Timses Sebut Dukungan Jokowi-JK pada Kemerdekaan Palestina Bukti Ketegasan Diplomasi
Selasa, 24 Juni 2014 | 13:36 WIB
Jakarta - Anggota Tim Pemenangan pasangan nomor urut dua Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) Ahmad Basarah menilai pernyataan Jokowi yang menegaskan kembali dukungannya terhadap kemerdekaan Palestina bukan bentuk pencitraan.
Dukungan itu merupakaan sikap politik luar negeri dengan dunia internasional yang akan diterapkan Jokowi kelak jika terpilih menjadi presiden.
"Sikap mendukung kemerdekaan Palestina juga bermaksud untuk mengkritik ambivalensi sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang akan dilanjukan Prabowo jika terpilih sebagai presiden, yakni yang mengatakan punya sikap dan prinsip politik luar negeri one thousand friends and zero enemy," kata Basarah, yang juga Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan di Jakarta, Selasa (24/6).
Basarah mengatakan, sikap Prabowo dan juga pemerintahan SBY tidak mencerminkan maksud pembukaan UUD 1945 yang mengatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan.
"Frasa dalam pembukaan UUD 1945 tersebut mewajibkan kita untuk bersikap aktif termasuk ikut membela negara-negara yang dijajah oleh negara lain," ujarnya.
Hal tersebut telah dipraktikkan Presiden Soekarno melalui penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Bandung. Jadi sangat aneh kalau Prabowo ingin mendukung kemerdekaan bangsa Palestina, tapi tidak berani bersikap tegas terhadap pemerintah Israel yang menjajah Palestina.
"Prinsip one thousand friends and zero enemy tidak bisa dipraktikkan dalam kasus membela bangsa Palestina," ungkapnya.
Dengan demikian, lanjut Basarah, sangat jelas bahwa Jokowi mempunyai konsistensi dalam memahami politik luar negeri Indonesia sebagaimana maksud UUD 1945.
Di sisi lain, pernyataan Jokowi mencerminkan Gubernur DKI non aktif ini memahami apa yang disebut Bung Karno dalam pidato 1 Juni sebagai Sila Internasionalisme (Perikemanusiaan) yang prinsipnya menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia berada dalam lingkungan kekeluargaan bangsa-bangsa berdasar nilai-nilai kemanusiaan.
Tidak hanya itu, lanjut Basarah, Jokowi juga menunjukkan pembelaan terhadap Palestina sebagai wujud apa yang dikutip Bung Karno dari Gandhi bahwa "My Nationalism is Humanity". Nasionalisme yang diinginkan adalah suatu nasionalisme yang mengorganisir bangsa-bangsa untuk hidup sederajat dan berdampingan dengan bangsa-bangsa lain. "Ini suatu nasionalisme yang hidup dalam taman sarinya internasionalisme," imbuh Basarah.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Terseret dalam Perang dengan Israel, Lebanon Adukan Iran kepada PBB




