Terkait MERS, Belum Ada Pembatalan Umrah yang Signifikan

Jumat, 9 Mei 2014 | 02:08 WIB
B
YD
Penulis: BeritaSatu | Editor: YUD
Seorang pria Arab Saudi memakai masker saat berjalan menyusuri jalan utama di Riyadh. Korban wabah MERS terus bertambah, pemerintah Arab Saudi menemukan 25 kasus baru terkait virus mematikan tersebut.
Seorang pria Arab Saudi memakai masker saat berjalan menyusuri jalan utama di Riyadh. Korban wabah MERS terus bertambah, pemerintah Arab Saudi menemukan 25 kasus baru terkait virus mematikan tersebut. (AFP Photo/Fayez )

Medan - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia atau Asita menegaskan, meski kasus Middle East Respitatory Syndrome Coronavirus (MERS-COV) mengkhawatirkan, tetapi belum sampai menimbulkan pembatalan beribadah umrah dari Indonesia secara besar-besaran.

"Ada pembatalan atau penundaan dengan alasan khawatir MERS, tetapi jumlahnya belum signifikan," kata Ketua Koordinator Wilayah Sumatera DPP ASITA, M. Ali Siwoon, Kamis (8/5).

Asita sendiri, belum membicarakan khusus atau membuat imbauan apa pun terkait penanganan soal umrah pascaserangan virus MERS itu yang diduga juga sudah menimbulkan korban di Indonesia.

"Kami menunggu kebijakan pemerintah dan melihat situasi. Kami yakin para penyelenggara umrah juga sudah melakukan beberapa langkah untuk kelanggengan bisnis dan keamanan pembeli paket umrah itu di travelnya," kata Siwoon.

Pemilik travel umrah Siar di Medan, Nur Siar, menyebutkan, untuk Mei ini belum ada pembatalan keberangkatan umrah, tetapi pada Juni mendatang sudah ada.

"Meski ada pembatalan/penundaan, tetapi masih relatif belum besar atau 10-an persen. Itu pun baru terhitung untuk Juni," katanya.

Para pembeli paket yang memilih tetap berangkat itu mengaku memasrahkan diri kepada Allah untuk tetap berangkat dengan alasan tujuan keberangkatan untuk beribadah.

Sebelum kasus MERS, Siar rata-rata memberangkatkan umrah sekitar 300 orang per hari.

Dokter Spesialis Paru RSUP H Adam Malik Medan, Prof dr Luhur Soeroso SpP (K) mengatakan meski sudah ada warga Medan yang meninggal dunia berinisial KS (54) diduga penderita MERS usai umrah, tetapi belum bisa dinyatakan secara positif.

Dewasa ini, warga khususnya yang pulang umrah diminta melaporkan atau langsung ke rumah sakit apabila ada gejala seperti serangan MERS, antara lain flu dan sesak napas.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon