ARB Optimistis Jadi Presiden

Selasa, 4 Maret 2014 | 21:30 WIB
CP
B
Penulis: Carlos KY Paath | Editor: B1
Aburizal Bakrie.
Aburizal Bakrie. (Antara/Fahrul Jayadiputra)

Jakarta - Calon presiden (capres) yang diusung Partai Golkar, Aburizal Bakrie (ARB) optimis dapat meraih kemenangan pada pemilu presiden dan wakil presiden (pilpres) 2014. ARB juga menyatakan, masyarakat Indonesia tidak pernah mengenal dikotomi Jawa dan non Jawa.

"Kalau ditanya bagaimana keyakinan saya menghadapi pilpres 2014? Saya yakin bisa menang sebagai presiden," kata ARB dalam dialog dengan para pemimpin redaksi media massa di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (4/3).

Ketua Umum DPP Golkar tersebut mengaku sudah mengelilingi sekitar 300 kabupaten/ kota di Indonesia. "Semua masyarakat terima kehadiran saya. Di Jawa, saya terharu buat sambutan luar biasa masyarakat Jawa," ujarnya.

Dia tidak mempercayai istilah capres dikotomi Jawa dan non Jawa. Dia mencontohkan peristiwa Sumpah Pemuda 1928.

"Saya enggak percaya adanya Jawa dan non Jawa. Pada 1928 saja, masyarakat Jawa tidak memaksakan bahwa bahasa Jawa harus dijadikan bahaa Nasional. Padahal saat itu penduduk terbanyak orang Jawa," tukasnya.

Pada bagian lain, dia menyatakan tidak mempunyai skenario khusus untuk menghadapi capres lain seperti Ketum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri maupun Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi).

"Strateginya sama saja. Pemilihnya juga sama. Mau Mega, Jokowi, Puan (Puan Maharani), Prananda (Prananda Prabowo) yang maju sama saja. Intinya dekati rakyat dan yakinkan rakyat. Saya yakin bisa menang," ucapnya.

Disinggung peluang berkoalisi dengan PDI-P, ARB menyatakan, koalisi dalam pilpres sulit terealisasi. "Dalam pilpres kita bertempur dan bersaing. Koalisi itu lebih penting dibuat pada saat memerintah," katanya.

Dia mengaku tidak ingin pola koalisi dilakukan seperti pemerintahan saat ini. "Saya harap nanti koalisinya beda dengan sekarang. Sekarang ini koalisi terjadi antara presiden yang mewakili pemerintah dengan masing-masing partai. Artinya tidak ada koalisi Golkar dan Partai Demokrat. Saya harap ke depan bisa lakukan kolaisi antar partai. Asalkan punya visi yang sama. Tidak mungkin koalisi dijalankan antara visi kesejahteraan dan liberal," tegasnya. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon