Eugenia Siahaan

Spesialis di Dunia Kesehatan

Kamis, 28 November 2013 | 11:23 WIB
IH
AB
Penulis: Indah Handayani | Editor: AB
Euginia
Euginia (Istimewa)

Dunia kesehatan semakin berkembang pesat saat ini. Sayangnya, informasi mengenai perkembangan dunia kesehatan tersebut masih terbilang minim. Kondisi tersebut membuat Eugenia Siahaan memutuskan
perusahaan konsultan public relation (PR) yang dipimpinnya menjadi spesialisasi kehumasan di dunia kesehatan. Apa tantangannya?

Eugenia mengisahkan awal keputusannya untuk menjadi konsultan PR di dunia kesehatan terjadi pada 2001. Kala itu, kenang dia, perusahaan konsultan PR tidak banyak fokus pada dunia kesehatan. Padahal, saat itu tren di luar negeri untuk konsultan PR adalah spesialisasi dalam suatu bidang tertentu.

Kala itu ia banyak mendengar keluhan dari para dokter yang kesulitan berkomunikasi dengan masyarakat dalam menyampaikan informasi mengenai dunia kesehatan. Alhasil, masyarakat Indonesia banyak yang kurang sadar terhadap kesehatan.

Menurut Eugenia, hal tersebut terjadi karena bahasa yang digunakan oleh para dokter sangat ilmiah, sedangkan masyarakat awam tidak mengerti bahasa tersebut. Mengingat, perbedaan antara dunia
kedokteran dengan masyarakat awam sangat jauh, ditambah banyaknya mitos beredar di masyarakat.

Untuk itulah, tambah ibu tiga anak, diperlukan konsultan PR yang bisa menjembatani bahasa ilmiah tersebut agar bisa sampai kepada masyarakat. "Hal tersebut agar dapat meningkatkan awareness masyarakat terhadap dunia kesehatan," ungkapnya di Jakarta, belum lama ini.

Membaca Jurnal Ilmiah
Perempuan kelahiran 28 September 1968 mengaku bukan hal mudah menjadi konsultan PR di dunia kesehatan. Tak heran apabila membuat press release di bidang kesehatan terbilang sangat sulit. Sebab, bahasa yang digunakan sangat ilmiah dan harus dijelaskan ke dalam bahasa masyarakat awam.

Untuk itu, ia pun sering kali tak segan membaca jurnal ilmiah, berbagai literatur dunia kesehatan, hingga
bertukar pikiran dengan para dokter. "Pertama kali saya mendapatkan klien untuk penyakit leukimia dan
di situ saya dites tentang penyakit tersebut. Akhirnya saya sadar bidang kesehatan sangat menarik, semakin mendalami akan semakin menarik," ujar lulusan komunikasi Universitas Indonesia ini.

Eugenia mengaku pengalaman yang paling berharga adalah ketika menangani klien yang merupakan para psikiater untuk menghilangkan stigma pasien sakit jiwa. Kala itu, tidak mudah memberikan pengertian kepada masyarakat melalui media massa  mengenai pasien sakit jiwa. Sebab, masyarakat sering mengucilkan dan memandang rendah pasien sakit jiwa, bahkan mereka yang telah sembuh.

Alhasil, banyak mantanpasien sakit jiwa sulit diterima oleh masyarakat, bahkan keluarga mereka sendiri. "Sebab,
walau sudah sembuh mereka masih dicap penderita sakit jiwa," tegasnya.

Setelah tiga tahun melakukan edukasi kepada masyarakat melalui media, banyak yang sudah tidak lagi memandang
mantan pasien sakit jiwa sebelah mata. Bahkan, saat ini banyak orang mulai sadar tentang penyakit kejiwaan. Salah satunya adalah skizofrenia. Saat ini, psikiater malah kebanjiran pasien karena merasa ada yang salah pada diri mereka.

"Hal tersebut merupakan sebuah kebanggaan tersendiri karena kami mampu memberikan pengetahuan kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon