Atasi Persoalan Bangsa, Pemimpin dan Elite Politik Harus Solid

Rabu, 28 Mei 2014 | 12:19 WIB
WM
B
Penulis: Willy Masaharu | Editor: B1
Lily Wahid (kiri) dan Effendi Choirie (kanan).
Lily Wahid (kiri) dan Effendi Choirie (kanan). (JG Photo/Afriadi Hikmal/Afriadi Hikmal)

Jakarta - Indonesia pada saat ini berada dalam masa praSodom Gomora. Jika para pemimpin bangsa dan elite politik tidak mampu mengatasi kekacauan yang sekarang jelas terlihat, Indonesia akan menuju kehancuran dan hanya menunggu belas kasihan Yang Mahakuasa untuk lepas dari masalah pelik ini.

Demikian diungkapkan tokoh perempuan Nahdlatul Ulama (NU) Lily Chodidjah Wahid, dalam pertemuannya dengan Gerakan Ibu Pertiwi Memanggil (IRMA), yang diketuai Mariska Lubis, pengamat sosial politik dan penulis buku "Wahai Pemimpin Bangsa !!! Belajar Dari Sex Dong !!!", di Jakarta, Selasa (27/5).

Hadir dalam acara tersebut Koordinator IRMA Jakarta Sylvia Rosa (Putri Aceh 2012-2013), Mardiana (pengusaha), dr Poppy Diah (pegiat kegiatan tuna netra, penulis buku "Melihat Dunia Tanpa Mata"), dan pegiat sosial Yunita

Lily menjelaskan, situasi di Indonesia adalah lukisan kondisi sebelum kehancuran Sodom dan Gomora atau pra Sodom-Gomora, dua kota yang dikutuk oleh Tuhan karena dosa tak terampuni yang diperbuat masyarakat dua kota tersebut.

Indikasinya, menurut adik Gus Dur itu, munculnya aib besar masyarakat seperti, sodomi, fedofilia, kekerasan anak kecil, pemerkosaan, dan kekerasan dalam keluarga. Ini adalah cerminan terhadap apa yang terjadi pada negara, bangsa, dan pemimpin bangsa.

"Bangsa ini sedang sakit, karena para pemimpinnya juga sakit. Ketika bangsa ini sedang dibukakan matanya atas hancurnya budaya, akhlak, dan moral masyarakatnya, para elite politik dan pemimpin bangsa Indonesia sibuk sendiri dengan koalisi, pilpres. Sementara media masa yang diharapkan sebagai kontrol sosial, tidak melihat arti penting kehancuran masyarakat, malah meliput kampanye pilpres. Kasus fedofilia di JIS dan lain tempat tak terperhatikan lagi, karena isu pilpres lebih hot daripada isu anak-anak kita. Mana naluri dan hati para wartawan yang dikenal peka itu. Yang bisa merasakan adalah kaum perempuan," ujar Lily.

Lily Wahid menunjuk kasus yang menimpa balita yang tak terlindungi merupakan indikasi jelas bahwa negara tidak melindungi orang kecil, anak-anak dan perempuan. Krimininalisasi terhadap anak-anak juga merupakan kasus gunung es, dan sekarang mulai muncul dimana-mana soal pencabulan terhadap anak atau incest. Kondisi seperti ini, menurut mantan anggota DPR dari PKB ini, antara lain karena himpitan ekonomi yang tidak terpecahkan.

Indikasi yang lain, lanjutnya, munculnya tanda-tanda alam yang diberikan Sang Pencipta kepada bangsa Indonesia. Tanda-tanda alam itu berupa meningkatnya kegiatan vulkanik gunung-gunung berapi di Indonesia yang sudah dianggap tidur. Sementara yang sudah aktif meletus secara bergantian.

"Bagaimana mungkin, Gunung Sinabung yang dalam waktu 400 tahun tidak aktif, tiba-tiba meletus tanpa henti-hentinya. Meletusnya Gunung Sinabung kemudian diikuti gunung-gunung yang lain seperti Slamet, Bromo, Ijen dan lain-lain," katanya.

Mantan anggota DPR ini menegaskan, pemerintah yang sakit akan terlihat dari kesehatan masyarakatnya. Jika dalam masyarakat ada fenomena baru yang negatif dan meresahkan, itu tidak lain cerminan dari pemerintahan Bangsa yang sakit juga.

Lily Wahid juga mendukung gagasan IRMA, yang meminta pemerintah untuk memperhatikan dua keprihatinan besar perempuan Indonesia. Menurut IRMA ada dua keprihatinan besar yang luput dari perhatian para pemimpin bangsa, yakni melonjaknya harga kebutuhan hidup dan kekerasan (seksual) terhadap anak.

"Kami hanya ingin mengingatkan pemerintah bahwa ada dua kondisi yang sangat meresahkan perempuan Indonesia pada saat ini, yakni tingginya harga kebutuhan bahan pokok dan kekerasan (seksual) terhadap anak. Kondisi ini malah tidak disebut-sebut dalam program kampanye para capres. Yang bicara sekarang adalah perempuan dan bukannya para pengusaha atau pedagang," ujar Mariska.

Menurut Mariska, ini hanya persoalan bom waktu dan masanya akan tiba, di mana generasi mendatang Indonesia akan balas dendam karena fedofilia. Kalau korban feedofilia balas dendam dan demikian seterusnya, akan muncul gelombang besar fedofilia di Indonesia. Itu artinya, tidak ada tempat yang aman bagi anak-anak dan dalam kurun waktu 15 tahun mendatang, generasi Indonesia akan hancur.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon