Capres Baru Diharapkan Tingkatkan Pendanaan Iptek

Rabu, 23 April 2014 | 11:47 WIB
AR
B
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: B1
Ilustrasi riset
Ilustrasi riset (Sciencealert.com.au)

Bogor - Calon pemimpin dan calon presiden ke depan diharapkan memiliki visi untuk mengedepankan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) melalui peningkatan investasi dan pendanaan untuk iptek minimal 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Lukman Hakim mengatakan saat ini anggaran riset di Indonesia masih 0,03 persen atau kurang dari 1 persen PDB.

"Jika investasi riset sebesar satu persen saja artinya naik 15 kali lipat dari anggaran saat ini. Itu sudah bisa mengangkat apapun," katanya di sela-sela Diseminasi Hasil Teknologi Tepat Guna LIPI di Cibinong Science Center, Cibinong, Bogor, Rabu (23/4).

Menurutnya, posisi Indonesia terkait anggaran iptek masih jauh dari Singapura yang menempati posisi teratas di ASEAN lebih dari 2 persen dan Malaysia serta Thailand yang berada di level kategori tiga namun teratas. Sedangkan Indonesia di kategori tiga namun di bawah.

Lukman menambahkan tuntutan dunia pasar saat ini lebih eksplisit dan ditopang informasi iptek, jika tidak memperhitungkan hal itu maka negara ini akan tersingkir dari perdagangan dunia.

"Sistem perdagangan baru adalah non tarif barrier dengan jumlah paten dan keterbukaan pasar. Ketentuan-ketentuan yang selama ini belum ada di ketentuan lama," ucapnya.

Atas dasar itulah Lukman berharap pemimpin ke depan lebih eksplisit memperhitungkan investasi di bidang riset. Sebab negara maju bisa dilihat dari berapa investasi riset yang dikeluarkan. Selain itu jumlah peneliti per 1 juta penduduk dan investasi riset per total PDB menjadi patokannya.

Sedangkan paten menjadi ukuran seberapa besar suatu negara memproduksi teknologi. Tanpa itu maka bisa dicap mencuri. Indonesia pun harus mendorong tumbuhnya paten agar menghalangi status dicap mencuri.

Di Indonesia lanjut Lukman idealnya memiliki 200.000 peneliti, jumlah yang jauh lebih besar dari saat ini hanya 8.600 peneliti.

"Bonus demografi harus dimanfaatkan untuk terus memelihara semangat kelompok ilmuwan muda potensial," ujarnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon