Depok Masih Kekurangan Jamban

Sabtu, 1 Maret 2014 | 15:58 WIB
DS
B
Penulis: Dwi Argo Santosa | Editor: B1
Ilustrasi Toilet
Ilustrasi Toilet (Istimewa/Istimewa)

Depok -Salah satu permasalahan lingkungan di Kota Depok, Jawa Barat, selain sampah adalah sanitasi lingkungan berupa kurangnya jamban keluarga. Dalam berbagai kesempatan Pemkot Depok berharap akan adanya partisipasi masyarakat dalam program Percepatan Sanitasi Permukiman (PSP) dan target pencapaian MDG’s.

Salah satu anggota Pokja Sanitasi Depok, Syahroel Polontalo mengungkapkan, masih ada banyak penduduk Depok tak memiliki jamban. Warga membuang limbahnya ke sungai, empang, kebun, dan tempat lainnya.

"Data terbaru tahun 2014, sebanyak lebih dari 11.000 warga yang tak punya jamban," kata Syahroel yang juga Ketua Yayasan Depok Hijau, Sabtu (1/3).

Sementara itu, dari Data Dinas Kesehatan Depok tahun 2010 menyebutkan, baru 79,57 persen keluarga yang menggunakan jamban atau sekitar 20 persen belum meggunakan jamban. Dari jumlah itu, 89,55 persennya yang memenuhi kriteria sehat.

Kondisi ini meningkat dibanding data profil kesehatan Kota Depok tahun 2009 yang menyebut hanya 74,43 persen keluarga yang memiliki WC atau sebanyak 25,57 persen belum memiliki jamban.

"Ini juga terkait budaya dan pola hidup yang sehat. Waktu kami susuri Ciliwung, masih banyak warga yang buang hajat di kali. Selain itu juga di empang karena Depok punya banyak empang," kata Syahroel.

Berangkat dari kondisi masyarakat tersebut, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Depok melalui sebuah kepanitiaan tergerak untuk membantu warga membangun tempat mandi-cuci-kakus atau MCK di RW 05 Pondokjaya, Cipayung, Depok.

Pembangunan MCK berlanjut pada pembangunan Posyandu hingga selesai awal 2014 dan diresmikan Sabtu (23/2) lalu.

Ketua Panitia Pembangunan MCK-Posyandu GKI Depok, Prasmanto Eljakim mengungkapkan, awalnya panitia hanya merencanakan pembangunan MCK sebagai sarana sanitasi lingkungan. Maksud tersebut dilandasi kebutuhan sebagian warga Depok akan adanya MCK.

"Sekitar seperempat warga Depok belum memiliki jamban, sehingga kami yang ada di Panitia HUT GKI Depok dan Bulan Kesaksian Pelayanan terbeban untuk ikut berpartisipasi membangunnya," kata Pramanto.

Menurut Prasmanto, selain pembangunan MCK yang dimulai Oktober 2013, panitia juga menggelar kegiatan berkaitan dengan kesehatan yakni Bakti Sosial Pengobatan Gratis.

Pada perkembangannya, ketika berembug dengan warga, ternyata ada kebutuhan lain yakni renovasi Posyandu Jambu yang memang kondisinya memprihatinkan. Dana pembangunan berasal dari celengan jemaat GKI Depok dan dari donatur antara lain dari ASEI dan Peruri.

Camat Cipayung, Asep Rahmat, saat membuka peresmian mewakili Walikota Depok, mengungkapkan rasa terima kasih kepada para donatur dan warga yang dengan swadaya membangun MCK dan Posyandu.

"Semoga pembangunan ini mempererat tali silaturahmi antarwarga untuk semakin bertanggung jawab pada lingkungannya," kata Asep.

Harapan senada diungkapkan pendeta GKI Depok, Daniel Budiman STh yang secara simbolis menyerahkan kunci posyandu dan MCK kepada camat.

"Semoga apa yang sudah jadi ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga di sini," katanya.

Sementara itu, disinggung peran swadaya masyarakat dan swasta membantu percepatan pengadaan jamban keluarga, menurut Syahroel, hal itu sangat penting. Pemerintah sebenarnya punya program jambanisasi yakni Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan Sanitasi Masyarakat (Sanmas). Keduanya harus disenergikan sehingga tidak kontraproduktif.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon