Menjejak Dahsyatnya Fajar Bromo

Senin, 11 November 2013 | 14:37 WIB
B
B
Penulis: BeritaSatu | Editor: B1
Bromo
Bromo (Burufly)

Titik utama untuk mencapai Bromo adalah sebuah gerbang bernama Cemoro Lawang di ujung timur laut Kaldera Tengger. Desa Ngadisari yang terletak 5,5 kilometer sebelum Cemoro Lawang menandai pintu masuk menuju taman nasional ini.

Baik Cemoro Lawang maupun Ngadisari terlihat indah dengan rumah-rumah yang dicat dengan warna cerah serta taman bunga di depannya. Memberikan perasaan menyenangkan bagi para pendatang yang berkunjung.

Area di dalam dan sekitar taman nasional ini dihuni oleh Suku Tengger, salah satu dari sedikit masyarakat Hindu yang tersisa di pulau Jawa. Suku Tengger diyakini sebagai keturunan bangsawan Majapahit dan tersingkir ke kawasan perbukitan setelah kedatangan kaum muslim Madura di abad ke-19.

Kehidupan beragama tidak mendominasi suku Tengger, terlihat dari sedikitnya tempat ibadah yang ada,
diantaranya Pura Luhur Poten yang berada di tengah lautan pasir. Populasi Suku Tengger sekarang berjumlah sekitar 600.000 orang dan tersebar di 30 desa di sekitar taman nasional.

Momen terbaik di Bromo adalah ketika melihat keindahan matahari terbit. Inilah alasan utama mengapa orang-orang datang untuk melihat fajar menyingsing pada pukul 05:00.

Perjalanan mendaki dari Bromo ke Batok, lalu memutari pinggirannya ke Penanjakan akan memakan waktu sekitar tiga jam. Terkadang pendakiannya terasa sulit, namun kenangan yang Anda peroleh dengan melakukannya menjadikan semua itu layak dilakukan.

Tulisan-tulisan Hindu Jawa kuno mengungkap bagaimana Bromo-Penanjakan-Semeru diyakini sebagai poros spiritual di alam semesta – pusat dari seluruh penciptaan. Pemandangan yang menyambut Anda saat tiba di Penanjakan menjelaskan itu semua, sungguh luar biasa.

Karena jalan kecil di puncak tangga menuju Gunung Bromo hanyalah selebar satu meter, dan ada beberapa titik yang terjal, perjalanan ini bisa cukup berbahaya. Bergeraklah dengan sangat hati-hati.

Membawa senter untuk pendakian sebelum fajar sangatlah penting. Anda juga harus selalu waspada. Udara malam hari di atas sangatlah dingin.

Mungkin lebih dingin dibanding tempat mana pun di Indonesia selain dataran tinggi Papua – dengan temperatur tak jauh di atas nol di malam hari. Nikmati Bromo dan kenangan fajarnya akan selalu melekat di ingatan Anda.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon