Kasus Penculikan Aktivis Ancam Elektabilitas Prabowo

Minggu, 15 Juni 2014 | 17:33 WIB
ES
YD
Penulis: Erwin C Sihombing | Editor: YUD
Capres nomor urut satu Prabowo Subianto dipanggul untuk menyapa para pendukung saat kampanye di Benteng Kuto Besak, Palembang, Sumsel, Kamis (12/6). Antara/Prasetyo Utomo
Capres nomor urut satu Prabowo Subianto dipanggul untuk menyapa para pendukung saat kampanye di Benteng Kuto Besak, Palembang, Sumsel, Kamis (12/6). Antara/Prasetyo Utomo (Antara/Prasetyo Utomo)

Jakarta - Kasus penculikan aktivis 1997/1998 mengancam elektabilitas Prabowo. Survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) menyimpulkan, 32,8% pemilih telah mendengar isu Prabowo terlibat dalam penculikan. LSI menyebut kasus penculikan tersebut dengan 'aktivis gate'.

"Dengan hasil survei yang menunjukan kuatnya dampak ‘aktivis gate’ terhadap elektabilitas Prabowo, LSI memprediksi jika yang mendengar itu meluas lagi menjadi 50%, apalagi 70%, apalagi 90%, itu akan menjadi lonceng kematian bagi elektabilitas Prabowo," kata Peneliti LSI Adjie Alfaraby, di Jakarta, Minggu (15/6).

LSI menyimpulkan, pada Juni 2014, 51,5% publik percaya kalau Prabowo terlibat dalam kasus HAM 1997/1998. Hanya 37,6% yang tidak percaya kalau Prabowo terlibat. Dampaknya adalah 56,8% publik yang mendengar kasus keterlibatan Prabowo bakal mempertimbangkan niatnya dalam mendukung Prabowo.

Hanya 34,3% yang menyatakan tidak terpengaruh dan mantap memilih Prabowo.

Menurutnya, dengan sisa waktu pilpres tinggal 24 hari lagi maka, kubu Prabowo harus mampu menemukan cara yang elegan untuk menghentikan pengaruh dari isu penculikan aktivis. Jika kubu Prabowo salah merespons, bukan tidak mungkin hal itu menjadi blunder yang menambah parah turunnya elektabilitas Prabowo.

"Respon yang salah, emosional dan menutupi justru bisa menjadi blunder yang bisa menambah efek kerusakan elektabilitas Prabowo. Kecanggihan kedua belah pihak dalam merespon pro dan kontra akan ikut menentukan apakah akhirnya Prabowo-Hatta bisa menyalip Jokowi-JK, atau justru semakin tertinggal di belakang. Rakyatlah yang menentukan," ujarnya.

LSI mengadakan survei yang spesifik mengukur pengaruh dari maraknya isu pelanggaran HAM yang melibatkan Prabowo. Survei dilakukan pada tanggal 1- 9 Juni 2014. Survei menggunakan 2400 responden di seluruh provinsi di Indonesia. Metode penarikan sampel adalah multistage random sampling dengan margin of error survei ini sebesar 2%.

Hasil survei menunjukkan, di tengah menguatnya elektabilitas Prabowo yang hanya selisih 6% dari Jokowi, isu HAM yang terus berhembus pascabocornya dokumen pemecatan Prabowo dari TNI atas rekomendasi Dewan Kehormatan Perwira (DKP) berpotensi menurunkan elektabilitas mantan Danjen Kopassus itu.

Efek isu penculikan sangat berpengaruh terhadap pemilih laki-laki disbanding perempuan. Pemilih laki-laki yang percaya bahwa Prabowo terlibat sebesar 55.4 %, sementara pemilih perempuan yang percaya 44.4 %.

Pemilih di kota lebih terpengaruh oleh isu itu dibanding pemilih di desa. Pemilih di kota yang percaya Prabowo terlibat aktivis gate sebesar 56.30 %. Sementara pemilih di desa yang percaya sebesar 48.20 %. Segmen etnik terbesar Jawa dan Sunda terpengaruh oleh aktivis gate bagi yg pernah mendengarnya.

Sebesar 52.4 % pemilih beretnis Jawa menyatakan percaya Prabowo terlibat aktivis gate. Sementara pemilih beretnis Sunda yang menyatakan percaya Prabowo terlibat sebesar 50.0 %.

"Di kalangan pemilih partai pendukung Jokowi, yang mengklaim terpengaruh oleh isu itu,jika pernah mendengarnya, di atas 50%. Sebaliknya di kalangan pemilih partai koalisi Prabowo yang merasa terpengaruh kurang dari 50 %," katanya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon