Pemerintahan Mendatang Tetap Hadapi Masalah Energi

Jumat, 21 Maret 2014 | 12:48 WIB
RP
B
Penulis: Rangga Prakoso | Editor: B1
Ilustrasi pipa minyak mentah.
Ilustrasi pipa minyak mentah. (Istimewa/Istimewa)

Jakarta - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan, pemerintahan mendatang akan menghadapi permasalahan di sektor energi seperti yang ada saat ini. Impor bahan bakar minyak (BBM) masih dominan, guna memenuhi kebutuhan energi nasional.

"Siapun pemerintah nanti, tantangannya tetap sama, produksi migas turun," kata Susilo ketika berbicara di acara Indonesia Forum dengan tema 'Meeting Indonesia's Future Energy Needs', di Jakarta, Jumat (21/03).

Susilo menuturkan, produksi migas nasional tahun ini hanya sebesar 812 ribu barel per hari (bph) lebih rendah dibandingkan dengan produksi migas di 2013 yang sebesar 825 ribu bph. Dari produksi nasional saat ini, hanya sekitar 650 ribu bph menjadi bagian negara dan diolah di kilang nasional. Padahal kapasitas kilang di dalam negeri mencapai satu juta bph, sehingga pemerintah harus mengimpor 350 ribu bph.

"Tanpa eksplorasi, kita tidak bisa meningkatkan produksi," jelasnya.

Dikatakannya, pertumbuhan energi per tahun sekitar 6,6 persen, serta penambahan populasi penduduk sebesar 1,1 persen. Dengan peningkatan tersebut maka kebutuhan energi di 2020 diperkirakan mencapai 2,2 juta bph. Di 2020 itu pula diprediksi produksi migas hanya sebesar 600 ribu bph.

"Indonesia akan jadi negara net importer, jika dari sekarang tidak berbuat sesuatu," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon