Pengungsi Sinabung Harapkan Kedatangan Presiden SBY

Rabu, 4 Desember 2013 | 07:27 WIB
AS
B
Penulis: Arnold H Sianturi | Editor: B1
Petugas kesehatan memeriksa warga di pengungsian Tiga Binanga Kab Karo, Sumut, Selasa (26/11).
Petugas kesehatan memeriksa warga di pengungsian Tiga Binanga Kab Karo, Sumut, Selasa (26/11). (ANTARA FOTO/Septianda Perdana)

Karo - Pengungsi korban letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut) mengharapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bisa melihat langsung situasi pengungsi.

"Bila memang memungkinkan, kami juga ingin dihibur oleh Presiden untuk kumpul bersama di tengah pengungsi saat malam hari," ujar seorang wanita pengungsi asal Tiga Ndreket, Dewi, kepada SP, Rabu (4/12).

Dewi mengutarakan hal tersebut karena Presiden SBY pernah bermalam di tengah pengungsi sebelum terjadi letusan gunung di Yogyakarta, beberapa tahun silam. Presiden main bernyanyi di tengah pengungsi.

"Tahun 2010 lalu Presiden SBY memang datang untuk melihat pengungsi. Namun, Presiden tidak bermalam di daerah bencana ini. Saat itu, Presiden bersama rombongan hanya bermalam di hotel berbintang di Medan," katanya.

Pengungsi lainnya, Elisa Beru Tarigan menyampaikan, kedatangan Presiden dipastikan membawa nilai positif buat belasan ribu pengungsi tersebut. Kedatangan Presiden dapat mengobati perasaan sedih pengungsi.

"Kehadiran Kepala Negara pun dipastikan membuat pemerintah daerah bersama tim penanggulangan bencana akan memberikan pelayanan yang maksimal terhadap pengungsi. Tidak seperti sebelumnya," ungkapnya.

Menurutnya, banyak yang perlu diperhatikan pemerintah pusat, daerah maupun kabupaten buat masyarakat atas musibah bencana gunung meletus tersebut. Bencana itu membuat masyarakat kehilangan mata pencarian.

"Lahan pertanian sudah hancur total. Kerugian masyarakat cukup besar. Padahal, mata pencarian masyarakat di sini dari bertani dan beternak. Bantuan pemerintah pusat dan daerah sangat dibutuhkan," sebutnya.

Sementara itu, aparat kepolisian bekerjasama dengan TNI masih melakukan pengamanan di 21 desa yang berada sekitar 5 kilometer (Km) dari Gunung Sinabung. Aparat ini juga mempersiapkan bus.

"Ini dilakukan aparat untuk mengantisipasi adanya pencurian di tengah pemukiman masyarakat selama ditinggalkan," ujar Kepala Bagian Dokumentasi Informasi dan Liputan Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan.

Menurutnya, aparat juga mempersiapkan angkutan untuk melakukan evakuasi buat masyarakat jika terjadi kemungkinan terburuk dari erupsi gunung merapi tersebut. Upaya penyelamatan diutamakan.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, sudah 21 desa di Kabupaten Tanah Karo yang dikosongkan karena aktivitas Gunung Sinabung yang naik ke level IV. Jumlah pengungsi lebih dari 17.281 jiwa.

Desa yang dikosongkan itu adalah 21 desa, Desa Sukameriah, Desa Guru Kinayan, Desa Selandi Lama, Desa Kutarakyat dan Desa Sigaranggarang di Kecamatan Payung, Desa Berastepu, Desa Sibintun, Desa Gamber dan Desa Kuta Tengah, Desa Kuta Mbelin, Desa Kebayaken.

Desa Kuta Tonggal dan Desa Sukanalu di Kecamatan Simpang Empat, Desa Bekerah, Desa Simacem, Dusun Lau Kawar, dan Dusun Gugung di Kecamatan Naman Teran. Desa Tiganderket, Desa Mardinding, Desa Temburun dan Desa Kuta Mbaru di Kecamatan Tiganderket.

Masyarakat pengungsi tersebar di beberapa lokasi pengungsian yang di antaranya terdapat di Losd Tiga Binanga, GBKP Payung, dan Masjid Agung Kabanjahe. Asrama Kodim Kabanjahe, Jambur Natolu, Islamik Center, Losd Tanjung Mbelang, Losd Tanjung Pulo dan lainnya.

Selain itu, ada juga warga yang mengungsi ke Kabupaten Langkat, Medan, Binjai dan daerah lainnya. Ada yang mengungsi dengan menumpang tempat tinggal di rumah sanak keluarganya masing - masing.

Jumlah warga yang meninggalkan Kabupaten Karo itu diperkirakan mencapai ribuan orang. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon