Charta Politika Prediksi PDI-P Akan Raih Suara di Atas 20% di Pileg 2014
Rabu, 26 Maret 2014 | 15:01 WIB
Jakarta - PDI Perjuangan (PDI-P), Partai Golkar, dan Partai Gerindra diprediksi akan bertarung ketat dan menjadi tiga besar pemenang Pemilu Legislatif 2014.
Berdasarkan survei Charta Politika, yang dilakukan pada awal Maret 2014, PDI-P memimpin dengan 21,2 persen, diikuti Golkar dengan 16,4 persen, dan Gerindra dengan 12 persen.
Menurut Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto Wijaya, temuan survei Maret 2014 itu sejalan dengan temuan survei sejenis pada Desember 2013. Saat itu, PDI-P memperoleh 15,8 persen, Golkar dengan 12,6 persen, serta Gerindra 7,8 persen.
"Tiga partai ini yang diprediksi menjadi partai papan atas di pemilu legislatif 2014," kaya Yunarto dalam konferensi pers publikasi survei itu di Jakarta, Rabu (26/3).
Di tempat berikutnya, adalah PD dengan 8 persen, diikuti PKB dengan 7,2 persen, PPP dengan 5,1 persen, Hanura 4,8 persen, PAN 4,5 persen, PKS 3,2 persen, Nasdem 2,6 persen, PBB 0,4 persen, dan PKPI 0,1 persen.
"Ini mengkonfirmasi penurunan elektabilitas Demokrat dan digantikan Partai Gerindra," ujarnya.
Menurut Charta Politika, elektabilitas ketiga partai tersebut ternyata berkaitan dengan menguatnya gejala personalisasi, alias ketokohan figur tertentu yang terkait parpol itu. Oleh Charta Politika, hal itu disebut sebagai demokrasi kultus. Partai politik cenderung hanya jadi fans club.
Gejala demokrasi kultus itu tampak dari menguatnya peran dan pengaruh tokoh-tokoh kunci partai politik.
Charta Politika menemukan 57,8 persen pemilih PDI-P mengaku memilih PDI-P karena tertarik dengan figur Joko Widodo. Sebelumnya pada survei Desember 2013 hanya 38,1 persen memilih PDI-P karena faktor Jokowi.
Sementara 47,9 persen pemilih Gerindra mengaku memilih, karena tertarik figur Prabowo. Terjadi penurunan, karena pada survei Desember 2013, sebanyak 55,4 persen memilih Gerindra karena faktor Prabowo Subianto.
Hal senada terjadi di parpol di bawah ketiganya. Pemilih Partai Demokrat mengaku memilih partai itu karena tertarik figur SBY (38,2 persen). Atau di Hanura, karena tertarik figur Wiranto (40 persen).
"Pada batas-batas tertentu gejala ini mengkhawatirkan, karena akan memperlemah penguatan pelembagaan partai politik," kata Yunarto.
Survei itu dilakukan dengan metode wawancara tatap muka, dengan populasi responden adalah WNI yang telah mempunyai hak pilih di pemilu (telah berusia 17 tahun ke atas) sebanyak 1200 responden.
Margin of error penelitian adalag plus minus 2,83 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Sampel dipilih secara acak dengan menggunakan metode penarikan sampel acak bertingkat dengan memperhatikan karakter urban/rural, dan proporsi antara jumlah sampel dengan jumlah pemilih di setiap provinsi.
Quality control dilakukan dengan mewawancara ulang responden yang dipilih secara random sebesar 20 persen.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
KPK Duga Ahmad Dedi Terima Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras




