Proyeksi Deutsche Bank Soal Prabowo Dinilai Tidak Akurat

Kamis, 12 Juni 2014 | 21:10 WIB
YS
FB
Penulis: Yeremia Sukoyo | Editor: FMB
Refleksi ratusan pendukung dari kacamata Capres nomor urut satu Prabowo Subianto saat kampanye di Benteng Kuto Besak, Palembang, Sumsel, Kamis (12/6). Antara/Prasetyo Utomo
Refleksi ratusan pendukung dari kacamata Capres nomor urut satu Prabowo Subianto saat kampanye di Benteng Kuto Besak, Palembang, Sumsel, Kamis (12/6). Antara/Prasetyo Utomo (Antara/Prasetyo Utomo)

Jakarta - Proyeksi bank asal Jerman, Deutsche Bank, yang menyatakan investor asing akan menjual asetnya di Indonesia jika Prabowo Subianto menjadi Presiden, dinilai terlalu berlebihan.

"Lebay jika sebuah lembaga menilai perekonomian Indonesia seperti itu," Kata Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambadha, ‎dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis (12/6).

Reza menyatakan, outlook tersebut nampak tendensius dan kurang kuat jika dijadikan pertimbangan sebagai outlook. Menurutnya untuk menilai kepemimpinan selanjutnya adalah dengan melihat langsung ke program.

"Lihat apa-apa saja programnya, dan mana yang lebih aplikatif untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia," ucapnya.

Dikatakan, aplikatif, bukan hanya bagus di atas kertas. Namun bisa dilaksanakan dengan baik. Program bisa menggambarkan bagaimana kepemimpinan calon Presiden kelak.

Secara ketokohan, Reza mengatakan saat ini Prabowo mendapat serangan bertubi-tubi yang berusaha menjatuhkan.

Dijelaskan, sejatinya serangan-serangan tersebut bisa dimanfaatkan oleh tim Prabowo untuk meluruskan semuannya. Agar tidak ada lagi salah kaprah yang terjadi di masyarakat.

"Serangan yang bertubi-tubi ini adalah kesempatan emas bagi Prabowo untuk menunjukan hal-hal yang selama ini ditudingkan kearahnya," kata Reza.

Reza mengatakan saat ini fundamental ekonomi Indonesia sangat kuat. Dengan sumber daya manusia yang besar. "Ekonomi kita ditopang kosumsi yang kuat karena SDM di Indonesia sangat besar," kata dia.

Selain itu Indonesia memiliki sumber daya alam melimpah. Hanya, sampai saat ini SDA tersebut lebih banyak dinikmati asing.

"Lihat saja kita punya SDA yang luar biasa, timah,emas dan lain sebagainya. Lihat siapa yang menikmati, apakah masyarakat lokal menikmati? Sedikit sekali untuk mereka" kata Reza.

Saat ini daerah penghasil SDA hanya mendapatkan royalti. Royalti itu pun ke pemerintah pusat terlebih dahulu. Baru kemudian pusat memberi bagian ke daerah.

"Kalau saja SDA tersebut bisa dikelola oleh masyarakat lokal, maka akan jauh lebih bermanfaat bagi daerah tersebut," kata Reza. 

Seperti diketahui pasar bereaksi tajam ketika pesaing Prabowo mengumumkan pencalonannya sebagai capres. Indeks harga saham gabungan (IHSG) naik lebih dari 3% pada Jumat (14/3) ketika Joko Widodo mengumumkan pencapresannya. Namun, IHSG juga langsung anjlok 3 persen pada 10 April 2014, ketika PDI Perjuangan menang dengan tidak meyakinkan di pemilu legislatif.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon