Laba Bersih Saratoga Melesat 383 Persen di Kuartal I

Rabu, 30 April 2014 | 21:10 WIB
FN
B
Penulis: Farid Nurfaizi | Editor: B1
Sandiaga Uno
Sandiaga Uno (Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)

Jakarta - PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) selama tiga bulan pertama 2014 berhasil meraih pendapatan sebesar Rp 1,6 triliun, atau naik 169 persen dibanding periode sama tahun 2013 sebesar Rp 583 miliar.

Sementara laba bersih perseroan melonjak 383 persen menjadi Rp 444 miliar dari Rp 92 miliar di kuartal I-2013

Kontribusi terbesar laba bersih berasal dari peningkatan kinerja perusahaan investee sebesar Rp 169 miliar dan laba kurs sebesar Rp 159 miliar. Ini dipicu penguatan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat di kuartal I 2014 ini.

Presiden Direktur PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, Sandiaga S. Uno menjelaskan, penguatan ekonomi yang terjadi di awal tahun 2014 telah berhasil mendorong kinerja perseroan tumbuh secara positif.

"Peningkatan kinerja selama kuartal I tahun ini menunjukkan bahwa Perseroan berhasil mengoptimalkan potensi pertumbuhan ekonomi yang terus menguat baik di domestik maupun global. Kami akan terus berusaha mempertahankan momentum positif ini untuk meraih target bisnis yang telah ditetapkan," jelas dia dalam siaran resminya di Jakarta, Rabu (30/4).

Pada kuartal I 2014, Bank Indonesia memperkirakan ekonomi nasional tumbuh sebesar 5,7 persen. Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global 2014 mencapai 3,2 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun 2013 sebesar 2,4 persen.

Chief Financial Officer PT Saratoga Investama Sedaya Tbk, Jerry Ngo menambahkan, perseroan telah mengalokasikan dana sekitar US$ 100 juta untuk investasi baru di sektor-sektor strategis termasuk sektor infrastruktur.

"Meningkatnya kebutuhan energi memberikan peluang investasi yang menarik. Kami sedang menjajaki investasi di proyek power plant mengingat permintaan listrik di Indonesia setiap tahun tumbuh rata-rata 8,4 persen," tambah Jerry.

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang rata-rata 6% per tahun, dibutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 5.700 Mega Watt (MW).

Menurut data Perusahaan Listrik Negara, selama periode 2013-2022 dibutuhkan tambahan pasokan listrik 60 Giga Watt (GW), jaringan transmisi 58.000 kilo meter sirkit (kms), dan gardu induk 134.000 Mega Volt Ampere (MVA).

Kinerja positif SRTG selama kuartal I 2014 secara keseluruhan tetap bertumpu pada tiga sektor bisnis utama perseroan yaitu konsumer, infrastruktur dan sumber daya alam.

Jerry menambahkan, sektor konsumen dan infrastruktur masih terus melanjutkan penguatan bisnis, sejalan dengan membaiknya perekonomian domestik. Sementara di sektor sumber daya alam, harga batubara yang mengalami penurunan selama 2 tahun terakhir, mulai menunjukkan sinyal penguatan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon