata uang asing terhadap mata uang dolar AS memberikan keuntungan selisih kurs (neto) sebesar US$ 58 juta," kata dia.

Ditengah upaya pengembangan bisnis, Hendi mengungkapkan, PGN tetap fokus memperkuat bisnis distribusi dan transmisi gas di Indonesia. Integrasi antara bisnis distribusi dan transmisi diperlukan agar PGN dapat menjalankan tugasnya dalam mempercepat dan memperluas pembangunan infrastruktur jaringan transmisi dan distribusi gas di Indonesia

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon