RI Diprediksi Pimpin Pasar Makanan dan Gaya Hidup Halal di Dunia
Jumat, 25 April 2014 | 16:48 WIB
New York - Ekonomi Islam, terutama sektor makanan dan gaya hidup yang halal, merupakan fenomena global yang sedang berkembang.
Pada 2018 nanti, Indonesia diprediksi memimpin tiga pasar global teratas mengalahkan Turki dan Arab Saudi.
Hal ini berdasarkan penelitian DinarStandard, perusahaan penelitian strategi pertumbuhan dan advisory yang mengkhususkan diri dalam ekonomi Islam global.
Bermitra dengan Thomson Reuters baru-baru ini, DinarStandard merilis "State of the Global Islamic Economy Report".
Laporan terobosan ini telah mengukur dan memperkirakan potensi pasar sektor makanan dan gaya hidup halal global yang berkembang pesat dengan pengeluaran konsumen di angka $1.62 triliun pada tahun 2012 dan diperkirakan akan mencapai $2.47 triliun pada tahun 2018.
Menurut penelitian DinarStandard, di Asia Timur, pasar konsumen gaya hidup Islami domestik terbesar adalah Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Singapura dan Filipina, dengan total potensi pasar $ 294 miliar pada tahun 2012 dan diperkirakan akan mencapai $ 494 miliar pada tahun 2018.
Namun, sebagian besar pasar gaya hidup Islam yang berada di Indonesia diperkirakan sebesar $ 235 miliar pada 2012.
Sementara potensi dalam negeri Malaysia untuk pasar gaya hidup Islami diperkirakan hanya sebesar $25.7 miliar pada tahun yang sama.
Namun, Malaysia dianggap memiliki ekosistem "industri halal" yang paling maju dan matang, serta saat ini merupakan pusat ekspor Halal global.
Populasi Muslim Tiongkok menawarkan potensi pasar gaya hidup Islam sebesar $18 miliar. Pasar-pasar utama lainnya berdasarkan proyeksi 2012 adalah Singapura sebesar $5,6 miliar, Filipina $3,4 miliar, Thailand $ 2,3 miliar, Brunei $ 1,1 miliar dan Jepang $1,1miliar.
"Ekonomi Islam membutuhkan perusahaan konsultan global dengan kualitas bintang lima, dan DS telah memberikan 'kualitas McKinsey' dengan bekerja untuk perusahaan-perusahaan Barat, badan-badan pariwisata negara, pemerintah OKI, perusahaan ekuitas swasta, UKM, dan non - profit," kata Rushdi Siddiqui, pakar industri halal DinarStandard, Jumat (25/4).
Siddiqui adalah pelopor industri keuangan syariah dan industri Halal dengan pengalaman 15 tahun. Dia membantu mendirikan dan meluncurkan Islamic Index Dow Jones pada tahun 1998.
Setelah itu, ia mengemban peran sebagai Global Head of Islamic Finance & Negara OKI untuk Thomson Reuters, dan memimpin tim global untuk membangun gerbang keuangan Islam pertama di dunia, Islamic Inter-bank benchmark rate (IIBR), dan sebuah indeks makanan Halal (SAMI).
Menurutnya, pasar membutuhkan ketepatan waktu dengan hasil pemikiran yang ground breaking dan inovatif dalam lingkungan yang kompleks dan bergerak cepat saat ini.
Dia merujuk dua sektor makanan dan gaya hidup halal seperti "kembar yang dipisahkan sejak lahir".
Saat ini, ada sangat sedikit konektivitas antara keuangan syariah dan makanan halal, dua segmen besar dari ekonomi Islam.
Menurut analisis DinarStandard, meskipun secara umum telah terjadi 340 transaksi investasi di segmen pangan dan pertanian dalam negara-negara OKI (antara 2011-2013) dengan nilai total transaksi pada $ 14.9 miliar.
Namun, hanya 17 transaksi yang berhubungan dengan perusahaan makanan Halal dilaporkan di dunia, di mana tujuh transaksi yang nilainya diungkapkan berjumlah $ 22 juta saja.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




