Richard Budihadianto
"Passion" Bisa Mengubah Segalanya
Selasa, 15 April 2014 | 09:21 WIB
Tahukah Anda jika karier seseorang ditentukan oleh kesukaan, kecintaan, dan gairah (passion) pada pekerjaan yang digelutinya? Passion tak hanya membuat seseorang merasa enjoy terhadap pekerjaannya, tapi juga mampu meningkatkan potensi yang dimilikinya.
Setidaknya itu yang diyakini Richard Budihadianto, direktur utama PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia, anak perusahaan PT Garuda Indonesia Tbk yang bergerak di bidang perawatan serta perbaikan badan dan mesin (maintenance, repair, and overhaul/MRO) pesawat terbang.
"Tanpa passion, kalau punya kemampuan 100 persen, yang terpakai paling-paling 50-80 persen. Tapi kalau punya passion, energi yang kita keluarkan bisa 120%," kata Richard saat ditemui di Cengkareng, Banten, baru-baru ini.
Nama Richard Budihadianto tak bisa dipisahkan dari bisnis MRO, bahkan industri penerbangan secara keseluruhan. Maklum, ia sudah seperempat abad lebih malang-melintang dalam industri tersebut.
Lama menggeluti bisnis MRO turut menggugah rasa nasionalisme Richard Budihadianto. Ia tak rela jika 70 persen kue bisnis MRO domestik terus dinikmati asing. Padahal, pasar MRO di Tanah Air sangat besar. Tahun ini saja nilainya diprediksi tembus US$ 1 miliar.
Obsesi terbesar Richard adalah memajukan industri perawatan pesawat di Indonesia dan membawa GMF menjadi MRO berkelas dunia. Richard juga sudah lama mengidam-idamkan keberadaan aviation park (pusat perawatan pesawat terpadu) di negeri ini.
"Negara sekecil Malaysia dan Singapura saja sudah punya aviation park. Itu juga karena Indonesia dihitung sebagai pasar mereka," ujarnya. Berikut wawancara dengannya.
Bagaimana perjalanan karier Anda?
Saya bergabung dengan PT Garuda Indonesia Tbk pada 1986. Saya mengikuti semua proses di lapangan sebagai teknisi sebelum menjadi engineer di Garuda. Hingga akhirnya, saya diangkat menjadi direktur teknik Garuda pada 1998. Kemudian, pada 2002, terbentuklah PT GMF AeroAsia. Selain menjadi direktur teknik Garuda, saya juga presiden komisaris (preskom) GMF. Selanjutnya, saya menjadi direktur utama GMF sejak 2007 hingga sekarang.
Kiat Anda meraih kesuksesan?
Pertama, harus suka dulu pada pekerjaan, sehingga bekerja tidak merasa terpaksa. Kesukaan, kecintaan, dan kesenangan pada pekerjaan atau bahasa kerennya passion adalah modal utama. Tanpa itu, kita akan malas. Kalau punya kemampuan 100 persen, terpakai paling 50-80 persen. Sebaliknya, kalau kita punya passion, energi yang kita keluarkan bisa sampai 120 persen. Passion bisa mengubah segalanya.
Kedua, jangan kerja asal jadi atau setengah-setengah. Selain itu, serve your boss. Ini bukan penjilat ya, tapi Anda sebagai bawahan kan tugasnya memang melayani atasan. Saya selalu berusaha untuk memberikan beyond my boss expectation, di atas apa yang diharapkan bos saya. Dan, terakhir, kalau kita menjadi pimpinan, bikinlah anak buah pintar. Itu agar kita tidak kehabisan waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan anak buah.
Seperti apa gaya kepemimpinan Anda?
Pertama, saya berupaya bertindak fair terhadap anak buah, mengurangi subjektivitas. Fair itu bukannya lemah, bisa tetap tegas. Kedua, mengayomi anak buah. Artinya bisa menfasilitasi, menjadi tempat dia bertanya dan berlindung. Selanjutnya, sebagai pimpinan, setiap bertemu anak buah, harus terlihat bersemangat dan ceria.
Selain itu, kepemimpinan harus didasarkan pada kasih. Memimpin bukan karena punya kuasa. Secara spiritual, pemimpin juga perlu religius. Buku-buku manajemen asing biasanya tidak menyinggung itu, tapi saya merasa itu penting. Sebab, leader itu juga berarti lonely, sehingga kalau mengadu lebih baik ke atas.
Filosofi hidup Anda?
Saya berusaha hidup dengan bersyukur. Walaupun dalam keadaan sakit harus tetap bersyukur agar selalu bahagia.
Alasan Anda memilih karier di MRO?
Saya tidak tahu akan ke sini (GMF). Sebelum di Garuda, saya sudah bekerja di perusahaan swasta bidang heavy construction. Secara finansial, pekerjaan tersebut bagus sekali, tapi karier saya mentok, tidak bisa naik jabatan, karena di atas saya sudah pemilik. Saya tidak mungkin menggantikan pemilik. Sementara itu, umur saya baru 29 tahun, karier saya mestinya masih panjang. Akhirnya, saya berpikir untuk bekerja di perusahaan besar supaya bisa meniti karier. Pilihannya adalah menjadi pegawai negeri, bekerja di perusahaan multinasional (multinational company) besar, atau di BUMN. Akhirnya, saya pilih BUMN, dan ternyata masuk ke Garuda.
Obsesi Anda yang belum tercapai?
Saya ingin membawa GMF betul-betul menjadi perusahaan MRO world class. Satu lagi, Indonesia mesti memiliki aviation park. Semua obsesi itu perlu diwujudkan supaya Indonesia bisa maju di bidang industri perawatan pesawat. Sebab, kita memiliki potensi terlalu besar di bisnis ini, sehingga sayang kalau kita tidak mau menggarapnya.
Saya katakan, orang Indonesia akan terbang dengan 5.000 pesawat, siapa bilang tidak mungkin? Sebagai gambaran saja, Indonesia dengan 240 juta penduduk dibanding Amerika Serikat sebanyak 265 juta jiwa. Di sana ada 20.000-30.000 pesawat. Kalau dihitung armada militernya lebih banyak lagi. Sedangkan kita di sini jumlah pesawatnya 1.000 unit saja tidak sampai. Kalau nanti, kita memiliki 5.000 pesawat, itu sangat wajar. Malaysia, Singapura saja, negeri sekecil itu sudah punya. Itu juga karena Indonesia dihitung sebagai daerah mereka untuk pasarnya.
Berarti prospek bisnis MRO sangat cerah?
Bisnis MRO sangat terkait dengan bisnis maskapai penerbangan (airlines). Dari tahun 1970 hingga 2013, jumlah pesawat yang dipesan maskapai tidak pernah turun. Data Airbus menunjukkan peningkatan jumlah pesawat dalam 10-15 tahun terakhir sangat signifikan. Perkembangan bisnis MRO otomatis mengikuti pertumbuhan jumlah pesawat tersebut.
Dari peta dunia terlihat dalam 5-10 tahun ke depan, distribusi order pesawat mulai bergeser, dari tadinya Amerika Utara yang paling banyak, kedua Eropa, dan ketiga Asia Pasifik, ternyata posisi Asia Pasifik dibanding Eropa sudah hampir sama. Malah ada data yang menunjukkan tahun ini, pesanan pesawat di Asia Pasifik sudah melampaui Eropa.
Di sisi lain, banyaknya airlines di Amerika Utara telah memicu MRO-MRO di sana melakukan outsource. Mereka mengirim 35 persen pekerjaan perawatan pesawat, terutama bisnis airframe (rangka pesawat) ke Asia Pasifik. Ini terjadi karena biaya di Asia Pasifik lebih kompetitif.
Kemudian, kalau kita lihat cakupan lebih kecil, di Asia Pasifik, RI adalah negara yang persentase pertumbuhan jumlah pesawatnya paling besar. Dari sisi demografi, tenaga kerja produktif kita juga paling banyak. Ini membuat middle class people makin besar, dan orang-orang inilah yang akan membutuhkan jasa angkutan udara. Kondisi itu memacu airlines untuk terus menambah armada. Nah, itu pula gambaran potensi bisnis MRO kita.
Berapa pangsa pasar GMF di pasar domestik?
Paling tidak, kami memiliki pangsa pasar 70 persen. Kalau hanggar empat yang sedang kami bangun sudah dioperasikan full kapasitas, itu bisa menambah 30-35 persen dari kapasitas kami saat ini.
Industri MRO kita baru bisa menyerap 30 persen pasar domestik?
Memang benar, bahkan kami merasa kemampuan untuk menyerap beban kerja (work load) perawatan pesawat domestik semakin kecil, karena perbandingan antara pertumbuhan jumlah pesawat dan kapasitas atau kapabilitas MRO tidak seimbang. Pertumbuhan jumlah pesawat jauh lebih cepat dari kapasitas MRO. Itu karena membangun kapasitas dan kapabilitas MRO membutuhkan waktu lama. Untuk membangun kapasitas MRO, umumnya, kami memakai perhitungan 10-15 tahun ke depan, karena investasinya bersifat jangka panjang.
Kami tengah membangun hanggar empat, kami membangunnya satu tahun lebih. Kami harapkan pada bulan September nanti bisa dioperasikan, tapi kapasitasnya belum full, karena kami harus menunggu kesiapan SDM-nya.
SDM adalah salah satu kunci. Untuk mencetaknya butuh waktu setidaknya empat tahun. Kami masih kekurangan SDM dan tiap tahun kami harus merekrut 400 orang.
Garuda menggandeng Gallant Venture, unit usaha Grup Salim, untuk mengembangkan aviation park. Tapi, mengapa mesti di Bintan?
Pertama, Bintan adalah tempat atau fasilitas kita yang nantinya berada di posisi paling barat, tepatnya barat ke utara sedikit. Selama ini, pintu masuk customer kami dari Bintan, mereka terbang ke sini (hanggar Cengkareng) selama 1 jam lebih 20-30 menit . Kalau dihitung, biaya fuel-nya lumayan. Kami rasa akan lebih efisien kalau layanan kami makin mendekat.
Kedua, di Bintan sudah free trade zone, daerah bebas pajak.
Ketiga, kami melihat industri, pelabuhan, dan bandara berada di satu kawasan di sana.
Hal lainnya adalah Bintan dekat sekali dengan Singapura yang merupakan salah satu pusat MRO. Di sana, hampir semua pabrikan baik pesawat, komponen, dan engine juga memiliki workshop atau kantor representatif. Dan, terus terang, kami juga melihat hubungan lain, yakni MRO di Singapura dalam posisi cukup padat karena lahannya terbatas. Saya percaya MRO di Singapura sudah berpikir untuk mencari tempat yang lebih luas dan murah bagi pengembangan usaha mereka. Nah, Bintan adalah lokasi alternatifnya.
Mendatangkan mereka pasti menguntungkan?
Ya. Misalnya nanti ada maskapai kita yang pesawatnya tidak bisa dirawat di Cengkareng, larinya ke Bintan. Toh, masih di Indonesia kan? Jadi, devisa tidak keluar. Itu akan membuka lapangan pekerjaaan bagi rakyat Indonesia. Mereka akan mendatangkan devisa, kalau ada pesawat-pesawat asing yang dirawat. Di samping itu, tentu saja biaya perawatan pesawat yang dikeluarkan maskapai kita bisa turun. Perawatan di dalam negeri ongkosnya lebih murah, karena investasinya lebih murah.
Selain itu, kita kan dana dan semuanya terbatas. Ada mitra asing lebih baik kita gandeng. Mereka bisa membawa know how, sehingga kalau kita sudah menyiapkan SDM, kegiatan operasi bisa langsung berjalan. Kalau kita harus belajar dan mengembangkan kapasitas sendirian, itu butuh waktu lebih lama. Kita juga harus mengakui, mereka sudah mengenal lebih dulu teknologi MRO.
Sebagai gambaran, orang-orang Amerika dan Eropa sudah ratusan tahun berbicara tentang kapal terbang, sedangkan kita paling lama 60 tahun. Itu pun, mereka yang membuat. Sekarang kita tidak perlu berkecil hati kalau masih harus belajar ke mereka. Kalau kita sendirian, ibaratnya lari, mereka sudah lebih cepat, kita dua langkah, mereka lima langkah. Jadi semakin lama, kita makin ketinggalan, makanya kita gandeng saja, sehingga larinya sama-sama lima langkah.
Kapan industri MRO kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri?
Mudah-mudahan kami sudah melangkah lebih konkret pada akhir 2016 atau 2017 awal, dengan mendirikan fasilitas di sana (aviation park di Bintan). Setidaknya, itu bisa mengurangi devisa yang keluar. Namun, pengembangan MRO harus bertahap, karena SDM-nya belum ready. Infrastrukur ada, tapi tidak mungkin kan orang Amerika yang disuruh kerja di sini, harus orang Indonesia yang bekerja.
Yang jelas, pasar perawatan pesawat di Indonesia mencapai US$ 900 juta pada 2013 dan tahun ini diperkirakan tembus US$ 1 miliar. Periode 2016-2017, dengan percepatan pertumbuhan, pasar bisa mencapai US$ 1,2-1,3 miliar. Saya prediksi pasar GMF mencapai US$ 500 juta pada 2017.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




