Dongkrak Rubel, Rusia Lepas Cadangan Devisa US$ 11,3 Miliar

Rabu, 5 Maret 2014 | 23:49 WIB
B
WS
FH
Penulis: Bloomberg, Wahyu Sudoyo
Editor: FER
Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di St. Petersburg untk inspeksi latihan perang, 3 Maret 2014.
Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di St. Petersburg untk inspeksi latihan perang, 3 Maret 2014. (RIA Novosti)

Moskow - Pemerintah Rusia melepas cadangan devisa atau valuta asing (valas) hingga mencapai US$11,3 miliar guna mendongkrak nilai kurs rubel disaat mata uang negara tersebut berada dalam tekanan, akibat konflik di Ukraina. Hal tersebut diungkapkan oleh Bank Sentral Rusia dalam keterangan resminya, Rabu (3/3)

Pihak Bank Sentral Rusia dalam keterangan resminya, Rabu (5/3) menyatakan, mereka melepas cadangan devisanya untuk menyerap rubel dipasar dan mengantisipasi nilai mata uangnya dari kemerosotan yang lebih dalam, setelah pasar bereaksi panik terhadap persetujuan parlemen pada keinginan Presiden Vladimir Putin untuk menjalankan aksi militer di Ukraina.

Informasi ini terungkap dalam rilis harian intervensi mata uang Bank Sentral Rusia walau tak ada keterangan kebijakan tersebut lebih lanjut. Namun pada awal pekan ini Bank Sentral Rusia telah mengindikasikan kesiapannya untuk melakukan intervensi besar dengan mengatakan bahwa peningkatan volatilitas membuat mereka selalu melakukan pantauan situasi pasar setiap hari.

"Langkah ini diambil untuk mengantisipasi resiko guna stabilisasi finansial dengan membatasi fluktuasi nilai tukar rubel," kata bank sentral tersebut, Senin lalu.

Sejumlah agensi baru Rusia mengatakan bahwa jumlah devisa yang dilepas Bank Sentral Senin lalu merupakan rekor tertinggi yang pernah ada, mengalahkan rekor sebelumnya pada September 2011 lalu hingga lima kali lipat.

Pada sesi perdagangan awal Rabu, kurs rubel diperdagangankan pada 36,185/dolar AS dan 49,695/euro dan pada penutupan sesi perdagangan di Moskow Senin lalu, kurs rubel mencapai rekor terendah hingga mencapai 36,44/dolar AS dan 50,22/euro.

Kondisi mood di pasar tertolong oleh adanya pernyataan Putin yang merasa tidak perlu untuk mengirim pasukan tentara ke Ukraina dan aksi militer hanya akan dilakukan sebagai pilihan terakhir pada Selasa lalu.

"Rubel kembali bangkit ketika Putin menegaskan dalam konfrensi pers bahwa tidak perlu menggunakan kekuatan militer di Ukraina. Kendati demikian ketidak pastian politik masih tetap tinggi dan sepertinya arus halaman muka pemberitaan akan mendukung volatilitas pasar," ujar Analis VTB Capital di Moskow.

Sekedar informasi, Bank Sentral Rusia dipimpin oleh Elvira Nabiullina, seorang ahli ekonomi yang sangat disegani, dan dikenal yang sangat loyal terhadap Putin.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon