Teknologi Pembangkit
Energi Terbarukan Cocok Untuk UKM
Minggu, 27 November 2011 | 14:46 WIB
Energi matahari yang jatuh ke bumi besarnya 15.000 kali dari yang dibutuhkan manusia
Akademi Teknik Mesin Indonesia (ATMI) dan Sunvention, menjalin kerja sama pengembangan energi terbarukan, menggunakan tenaga surya untuk diaplikasikan di daerah-daerah yang membutuhkan.
"Kami akan kembangan energi surya di kawasan timur Indonesia yang memang kaya matahari, namun belum terjangkau listrik," kata Ketua Yayasan Karya ATMI, BB Triatmoko, SJ di Jakarta, Minggu.
"Pengembangan energi terbarukan dan ramah lingkungan sesuai dengan program ATMI di bidang pengolahan produksi pangan, sumber energi, air dan perumahan," lanjut Triatmoko.
Menurut Triatmoko pengembangan energi surya ATMI saat ini memasuki tahap pembuatan prototype, setelah menyelesaikan proses riset dan pengembangan.
"Pembuatan prototype merupakan tahapan sebelum produksi masal, terkait hal itu pihaknya telah menggandeng sejumlah perusahaan besar untuk mengembangkan proyek ini," kata Triatmoko.
Sedangkan Chief Executive Officer (CEO) Sunvention, Prof Dr Jurgen Kleinwachter mengatakan, pemerintah Jerman saat ini menutup dan menghentikan pembangkit energi tidak ramah lingkungan, termasuk nuklir serta menggantikan dengan tenaga angin, matahari, dan air.
Kleinwachter mengatakan, Sunvention dalam kerja sama dengan ATMI sengaja memilih teknologi pembangkit, yang cocok bagi usaha kecil dan menengah dengan harapan masyarakat di daerah terpencil mudah untuk merawat dan mengoperasikan.
Kleinwatcher mengatakan, Sunvention merupakan perusahaan Jerman yang bergerak dibidang solusi energi terbarukan seperti pembangkit bertenaga sinar matahari yang telah diaplikasikan di berbagai negara.
Kleinwatcher membantah anggapan kalau pembangkit tenaga surya mahal, kenyataannya hanya tahap awal saja investasinya mahal selanjutnya pengoperasiannya lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dia mengatakan, pemanfaatan energi angin dan matahari di Jerman sudah berlangsung sejak 30 tahun lalu, ketika itu biayanya memang 50 kali dari pembangkit bertenaga minyak bumi, namun saat ini biayanya sudah setara.
Tenaga Matahari
Teknologi energi tenaga matahari yang dikembangkan oleh Sunvention dan ATMI ini berbeda dengan yang selama ini dikenal sebagai Photovoltaic atau yang populer disebut Solar Cell.
Teknologi baru ini menggunakan theromodinamika yang jauh lebih efisien dari Solar Cell, selain itu tidak diperlukan penyimpanan baterei yang mahal seperti kendala pada Solar Cell.
"Kalau negara Eropa kekurangan sumber energi matahari sementara di Indonesia melimpah, dimana potensi energi matahari di Indonesia adalah 2,5 kali di Eropa. Energi matahari yang jatuh ke bumi secara umum itu besarnya 15.000 kali yang dibutuhkan oleh umat manusia," ujar dia.
Hanya saja, kata Kleinwatcher yang didampingi oleh Franz Fricker, konsultan bisnis dan manajemen Sunvention, energi matahari yang melimpah di Indonesia tidak dimanfaatkan dengan optimal padahal kalau disetarakan dengan harga minyak, 1 kwh itu, setara dengan konsumsi 1 liter minyak, padahal setiap meter persegi energi photon matahari per tahun itu sama dengan 200 liter minyak.
Triatmoko mengatakan, salah satu alat yang dikembangkan ATMI CIkarang dan Sunvention saat ini adalah mesin yang menggunakan teknologi reverse sterling engine, yakni mesin yang mampu merubah tenaga panas matahari menjadi tenaga pendingin yang bisa mencapai minus 80 derajat celcius.
Mesin ini dapat dipergunakan di daerah pesisir sebagai alat untuk menghasilkan es pendingin hasil tangkapan nelayan, selain itu dapat menghasilkan tenaga listrik sampai 5.000 watt.
Air yang dibekukan menjadi es, ketika mencair akan menghasilkan air tawar yang amat dibutuhkan di daerah pesisir pantai.
Proses desalinasi ini akan menjadi proses desalinasi yang murah karena berbahan bakar udara dan panas matahari.
"Teknologi ini memungkinkan dibangun ruang pendingin yang mampu menghasilkan suhu di bawah 80 derajat celcius sangat cocok untuk menyimpan hasil tangkapan nelayan, selain itu juga dapat dipergunakan untuk kebutuhan listrik rumah tangga, serta menghasilkan air tawar," ujar dia.
Triatmoko mengatakan, saat ini sudah ada sejumlah perusahaan yang mendukung rencana tersebut sehingga ditargetkan peralatan ini akan diluncurkan Maret - April 2002.
Proyek contoh ini akan dibangun di Maumere, Sumba, serta beberapa tempat di Timur Indonesia.
Akademi Teknik Mesin Indonesia (ATMI) dan Sunvention, menjalin kerja sama pengembangan energi terbarukan, menggunakan tenaga surya untuk diaplikasikan di daerah-daerah yang membutuhkan.
"Kami akan kembangan energi surya di kawasan timur Indonesia yang memang kaya matahari, namun belum terjangkau listrik," kata Ketua Yayasan Karya ATMI, BB Triatmoko, SJ di Jakarta, Minggu.
"Pengembangan energi terbarukan dan ramah lingkungan sesuai dengan program ATMI di bidang pengolahan produksi pangan, sumber energi, air dan perumahan," lanjut Triatmoko.
Menurut Triatmoko pengembangan energi surya ATMI saat ini memasuki tahap pembuatan prototype, setelah menyelesaikan proses riset dan pengembangan.
"Pembuatan prototype merupakan tahapan sebelum produksi masal, terkait hal itu pihaknya telah menggandeng sejumlah perusahaan besar untuk mengembangkan proyek ini," kata Triatmoko.
Sedangkan Chief Executive Officer (CEO) Sunvention, Prof Dr Jurgen Kleinwachter mengatakan, pemerintah Jerman saat ini menutup dan menghentikan pembangkit energi tidak ramah lingkungan, termasuk nuklir serta menggantikan dengan tenaga angin, matahari, dan air.
Kleinwachter mengatakan, Sunvention dalam kerja sama dengan ATMI sengaja memilih teknologi pembangkit, yang cocok bagi usaha kecil dan menengah dengan harapan masyarakat di daerah terpencil mudah untuk merawat dan mengoperasikan.
Kleinwatcher mengatakan, Sunvention merupakan perusahaan Jerman yang bergerak dibidang solusi energi terbarukan seperti pembangkit bertenaga sinar matahari yang telah diaplikasikan di berbagai negara.
Kleinwatcher membantah anggapan kalau pembangkit tenaga surya mahal, kenyataannya hanya tahap awal saja investasinya mahal selanjutnya pengoperasiannya lebih efisien dan ramah lingkungan.
Dia mengatakan, pemanfaatan energi angin dan matahari di Jerman sudah berlangsung sejak 30 tahun lalu, ketika itu biayanya memang 50 kali dari pembangkit bertenaga minyak bumi, namun saat ini biayanya sudah setara.
Tenaga Matahari
Teknologi energi tenaga matahari yang dikembangkan oleh Sunvention dan ATMI ini berbeda dengan yang selama ini dikenal sebagai Photovoltaic atau yang populer disebut Solar Cell.
Teknologi baru ini menggunakan theromodinamika yang jauh lebih efisien dari Solar Cell, selain itu tidak diperlukan penyimpanan baterei yang mahal seperti kendala pada Solar Cell.
"Kalau negara Eropa kekurangan sumber energi matahari sementara di Indonesia melimpah, dimana potensi energi matahari di Indonesia adalah 2,5 kali di Eropa. Energi matahari yang jatuh ke bumi secara umum itu besarnya 15.000 kali yang dibutuhkan oleh umat manusia," ujar dia.
Hanya saja, kata Kleinwatcher yang didampingi oleh Franz Fricker, konsultan bisnis dan manajemen Sunvention, energi matahari yang melimpah di Indonesia tidak dimanfaatkan dengan optimal padahal kalau disetarakan dengan harga minyak, 1 kwh itu, setara dengan konsumsi 1 liter minyak, padahal setiap meter persegi energi photon matahari per tahun itu sama dengan 200 liter minyak.
Triatmoko mengatakan, salah satu alat yang dikembangkan ATMI CIkarang dan Sunvention saat ini adalah mesin yang menggunakan teknologi reverse sterling engine, yakni mesin yang mampu merubah tenaga panas matahari menjadi tenaga pendingin yang bisa mencapai minus 80 derajat celcius.
Mesin ini dapat dipergunakan di daerah pesisir sebagai alat untuk menghasilkan es pendingin hasil tangkapan nelayan, selain itu dapat menghasilkan tenaga listrik sampai 5.000 watt.
Air yang dibekukan menjadi es, ketika mencair akan menghasilkan air tawar yang amat dibutuhkan di daerah pesisir pantai.
Proses desalinasi ini akan menjadi proses desalinasi yang murah karena berbahan bakar udara dan panas matahari.
"Teknologi ini memungkinkan dibangun ruang pendingin yang mampu menghasilkan suhu di bawah 80 derajat celcius sangat cocok untuk menyimpan hasil tangkapan nelayan, selain itu juga dapat dipergunakan untuk kebutuhan listrik rumah tangga, serta menghasilkan air tawar," ujar dia.
Triatmoko mengatakan, saat ini sudah ada sejumlah perusahaan yang mendukung rencana tersebut sehingga ditargetkan peralatan ini akan diluncurkan Maret - April 2002.
Proyek contoh ini akan dibangun di Maumere, Sumba, serta beberapa tempat di Timur Indonesia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




