Hujan Batu dan Abu Sinabung Landa Karo dan Medan
Minggu, 24 November 2013 | 07:29 WIB
Karo - Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), kembali meletus. Letusan itu terjadi terjadi berulangkali, dan mengakibatkan "hujan" batu di dua desa dan abu vulkanik "menyelimuti" kota Medan, Binjai, Deli Serdang dan lainnya.
Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, erupsi pertama terjadi sekitar pukul 21.26 WIB. Abu vulkanik dibawa angin ke arah utara dan timur laut. Letusan kedua terjadi pukul 21.38 WIB.
Erupsi ketiga sekitar pukul 22.02 WIB. Letusan itu pun terus berlangsung, namun sulit diamati karena kondisi hujan dan kabut. Sutopo meyakini, gunung tersebut masih terus erupsi pascaletusan tersebut. Dan, empat desa lagi terpaksa dikosongkan akibat letusan tersebut.
"Kami sudah merekomendasikan empat desa agar dikosongkan. Desa yang dikosongkan itu adalah Desa Kuta Gugung, Kuta Rakyat, Sigarang-garang dan Sukanalu. Masyarakat di sana segera dievakuasi untuk dibawa ke tempat pengungsian. Ini demi keselamatan," katanya.
Lokasi desa itu, kata Sutopo, merupakan yang terkena "hujan" batu. Batu yang disemburkan Gunung Sinabung ke tengah pemukiman penduduk itu sebesar kelereng. Masyarakat di sana pun berhamburan saat merasakan "hujan" batu itu. Lokasi desa sekitar 4 kilometer dari Gunung Sinabung tersebut.
Medan
Letusan Gunung Sinabung itu ternyata mulai dirasakan masyarakat kota Medan, Binjai, Deli Serdang dan lainnya. Abu vulkanik yang disemburkan itu sangat dirasakan mengganggu aktivitas, khususnya buat pengguna jalan. Jarak pandang sangat pendek di akhir pekan itu.
"Malam kejadian saya melintas di sepanjang kawasan Jl Halat - Juanda - Monginsidi - Jamin Ginting sampai Ringroad kawasan Gagak Hitam. Pengendara tidak leluasa membawa kendaraan, sebab abu sangat mengganggu perjalanan," ujar seorang warga Medan, Ridwan (40).
Hal yang sama juga dirasakan warga Binjai, Joko Susilo. Pria berusia 50 tahun ini semula menduga jarak pandang yang pendek itu dipengaruhi oleh kabut tebal. Namun, Joko terkejut karena udara yang dihirup ternyata berbau abu. Padahal, saat malam kejadian, situasi jalan tidak padat.
"Abu vulkanik hasil erupsi Gunung Sinabung itu diketahui berdasarkan laporan dari masyarakat lainnya. Sebab, tanpa disadari, abu vulkanik itu juga menempel di pakaian yang dipakai masyarakat. Seluruh kendaraan terpaksa jalan pelan pada malam akhir pekan itu," ungkapnya.
Di Kabupaten Deli Serdang, abu vulkanik hanya menyelimuti sebagian kawasan di Sunggal, Tanjung Anom dan kawasan Sibolangit. Saat kejadian, aktivitas di beberapa kawasan tersebut sudah sunyi, dan tidak banyak kendaraan yang melintas dari kawasan tersebut.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




