Persaingan Dunia Mode Diprediksi Semakin Berat Saat Pasar Bebas ASEAN

Selasa, 10 Juni 2014 | 19:59 WIB
KT
B
Penulis: Kharina Triananda | Editor: B1
Koleksi busana muslim yang dihadirkan di Al Madina, Pasaraya Blok M.
Koleksi busana muslim yang dihadirkan di Al Madina, Pasaraya Blok M. (BeritaSatu.com/Kharina Triananda)

Jakarta - Desainer senior Buyung Rais mengaku khawatir dengan adanya Asean Free Trade Area (AFTA) pada 2015 mendatang. Menurutnya, saat ini pakaian ready to wear buatan lokal sudah tidak laku bila harganya dikategorikan mahal oleh konsumen.

"[Indonesia] sudah kalah dengan RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Pakaian ready to wear mereka sudah banyak ditemui di Indonesia dengan harga jauh lebih murah. Jadi, merek dan desainer lokal tidak akan laku bila dijual dengan harga mahal," imbuh Buyung pada peluncuran Al Madina di Pasaraya Blok M, Jakarta, Selasa (10/6).

Ditambahkannya, apalagi bila AFTA 2015 mendatang, pengusaha asing akan dengan leluasa masuk ke perajin lokal di daerah-daerah. "Persaingan akan semakin berat. Makanya saya dan teman-teman berinisiatif membuat Forum Desainer Etnik Indonesia," katanya.

Buyung belum mau membocorkan kapan Forum Desainer Etnik Indonesia akan diresmikan di publik. Namun, saat ini mereka sudah menyusun beberapa rencana untuk mempertahankan kelangsungan dunia mode Indonesia.

"Calon ketua adalah Thomas Sigar, kemudian anggotanya ada saya, Samuel Wattimena, Ida Royani, Dian Pelangi, dan masih banyak lagi. Totalnya ada 60 desainer dari hampir seluruh Indonesia," imbuh Buyung.

Buyung mengaku melalui karya-karyanya dan juga Forum Desainer Etnik Indonesia, ia bisa memberikan sesuatu untuk generasi muda pada khususnya. "Kami ingin menuntun mereka (generasi muda) untuk menentukan pasar dan menemukan jati diri," kata Buyung.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon