Kempera: Rumah di Area Sawah Produktif Tak Disubsidi
Rabu, 5 Februari 2014 | 19:52 WIB
Jakarta - Kementerian Perumahan Rakyat (Kempera) tidak akan memberikan subsidi untuk rumah tapak yang dibangun di area persawahan produktif di seluruh Indonesia. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi berkurangnya kawasan persawahan untuk perumahan masyarakat serta menunjang ketersediaan bahan pangan di masa yang akan datang.
Menteri Perumahan Rakyat, Djan Faridz menegaskan hal tersebut di sela-sela kegiatan pembahasan usulan program pengembangan kawasan dan bimbingan teknis pelaksanaan Dana Alokasi Khusus (DAK) Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Tahun Anggaran 2014 di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (5/2).
Turut hadir pada acara tersebut sekitar 19 kepala daerah dari pemerintah kabupaten kota yang ada di daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Kalimantan, asosiasi pengembang di Indonesia serta para pejabat di lingkungan Kemenpera.
Menurut Djan, saat ini pihaknya tengah menyusun Peraturan Menteri Perumahan Rakyat (Permenpera) yang akan mengatur pemanfaatan lahan untuk kawasan perumahan.
"Ke depan, kami tidak akan memberikan subsidi untuk rumah yang dibangun pengembang di area sawah produktif di daerah lumbung padi di Indonesia," tegas Djan.
Djan mengatakan, pemanfaatan tanah di daerah persawahan di daerah kerap menimbulkan permasalahan jangka panjang dan berdampak pada ketersediaan lahan untuk tanaman padi. Oleh karena itu, dirinya merasa perlu pengaturan khusus agar pemerintah daerah juga bisa ikut mengantisipasi timbulnya dampak jangka panjang pembangunan rumah di lahan sawah.
Ke depan, kata dia, Kempera akan mendorong pembangunan hunian vertikal sehingga rumah yang dibangun oleh masyarakat minimal memiliki dua lantai serta para pengembang di daerah untuk membangun rumah susun (rusun). Hal tersebut juga pernah dilaksanakan oleh Perumnas yang membangun hunian minimal empat hingga lima lantai untuk masyarakat sehingga mereka ke depan terbiasa hidup di rusun.
Djan mengajak masyarakat untuk membangun rumah minimal dua lantai, sehingga tanah yang digunakan untuk pembangunan rumah tidak terlalu besar dan bisa memanfaatkan tanah yang ada untuk bercocok tanam dan resapan air.
"Sebenarnya masyarakat juga tidak terlalu repot jika tinggal di Rusun tapi mereka belum terbiasa saja," tambahnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




