Catatan Akhir Tahun Bulutangkis

Menatap Olimpiade 2016, Memodernisasi PBSI

Sabtu, 28 Desember 2013 | 21:26 WIB
SA
FB
Penulis: Shesar Andriawan | Editor: FMB
Kepala Sub-Bidang Pelatnas PBSI, Ricky Soebagdja.
Kepala Sub-Bidang Pelatnas PBSI, Ricky Soebagdja. (Shesar Andriawan/Beritasatu.com)

Jakarta - Dibandingkan masa jaya bulutangkis pada masa akhir milenium, saat ini prestasi bulutangkis memang menurun. Namun setidaknya, bulutangkis masih bisa memenuhi target medali emas di SEA Games XXVII di Myanmar bulan ini. Manajer tim bulutangkis, Ricky Soebagdja, memberi target tiga emas dan dua perak setelah mencermati kekuatan lawan.

Indonesia bahkan bisa saja melakukan sapu bersih andai Dionysius Hayom Rumbaka dan Greysia/Nitya sukses menang di final. Tunggal putri yang tak terlalu diharapkan justru bisa meraih emas. Di final, Bellaetrix Manuputty tampil tenang dan nyaman meladeni anak muda Thailand, Busanan Ongbumrungpan.

Langkah bijaksana Ricky yang tidak sesumbar seperti pernyataan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo yang menargetkan 120 emas namun di akhir cerita hanya bisa meraup 65 emas. Tercatat hanya bulutangkis (tiga emas), wushu (empat), dan berkuda (dua) yang bisa memenuhi target yang dicanangkan masing-masing PB. Catur (empat emas dari target dua) dan kempo (tujuh dari target enam) lebih baik lagi karena malah bisa melebihi target.

Namun SEA Games memang sudah seharusnya tak lagi menjadi patokan. Target jangka panjang PBSI adalah meraih kembali 'si anak hilang' yaitu emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016.

Untuk mewujudkan target itu, Rexy beserta timnya melakukan pembenahan di banyak bidang. Sains olahraga mulai diterapkan. Yang paling sederhana adalah mengamati pemain lawan melalui rekaman video.

Rexy mendorong pelatih mengadaptasi hal ini karena baginya tentu seorang pelatih tak mungkin bisa menngingat informasi calon lawan anak didiknya. Alasan lain adalah karena ia melihat sains olahraga sudah diterapkan di banyak negara. Jika Indonesia tak ikut memanfaatkan, alamat makin tertinggal nantinya.

Tommy pun pernah mengungkapkan manfaat sains olahraga yang mulai diterapkan pelatnas.

"Jadi bisa tahu pemain lawan ini lemahnya di mana, pukulannya sering ke arah mana. Kita jadi bisa tahu nanti bagusnya mukul ke arah mana," ujar Tommy.

PBSI juga membuat terobosan dengan sistem sponsor individu. Sebelumnya, sponsor yang masuk akan bidding ke PBSI dan menjadi sponsor bagi semua pemain pelatnas. Yonex selama 40 tahun lebih telah menjadi sponsor kolektif bagi para pemain pelatnas.

Kini, sponsor bidding langsung ke tiap pemain. Besaran kontraknya tentu berbeda. Butet, misalnya, mendapat nilai kontrak lebih dari Rp 1 M untuk dua tahun. Sementara nilai kontrak sponsor terkecil adalah Rp 25 juta.

Dijelaskan oleh Menteri Perdagangan ini, semua hasil dari sponsor individu, baik uang tunai, maupun bonus juara, semuanya diberikan secara penuh kepada pemain dan pelatih.

"Hasil dari sponsor individu, semuanya untuk pemain dan pelatih. Ini untuk memacu semangat dan motivasi pemain untuk berlomba-lomba mengukir prestasi setinggi-tingginya," ujar Gita dikutip dari situs resmi PBSI.

Seperti hukum ekonomi masa kini, pemain yang berprestasi akan menarik minat sponsor dan mendapat nilai kontrak lebih besar. Sebaliknya, jika stagnan atau malah menurun maka dengan sendirinya nilai kontraknya terus anjlok. Singkatnya, besaran nilai kontrak sponsor tergantung pemain sendiri.

Lanjut ke bagian lima

Bagian 1/5

Bagian 2/5

Bagian 3/5

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon