KSPI Kutuk Rencana PHK Massal Sampoerna
Selasa, 20 Mei 2014 | 18:33 WIB
Jakarta - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengutuk pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh PT HM Sampoerna pada 31 Mei 2014 kepada sekitar 4.900 buruhnya.
"KSPI mengutuk keras rencana itu (PHK 4.900 buruh)," kata Presiden KSPI Said Iqbal saat dikonfirmasi dari Jakarta, Selasa (20/5).
Menurut Said, PHK itu tidak adil bagi para karyawan pabrik rokok terkemuka itu.
"Hal ini karena sudah puluhan tahun buruh rokok tersebut membesarkan perusahaan dan bahkan membuat keluarga HM Sampoerna menjadi kelompok orang terkaya di Indonesia." Dia juga menuntut agar keluarga HM Sampoerna ikut bertanggung jawab atas rencana PHK tersebut," jelasnya.
"Walaupun pabrik rokok ini sudah dijual ke perusahaan asing, maka keluarga HM Sampoerna wajib ikut bertanggung jawab agar PHK tersebut dibatalkan. Jangan-jangan PHK 4.900 buruh ini bagian perjanjian terselubung dengan pemilik baru setelah HM Sampoerna meraup keuntungan besar dari penjualan perusahaan tersebut.
Untuk itu, KSPI juga mendesak pemerintah agar turun tangan.
"Pemerintah harusnya bertindak tegas melalui anjuran Disnaker setempat. Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) juga wajib menolak permohonan PHK tersebut. Para pemangku kepentingan harus bisa meminta pengusaha agar kembali berunding dengan serikat pekerja perusahaan untuk mencari jalan keluar menghindari PHK," paparnya.
"Kami juga meminta Menakertrans serta Bupati untuk turun tangan langsung menghindari PHK ini, serta meminta Ketua Umum APINDO tidak asal-asalan menyetujui penutupan perusahaan tersebut."
KSPI akan merencanakan aksi solidaritas besar-besaran untuk menolak rencana PHK itu.
"KSPI siap menggelar aksi solidaritas besar-besaran menolak PHK tersebut dan akan melakukan kampanye internasional melawan kebijakan perusahaan asing tersebut." Sebagaimana diberitakan, Sampoerna menghentikan kegiatan produksi dua pabrik Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Jember dan Lumajang.
Penghentian operasi itu akan dilakukan pada akhir bulan ini dan sekitar 4.900 karyawan pabrik terancam kehilangan sumber penghasilannya.
Perusahaan itu rencananya akan memfokuskan produksi SKT di lima pabrik lainnya di Surabaya.
Pihak Sampoerna menerangkan penutupan pabrik itu harus ditempuh karena adanya penurunan pangsa pasar segmen SKT secara terus menerus hingga 23,1 persen di tahun 2013.
Angka itu terus menurun dari 30,4 persen di tahun 2009. Angka penurunan pada 2013 itu merupakan penurunan yang sangat besar dan tidak pernah terjadi sebelumnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




