Menhut Dorong Penggunaan Bibit Unggul Bersertifikat
Sabtu, 16 November 2013 | 01:21 WIB
Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemhut) mendorong penggunaan benih unggul bersertifikat untuk meningkatkan keberhasilan dan produktivitas penanaman pohon.
Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan di Jakarta, Jumat (15/11) mengatakan, meningkatnya gairah menanam belakangan ini perlu didukung dengan penggunaan benih unggul. Lima jenis pohon yang benihnya wajib diambil dari sumber benih bersertifikat adalah Jati, mahoni, Sengon, Gmelina, dan Jabon.
"Penggunaan benih unggul menjamin keberhasilan dan produktivitas tanaman," ujarnya seusai membuka Expo Perbenihan Tanaman Hutan di Kementerian Kehutanan.
Dia mencontohkan, dengan penggunaan benih bersertifikat, maka pohon Sengon bisa dipanen hanya dalam waktu 5 tahun yang mana hasilnya dapat mencapai Rp 300 juta per hektare.
Sementara tanaman Jati yang berasal dari benih berkualitas bisa dipanen dalam waktu 10 tahun dan laku di pasaran Rp 7 juta/m3.
"Ini bukti nyata benih unggul bersertifikat bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Menhut sudah menerbitkan Surat Keputusan No.707/Menhut-II/2013 tentang penetapan Jenis Tanaman yang Benihnya Wajib diambil dari Sumber Benih Bersertifikat.
Berdasarkan keputusan tersebut, benih pohon Jati, mahoni, Sengon, Gmelina, dan Jabon wajib diambil dari sumber benih bersertifikat.
Keputusan tersebut juga mengatur kegiatan yang berhubungan dengan penyediaan benih, pengedaran, dan penanaman untuk kepentingan publik pada kawasan hutan yang menggunakan lima jenis tanaman tersebut.
Menhut mengingatkan, meski pemerintah mendorong penggunaan benih bersertifikat tersebut namun diharapkan proses sertifikasi dan pemanfaatannya tidak menimbulkan biaya yang memberatkan bagi masyarakat.
Zulkifli juga meminta agar kegiatan pemuliaan terus dilakukan untuk terus meningkatkan kualitas benih,selain itu Perhutani dan BUMN Kehutanan lainnya bisa mendukung penyaluran sumberdaya genetik yang dimiliki untuk tujuan pemuliaan tanaman, khususnya Jati dan Pinus.
Sementara itu Presiden Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) Kusnan Rahmin menyatakan penggunaan benih unggul sangat penting dalam pengembangan hutan tanaman industri.
Menurut dia, penggunaan bibit unggul bisa meningkatkan produktivitas sehingga memperpendek waktu panen tanaman.
Saat ini pihaknya memanfaatkan tanaman jenis akasia mangium dan akasia krasikarpa untuk dikembangkan di HTI-nya.
Dengan memanfatkan benih unggul, tambahnya, perusahannya bisa memanen kayu sebanyak 150-200 m3 per hektare dalam jangka waktu lima tahun.
"Kami terus mengembangkan riset untuk meningkatkan produktivitas supaya panen bisa diperpendek menjadi 3,5 tahun saja," kata Kusnan.
Dia menuturkan, menggenjot produktivitas tanaman menjadi pilihan untuk meningkatkan produksi bahan baku kayu bagi industri pulp. Apalagi, sampai saat ini RAPP juga belum memiliki rencana untuk mengajukan permohonan perizinan baru HTI untuk ekstensifikasi areal penanaman.
Dia menambahkan, kualitas benih yang dihasilkan perusahaan dalam negeri sudah diakui dunia, hal itu dibuktikan dengan diekspornya benih yang dihasilkan ke China dan Malaysia.
"Dengan diterimanya benih RAPP di Malaysia dan China maka kualitas benih dari Indonesia telah diakui dunia," imbuh Kusnan.
Saat ini RAPP menghasilkan 200 juta bibit setiap tahunnya dari pusat pembibitan di Pelalawan, Pangkalan Kerinci, Baserah dan satellite nursery yang tersebar di area konsesi perusahaan.
Kapasitas ini cukup menampung kebutuhan penanaman yang dilakukan perusahaan sekitar 500.000 pohon setiap hari.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




