Pengamat: Capres Militer Berpotensi Bangkitkan Rezim Otoritarianisme
Kamis, 1 Mei 2014 | 23:34 WIB
Jakarta - Capres militer berpotensi membangun rezim otoritarianisme. Capres seperti itu memiliki pengalaman memegang komando saat menjalani tugas militer. Dikhawatirkan, capres seperti ini antikritik dan tidak dialogis.
Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima), Ray Rangkuti, menyatakan jika capres seperti itu terpilih maka bisa jadi membangun rezim militer. "Orang - orang militer direkrut menjadi menteri," kata Ray, Kamis (1/5).
Polri, jelas Ray, bisa jadi akan disatukan lagi ke TNI. Hal ini menyebabkan bangkitnya dunia militer seperti orde baru. Jadi, militer nantinya tidak hanya mengarah kepada pertahanan, tapi juga semua aspek.
Kemungkinan lainnya, rezim tidak membuka ruang dialog. Kalaupun ada, maka belum tentu didengarkan. Kekuasaan akan diabaikan. "Saya ini presiden, tidak boleh dibantah. Nah, kalau ini yang terucap, mengarah ke otoriter," ujarnya.
Selain itu, rezim otoriter dikhawatirkan mengancam kebebasan berekspresi yang selama ini dibangun. Pengkritik diculik, atau dihilangkan. Nasib kehidupannya kemudian tidak diketahui.
Pada hakikatnya, jelas Ray, siapapun yang memimpin nanti, harus tetap menjaga demokrasi yang selama ini dibangun.
Masyarakat harus tetap memberi masukan kepada pemerintah. Suasana dialogis seperti itu akan menjadikan negara semakin berkembang dengan cepat.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




