Game Kekerasan Mengubah Otak
Selasa, 29 November 2011 | 15:16 WIB
Setelah satu pekan bermain game kekerasan didapati perubahan pada beberapa bagian otak
Video game mungkin tidak akan membuat otak Anda membusuk tetapi bisa mengubah cara Anda berpikir, demikian hasil temuan dari sebuah penelitian yang digelar oleh Radiological Society of North America.
Penelitian yang melibatkan 22 pria dewasa dan memakan waktu dua pekan itu menemukan bahwa memainkan video game yang berisi kekerasan bisa mengubah bagian otak tertentu yang berhubungan dengan kendali emosi dan fungsi kognitif.
Dalam penelitian itu, responden yang terdiri dari pria berusia 18 hingga 29 tahun, dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk memainkan game tembak-tembakan selama sepuluh jam di rumah mereka selama satu pekan.
Sebaliknya kelompok kedua diminta untuk tidak memainkan game kekerasan. Dua kelompok itu kemudian diberi waktu satu pekan lagi untuk beristirahat, tanpa bermain game.
Ke 22 orang itu menjalani pemindaian otak menggunakan fMRI (functional magnetic resonance imaging) sebelum dan setelah eksperimen itu.
Selama proses fMRI mereka juga diminta untuk menjalani tes terkait kemampuan emosional dan kognitif, semacam permainan yang melibatkan warna dan kata-kata yang berasosiasi dengan kekerasan.
Dari hasil pemindaian terhadap kelompok pertama, setelah satu pekan bermain game kekerasan didapati perubahan pada beberapa bagian otak.
Pada inferior lobus frontal kiri, misalnya menjadi kurang aktif ketika mereka terlibat dalam permainan yang berkaitan dengan emosi. Sementara ketika memasuki permainan berhitung bagian otak pada korteks anterior cingulate juga tampak kurang aktif
Akan tetapi perubahan itu berkurang ketika mereka menjalani pemindaian di pekan kedua.
"Kedua wilayah di otak ini sangat penting untuk mengendalikan emosi dan prilaku agresif manusia," kata Yang Wang, seorang pengajar di Department of Radiology and Imaging Sciences at Indiana University School of Medicine in Indianapolis, Amerika Serikat.
Meski demikian beberapa kritik mengutarakan bahwa responden yang digunakan dalam riset itu terlalu sedikit, sehingga validitasnya masih dipertanyakan.
Video game mungkin tidak akan membuat otak Anda membusuk tetapi bisa mengubah cara Anda berpikir, demikian hasil temuan dari sebuah penelitian yang digelar oleh Radiological Society of North America.
Penelitian yang melibatkan 22 pria dewasa dan memakan waktu dua pekan itu menemukan bahwa memainkan video game yang berisi kekerasan bisa mengubah bagian otak tertentu yang berhubungan dengan kendali emosi dan fungsi kognitif.
Dalam penelitian itu, responden yang terdiri dari pria berusia 18 hingga 29 tahun, dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk memainkan game tembak-tembakan selama sepuluh jam di rumah mereka selama satu pekan.
Sebaliknya kelompok kedua diminta untuk tidak memainkan game kekerasan. Dua kelompok itu kemudian diberi waktu satu pekan lagi untuk beristirahat, tanpa bermain game.
Ke 22 orang itu menjalani pemindaian otak menggunakan fMRI (functional magnetic resonance imaging) sebelum dan setelah eksperimen itu.
Selama proses fMRI mereka juga diminta untuk menjalani tes terkait kemampuan emosional dan kognitif, semacam permainan yang melibatkan warna dan kata-kata yang berasosiasi dengan kekerasan.
Dari hasil pemindaian terhadap kelompok pertama, setelah satu pekan bermain game kekerasan didapati perubahan pada beberapa bagian otak.
Pada inferior lobus frontal kiri, misalnya menjadi kurang aktif ketika mereka terlibat dalam permainan yang berkaitan dengan emosi. Sementara ketika memasuki permainan berhitung bagian otak pada korteks anterior cingulate juga tampak kurang aktif
Akan tetapi perubahan itu berkurang ketika mereka menjalani pemindaian di pekan kedua.
"Kedua wilayah di otak ini sangat penting untuk mengendalikan emosi dan prilaku agresif manusia," kata Yang Wang, seorang pengajar di Department of Radiology and Imaging Sciences at Indiana University School of Medicine in Indianapolis, Amerika Serikat.
Meski demikian beberapa kritik mengutarakan bahwa responden yang digunakan dalam riset itu terlalu sedikit, sehingga validitasnya masih dipertanyakan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?
INTERNASIONAL
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
PM China Li Qiang Temui Sederet CEO AS, Siapa Saja?




