Jokowi Diminta Tidak Memilih Cawapres Kontroversial

Jumat, 16 Mei 2014 | 02:52 WIB
RW
FH
Penulis: Robertus Wardi | Editor: FER
Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Hamdi Muluk (kanan) menyampaikan pendapatnya disaksikan mantan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih, Adhie Massardi (tengah) dan pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro (kiri) saat diskusi menyoroti tulisan capres PDIP Joko Widodo di Jakarta, Kamis (15/5). Tulisan berjudul Revolusi Mental karya Joko Widodo merupakan gagasan membangun Indonesia yang dimulai dari segi mental bangsa.
Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Hamdi Muluk (kanan) menyampaikan pendapatnya disaksikan mantan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih, Adhie Massardi (tengah) dan pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro (kiri) saat diskusi menyoroti tulisan capres PDIP Joko Widodo di Jakarta, Kamis (15/5). Tulisan berjudul Revolusi Mental karya Joko Widodo merupakan gagasan membangun Indonesia yang dimulai dari segi mental bangsa. (Antara/Andika Wahyu)

Jakarta - Calon presiden (Capres) dari PDIP Joko Widodo (Jokowi) diminta tidak salah memilih calon wakil presiden (Cawapres) yang akan mendampinginya. Jokowi jangan sampai memilih Cawapres yang kontroversial dan penuh resisten dari masyarakat.

Peneliti senior dari LIPI, Siti Zuhro mengatakan, Jokowi harus memilih Cawapres yang mampu meningkatkan elektabilitasnya.

"Cawapres harus tepat, tidak timbulkan kontroversi dan resisten. Revolusi mental berawal dari ketepatan Jokowi memilih pendampingnya. Kalau Cawapres yang dipilih bermasalah maka gagasan Jokowi perlunya revolusi mental tidak pernah akan terjadi," kata dia dalam diskusi bertajuk Revolusi Mental Ala Jokowi, di Jakarta, Kamis (15/5) petang.

Siti meminta Jokowi agar menjauhkan politik uang pada Pilpres nanti. Sikap seperti itu sebagai bukti nyata atas gagasan revolusi mental dari Jokowi.

Menurutnya, praktik yang dipertontonkan para Caleg pada Pileg lalu harus menjadi pelajaran bagi Jokowi. Capres dari PDIP itu harus memutus praktik-praktik itu sebagai gerakan awal revolusi mental.

Dia mengusulkan agar revolusi mental yang digagas Jokowi itu bisa masuk dalam grand design reformasi birokrasi 2010-2024 yang sebagian sudah mulai dilaksanakan pemerintahan SBY. "Yang sekarang sudah tertata, harus dipertajam lagi," ujarnya.

Aktivis Adhie M Massardi juga berharap Jokowi tepat memilih cawapresnya. Menurutnya, jika cawapresnya secara mental diragukan, maka sejak awal revolusi mental ini diragukan. Apalagi jika anggota kabinetnya bermasalah.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon