Jakarta Fashion Week
Kolaborasi Gaya Inggris-Indonesia
Selasa, 15 November 2011 | 17:38 WIB
Menciptakan total look yang unik, segar, dan modern tetapi dengan sentuhan tradisional Indonesia.
Justin Smith, adalah seorang milliner (pembuat topi) asal Inggris. Oscar Lawalata adalah seorang desainer yang fokus pada kain-kain tradisional, khususnya tenun.
Keduanya memenangi program Young Creative Award yang diadakan di Inggris 2 tahun lalu.
Satu semangat dan sevisi dalam berkreasi dengan handicraft, Smith dan Oscar bekerjasama dalam menciptakan pagelaran busana bertajuk "The Culture Incarnation" yang ditampilkan di Jakarta Fashion Week 2012, Senin (14/11) di Pacific Place, Jakarta.
Oscar dan Smith mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, seperti Sintang, Kalimantan dan Yogyakarta untuk melihat kain-kain tradisional, serta memahami cara pembuatan seni kriya asli Indonesia, seperti anyaman dari rotan dan tikar.
"Kurang lebih sejak setahun lalu kami meninjau beberapa lokasi di Indonesia. Butuh waktu sekian lama untuk mengeksplorasi daerah Indonesia. Selama proses itu, terjadi asimilasi budaya, saya belajar proses pengerjaan di sini, saya juga mengajarkan para perajin cara membuat topi," kata Smith saat konferensi pers.
Dalam peragaan kolaborasi Oscar-Smith yang secara keseluruhan ada total 48 look, tidak seluruh koleksi Oscar mendapat sentuhan Smith.
Koleksi aksesori kepala dari Smith ada yang terlihat topi dari bahan anyaman, "Saya sangat tertarik dengan pembuatan tikar dan anyaman. Saya sangat kagum dan terinspirasi dari keahlian para seniman di Kalimantan Barat dan Yogyakarta. Warisan seni dan kriya Indonesia sangat berharga dan butuh klien global jika ingin terus dikembangkan," kata Smith.
Sebagian lain terlihat terbuat dari bahan logam berwarna kekuningan. Bentuknya menyerupai tiara, tidak seperti topi. Lebih cocok dikatakan headpieces, aksesori tersebut melengkapi tampilan Oscar dan memberi total look yang mempermanis busana tanpa terlihat berlebihan.
Mengenai penerimaan pasar dengan koleksi topi atau yang lebih bisa dikatakan aksesori kepala, Oscar yang fokus mendalami koleksi tradisional Indonesia mengatakan, "Sebenarnya, kalau mau dilihat sejarah berbusana masyarakat Indonesia, secara total look, kita cukup lengkap. Dari kepala hingga kaki. Di kebaya contohnya, ada aksesori tusuk konde. Saya rasa pasar Indonesia untuk aksesori kepala cukup besar. Belum banyak yang mendalami. Masih banyak yang berpikir topi atau aksesori kepala adalah ekstravaganza, padahal tidak."
Sementara koleksi Oscar, masih mengutamakan siluet-siluet longgar, bergaya X dan H, serta bervolume, seperti khasnya Oscar. Terlihat lebih segar dan warna-warna cerah dibanding koleksi yang ditampilkan Oscar pada tahun lalu.
Beberapa koleksi Oscar menggunakan bahan tenunan polos berefek timbul yang diberi tambahan detail offnesel dengan letak-letak melintang, melingkar hingga memimik mawar mekar, dan lainnya. Kesan muda dan segar terlihat dari rancangannya.
Menurut Oscar dan Smith, kerjasama ini tidak akan terhenti di sini, dan akan terus dikembangkan. Ini bukan kali pertama Oscar bekerjasama dengan seniman desain asal Inggris, tahun lalu, Oscar bekerjasama dengan Laura Miles untuk mendesain kain bermotif tradisional menggunakan teknik modern.
Justin Smith, adalah seorang milliner (pembuat topi) asal Inggris. Oscar Lawalata adalah seorang desainer yang fokus pada kain-kain tradisional, khususnya tenun.
Keduanya memenangi program Young Creative Award yang diadakan di Inggris 2 tahun lalu.
Satu semangat dan sevisi dalam berkreasi dengan handicraft, Smith dan Oscar bekerjasama dalam menciptakan pagelaran busana bertajuk "The Culture Incarnation" yang ditampilkan di Jakarta Fashion Week 2012, Senin (14/11) di Pacific Place, Jakarta.
Oscar dan Smith mengunjungi beberapa daerah di Indonesia, seperti Sintang, Kalimantan dan Yogyakarta untuk melihat kain-kain tradisional, serta memahami cara pembuatan seni kriya asli Indonesia, seperti anyaman dari rotan dan tikar.
"Kurang lebih sejak setahun lalu kami meninjau beberapa lokasi di Indonesia. Butuh waktu sekian lama untuk mengeksplorasi daerah Indonesia. Selama proses itu, terjadi asimilasi budaya, saya belajar proses pengerjaan di sini, saya juga mengajarkan para perajin cara membuat topi," kata Smith saat konferensi pers.
Dalam peragaan kolaborasi Oscar-Smith yang secara keseluruhan ada total 48 look, tidak seluruh koleksi Oscar mendapat sentuhan Smith.
Koleksi aksesori kepala dari Smith ada yang terlihat topi dari bahan anyaman, "Saya sangat tertarik dengan pembuatan tikar dan anyaman. Saya sangat kagum dan terinspirasi dari keahlian para seniman di Kalimantan Barat dan Yogyakarta. Warisan seni dan kriya Indonesia sangat berharga dan butuh klien global jika ingin terus dikembangkan," kata Smith.
Sebagian lain terlihat terbuat dari bahan logam berwarna kekuningan. Bentuknya menyerupai tiara, tidak seperti topi. Lebih cocok dikatakan headpieces, aksesori tersebut melengkapi tampilan Oscar dan memberi total look yang mempermanis busana tanpa terlihat berlebihan.
Mengenai penerimaan pasar dengan koleksi topi atau yang lebih bisa dikatakan aksesori kepala, Oscar yang fokus mendalami koleksi tradisional Indonesia mengatakan, "Sebenarnya, kalau mau dilihat sejarah berbusana masyarakat Indonesia, secara total look, kita cukup lengkap. Dari kepala hingga kaki. Di kebaya contohnya, ada aksesori tusuk konde. Saya rasa pasar Indonesia untuk aksesori kepala cukup besar. Belum banyak yang mendalami. Masih banyak yang berpikir topi atau aksesori kepala adalah ekstravaganza, padahal tidak."
Sementara koleksi Oscar, masih mengutamakan siluet-siluet longgar, bergaya X dan H, serta bervolume, seperti khasnya Oscar. Terlihat lebih segar dan warna-warna cerah dibanding koleksi yang ditampilkan Oscar pada tahun lalu.
Beberapa koleksi Oscar menggunakan bahan tenunan polos berefek timbul yang diberi tambahan detail offnesel dengan letak-letak melintang, melingkar hingga memimik mawar mekar, dan lainnya. Kesan muda dan segar terlihat dari rancangannya.
Menurut Oscar dan Smith, kerjasama ini tidak akan terhenti di sini, dan akan terus dikembangkan. Ini bukan kali pertama Oscar bekerjasama dengan seniman desain asal Inggris, tahun lalu, Oscar bekerjasama dengan Laura Miles untuk mendesain kain bermotif tradisional menggunakan teknik modern.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




