Nilai-nilai Kebangsaan Dinilai Sudah di Titik Rendah
Sabtu, 15 Maret 2014 | 11:34 WIB
Jakarta - Indonesia sebagai negara besar kini mengalami penurunan peradaban dalam masyarakatnya. Tradisi dan budaya luhur bangsa yang dulu terkenal di penjuru dunia kini mengalami titik rendah.
Hal ini yang kemudian membuat Indonesia kehilangan arah dalam membangun bangsanya. Meskipun, sebagai bangsa yang hendak maju, demokratisasi di Indonesia sudah terakomodasi dengan baik, nilai-nilai kebangsaan justru cenderung meluntur.
Demikian benang merah dalam temu dan dialog generasi muda se-Sulawesi Selatan yang mengusung tema "Penguatan Nilai-Nilai Kebangsaan Untuk Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)" dalam siaran pers
kepada Suara Pembaruan, di Jakarta, Sabtu (15/3).
Kegiatan yang diikuti 250 mahasiswa se-Sulsel ini diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, bekerjasama dengan Ikatan Lembaga Mahasiswa Ilmu Sosial Politik Indonesia (ILMISPI).
Selain Prof. Salim Said, hadir pula pembicara seperti rektor Unas Prof. Dwia Aries Tina, Ketua Forum Pemred Norjaman Mochtar, dosen Fakultas Ilmu Budaya Unhas Supratman.
Oleh karena itu, Salim Said menambahkan, perlu terus di gugah dan diupayakan agar generasi muda mau menguatkan nilai kebangsaan, sehingga jati diri bangsa Indonesia kembali menjadi bangsa dengan peradaban tinggi.
"Masalah nasionalisme bisa diwujudkan dengan sikap toleransi beragama dan kekerabatan. Bukannya dengan liberalisme atau fasisme," kata Salim.
Nasionalisme, kata dia, merupakan kekuatan penting sebagai tenaga penggerak yang begitu hebat dalam sejarah abad ini. Tidak mengherankan jika abad XX ini sering disebut juga sebagai abad nasionalisme.
Pergerakan kebangsaan Indonesia yang muncul pada dekade pertama abad ke-20 merupakan suatu fenomena baru di dalam sejarah bangsa Indonesia.
Dwia Aries Tina mengatakan, lunturnya nilai kebangsaan disebabkan oleh ketidakmampuan dalam mengidentifikasi musuh bersama.
Jika dahulu para pendiri bangsa mampu menyatukan diri menjadi sebuah bangsa karena situasinya dan kecerdasan mereka dalam mengarahkan siapa musuh bersama rakyat pada masa itu.
"Jika kita ingin maju, harus mampu mengidentifikasi musuh bersama rakyat Indonesia serta membuang jauh hal kecil yang dapat menyebabkan konflik komunal dan fokus melakukan hal besar agar menjadi bangsa yang
besar," katanya.
Menurutnya, nasionalisme dibangun dari kesadaran secara kolektif dengan mengidentifikasi musuh apa dan siapa yang harus dilawan. Harus ada musuh yang menguatkan ikatan kebangsaan. Misalnya, melawan
ketidakadilan secara bersama.
Sementara itu, mengutip puisi karya Kahlil Gibran berjudul "Kasihan Bangsa Ini", Norjaman berpendapat bahwa permasalahan yang dihadapi Indonesia saat ini dikarenakan seluruh pemimpin, negarawan
dan politisi berjalan sendiri dalam membangun bangsa. Tidak ada arah dan petunjuk yang sama.
"Oleh karena itu pentingnya kembali menata ulang konstitusi negara, diantaranya kembali menghidupkan GBHN dan mengembalikan MPR sebagi Lembaga Tertinggi Negara sebagai kepanjangan tangan amanah rakyat Indonesia,"
kata Norjaman.
Selain itu, media didorong untuk memberikan informasi yang bisa mengubah paradigma dan gaya hidup masyarakat, sehingga lebih dinamis menerima hal baru dan asing.
Supratman sendiri berpendapat, demokrasi yang kebablasan di berbagai sektor membuat Indonesia menjadi bangsa yang pragmatis karena ikut dalam arus ambisi politik segelintir elite politik.
Oleh karena itu, bertemu dan berdialog di antara para warga kampus yang notabene adalah generasi muda sangat penting di tengah krisis jati diri bangsa saat ini.
Diharapkan dengan kegiatan dialog yang rutin di kampus seperti ini, nilai kebangsaan di Indonesia bisa hidup kembali. Bila perlu dimulai dari tanah Makassar.
Lebih jauh Supratman mengatakan di dalam masyarakat heterogen, seperti Indonesia, pendekatan melalui budaya akan lebih bisa diterima daripada agama.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Tim Voli Jepang JTEKT Stings Aichi Segel Tiket Semifinal AVC Men’s




